
Di sekolah Rayka terus memutar pandangannya mencari teman temannya yang belum juga kembali padahal sekolah sudah sepi.
"Pads bolos kemana tuh manusia?" batinya yang langsung mengeluarkan handphonenya dan menghubungi Devan.
"Halo, kenapa?" terdengar suara Devan dari balik telepon.
"Loe pada ke mana? enggak di ambil motor loe?" tanya Rayka yang melihat motor teman temannya masih berada di perkiraan sekolah.
"Nih udah mau pulang,"
"Oh gitu, yaudah gue balik duluan deh."
"Yaudah loe balik aja, gue enggak perduli."
"Sialan loe," umpat Rayka yang langsung menutup teleponnya.
"Rayka, belum pulang?" terdengar suara wanita memanggilnya.
Rayka menoleh, tampak seorang wanita muda cantik dan anggun berdiri di hadapannya dengan senyum ramahnya.
"Oh, ini baru mau pulang bu," jawab Rayka sopan pada sosok guru muda yang di kaguminya.
"Oh gitu, yaudah hati hati ya." kembali tersenyum ramah dan berlalu pergi.
"Ya allah, nikmat mana yang kau dustakan.. bu Melisa begitu indah." batin Rayka kagum.
Sore itu Rayyan dan teman temannya kembali kr sekolah untuk mengambil motor mereka masing masing yang masih berada di sekolah.
"Ganteng, gue nebeng ya tadi gue di anter bokap gue." pinta Reska saat Rayyan hendak menaiki motornya.
"Oh yaudah, kayaknya mau hujan nih." Rayyan memutar pandangannya pada langit yang terlihat sangat mendung sore itu. Reska pun bergegas menaiki motor Rayyan dan pergi meninggalkan sekolah, Namun tiba tiba hujan turun di tengah tengah perjalanan mereka.
"Hujan nih, kita neduh dulu ya." teriak Rayyan.
"Yaudah," balas Reska tak kalah kencang.
Rayka akhirnya memberhentikan motornya di sebuah halte dan hanya ada mereka berdua.
"Neduh di sini dulu deh." ucap Rayyan yang langsung duduk.
__ADS_1
"Oh, iya." Reska pun duduk.
Mereka hanya saling terdiam tidak ada percakapan seperti biasanya. Rayyan melirik Reska yang meremas tangannya seperti sedang kedinginan.
"Loe enggak bawa jaket emang?" tanyanya yang juga tidak melihat Reska mengenakan jaket.
"Enggak,"
"Jaket gue basah juga nih." Rayyan membuka jaketnya yang basah terkena hujan di jalan.
"Oh," entah mengapa suasana membuat Reska merasa canggung
Rayyan mencoba memegang tangan Reska yang berada sampingnya dan membuat Reska sedikit terkejut.
"Tangan loe dingin banget kaya mayat?" menggengam lembut tangan Reska.
Reska terdiam dengan perasaan yang tak karuan, karena selama berteman sejak bayi baru kali ini Rayyan memegang tangannya.
"Aduh jantung gue kenapa nih? kaya habis naik rollercoaster?" batin Reska bingung.
Rayyan memandangnya yang hanya terdiam membisu. Dengan cepat Reska melepaskan tangannya.
"Oh, ini.. gue lagi pakai pemutih wajah kalau kedinginan jadi merah gini." sahutnya mencari alasan.
Rayyan tertawa.
"Em, kayaknya gue minta jemput bokap gue aja deh." hendak mengambil handphone di tasnya namun Rayyan menahannya.
"Enggak usah, udah reda tuh hujannya, yuk pulang." ajak Rayyan.
Reska pun mengangguk dan bergegas kembali menaiki motor Rayyan menuju rumahnya . Tak lama mereka sampai di rumah Reska dan Reska bergegas turun.
"Makasih ya." ucap Reska yang langsung bergegas masuk ke dalam.
"Kenapa tuh anak? aneh banget tingkahnya? padahal biasanya kecentilan gitu." gumam Rayyan yang tampak bingung dan meninggalkan rumah Reska.
Reska bergegas ke kamarnya dan merebahkan tubuhnya di ranjang seraya terus memegangi dadanya.
"Jantung gue kenapa nih? berdetaknya ko makin cepet aja, kaya habis lari maraton? jangan jangan gue punya riwayat sakit jantung?" batin Reska resah.
__ADS_1
Keesokan harinya di sekolah.
Siang itu Reska berlari dengan secepat cepatnya karena pelajaran olahraga dan gurunya menyuruh siswanya lari maraton di area luar sekolah.
"Akhirnya sampai juga." ucap Reska dengan nafas terengah engah dan sampai lebih dulu ke halaman sekolah meninggalkan teman temannya.
"Wah, Reska lari mu cepat sekali, hebat.. hebat." puji pak guru seraya menepuk bangga pundak Reska dan Reska tersenyum puas.
"Aduh capek banget dah ah, siang bolong begini di suruh lari, gila bener." gerutu Reska yang langsung duduk di halaman sekolah dengan nafas yang masih terengah engah.
Tak lama terlihat Elang, Devan dan Rayka yang memasuki halaman sekolah dan menghampiri Reska.
"Res, lari loe cepet banget?" ucap heran Rayka.
"Iya lah cepet, orang gue motong jalan." sahut santai Reska.
Mereka bertiga pun terkejut dengan ucapan Reska.
"Pinter juga loe pantes cepet." puji Devan.
"Pantes gue enggak liat loe, dateng dateng udah juara satu aja." puji Elang.
"Iya lah.. makannya jangan cuma kaki yang jalan, otak juga." sahut bangga Reska.
"Belagu." cibir Rayka.
"Ke kelas dulu gue." Reska beranjak dari dudunknya dan hendak menuju kelasnya tapi di lorong sekolah Reska melihat Rayyan yang sedang berjalan. Reska kembali memegangi dadanya dan merasa jantungnya kembali berdetak sangat cepat.
"Aduh, sakit jantung gue kayanya kumat lagi nih." batin Reska bingung dan tetap berusaha terlihat santai.
"Res, loe habis olahraga?" tanya Rayyan yang berpapasan dengan Reska dan melihat wajah Reska tampak berkeringat.
"Iya lah, gue pakai seragam olahraga masa mau latihan pramuka." cletuk Reska.
Rayyan tertawa dan mengambil tissu di sakunya lalu mengusap wajah Reska yang penuh dengan keringat. Lagi lagi Reska merasakan jantungnya berdetak semakin cepat tak beraturan.
"Aduh jantung gue.. enggak kuat nih." batin Reska yang langsung berlari kocar kacir meninggalkan Rayyan.
"Tuh anak kenapa? kebelet buang air kali ya?" gumam Rayyan dengan ekspresi bingung melihat tingkah Reska.
__ADS_1
Jangan lupa like, komen, dan votenya ya supaya aku semakin semangat.. ok... ❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️