Menikahi Gadis Culun

Menikahi Gadis Culun
S3 Krikil


__ADS_3

Beberapa bulan kemudian.


Saat ini kandungan Reska sudah memasuki usia 7 bulan. Rayyan tak banyak berubah dia tetap sibuk dan seolah fokus pada perkerjaannya, namun Reska berusaha tidak memperdulikan dan mempermaslahkan hal itu.


"Rayyan, kenapa kamu buat perkerjaan teledor seperti ini." Rainan membanting berkas di meja kerja putranya.


Rayyan segera mengambil berkas tersebut dan melihat kembali laporan yang sempat di buatnya. Matanya membulat melihat kejanggalan di berkas tersebut.


"Tidak, aku tidak membuatnya seperti ini, berkas ini ada yang merubahnya." bantahnya.


"Sudahlah papa tidak mau mendengar alasan klasik mu, bukankah papa sudah bilang perusahaan ini sedang mengalami masalah, kamu sadar keteledoran bisa membuat keadaan semakin hancur." Rainan sedikit terpancing emosi.


"Tapi pah.."


"Sudahlah, jangan ulangi lagi." Rainan enggan mendengar penjelasan apa pun dan bergegas keluar dari ruangan putranya itu.


"Shiiit!! kenapa jadi seperti ini!!" umpatnya seraya melempar berkas tersebut dengan penuh emosi.


***


"Ren, loe serius rubah laporan pak Rayyan?" tanya seorang karyawan saat mereka sedang berada di wastafel toilet.


"Serius lah," sahutnya dengan senyuman licik di bibirnya.


"Gila loe, sampai segitunya sama atasan sendiri," temannya mengeleng kan kepalanya.


"Salah sendiri, dia permalukan gue waktu meeting di perusahaan lain, dia terlalu arogant soal perkerjaan, biar tau rasa dia di marahin bokapnya." ucap Randy yang berusaha melupakan emosinya pada Rayyan.


Di sisi lain Rayyan yang juga sedang berada di dalam tolilet mulai panas mendengar percakapan mereka. Rayyan mengepalkan tangannya rasanya dia benar-benar merasa marah saat ini atas ulah karyawannya yang sudah mempermainkan kerja kerasnya dalam hal perkerjaan.


BRAAKK!!


Suara gebrakan pintu membuat dua pria tersebut telonjak kaget. Wajah mereka seketika memucat melihat Rayyan yang ternyata ada di toilet yang sama. Dengan cepat Rayyan menarik tubuh pria tersebut ke dinding membuat temannya bergegas pergi dengan perasaan takut.


"Jadi loe yang udah rubah laporan itu?" Rayyan mencengkram erat kerah kemeja pria itu yang membuatnya sedikit tercekik.


"Gue pastikan besok loe enggak akan berkerja di sini lagi, ngerti loe!" mendorong keras tubuh pria itu dan keluar dari toilet membuat pria tersebut hanya terdiam dengan wajah pucatnya.


***


Tok Tok Tok.


Terdengar suara ketukan pintu depan rumah Reska yang membuatnya bergegas membuka pintu.


"Papa? mama?" serunya yang melihat kedatangan Kemal dan Shanum sore itu.


"Sayang, kamu baik baik saja kan?" Shanum memeluk putrinya.


"Alhamdulillah baik mah, ayo masuk." Reska mempersilahkan orang tuanya untuk duduk di ruang keluarga.


"Mama kangen sama kamu, jadi ingin ke sini." membelai rambut sang putri.


"Reska juga kangen mama," bergelayut manja pada sang mama.

__ADS_1


"Sayang, ini papa belikan sesuatu untuk mu," Kemal memberikan paper bag besar pada Reska dan Reska dengan semangat membukanya.


"Ini, banyak banget pah pakaian bayinya?" ucapnya yang terkejut melihat banyak pakaian bayi dalam paper bag tersebut.


"Iya, kata kamu Rayyan junior cowok kan? jadi tadi papa belikan pakain cowok,"


Reska terdiam, air mata sedikit mengenang di pelupuk matanya.


"Sayang, kok kamu sedih gitu?" tanya Shanum panik.


Reska tiba-tiba tidak dapat lagi menahan air matanya yang perlahan turun membasahi pipinya.


"Reska cuma merasa terharu aja papa sama mama perhatian banget sama Reska tapi Rayyan enggak, bahkan Rayyan belum membelikan apa pun untuk calon bayinya dia selalu sibuk dengan perkerjaannya." ucap Reska di iringi isak tangis yang tak dapat lagi di tahanya.


Shanum memeluk Reska."Sayang kamu jangan berfikir seperti itu, Rayyan itu suami yang baik, kadang wanita hamil memang lebih cepat sensitif perasaannya kamu jangan berfikir macam macam ya," ucapnya lembut seraya membelai lembut rambut Reska.


"Iya sayang, mungkin Rayyan memang benar-benar sedang sibuk dengan perkerjaannya." timpal Kemal.


Reska tak menjawab apa pun dan hanya terus terisak dengan tangisnya. Malam hari Rayyan pulang dan bergegas ke kamarnya.


"Kamu sudah pulang?" tanya Reska yang beranjak dari tidurnya saat Rayyan baru memasuki kamar.


"Sudah," ucapnya singkat yang langsung membuka dasi dan jasnya lalu bergegas ke kamar mandi.


Selesai mandi Rayyan mengenakan pakaiannya dan merapihkan rambutnya di cermin besar di kamarnya.


"Sayang, tadi orang tua aku ke sini, lalu papa membelikan banyak baju bayi," ucap Reska yang bersandar di ranjang sambil terus memperhatikan Rayyan yang masih bercermin.


Rayyan menoleh."Oya, baguslah." berjalan dan naik ke ranjang.


"Tidak usah, aku lelah hari ini aku tidur dulu ya," mencium kening Reska dan menarik selimut ke seluruh tubuhnya.


Reska menghela nafas dengan wajah kecewa untuk kesekian kalinya. Pagi hari Rayyan tengah bersiap dengan pakaian kantornya.


"Sayang," Reska menghampiri Rayyan yang tengah merapihkan dasinya.


"Iya sayang,"


"Sayang, bagaimana kalau besok kita jalan jalan?" ajak Reska dengan senyum cerianya.


"Jalan jalan?"


Reska mengangguk.


"Besok aku harus keluar kota,"


"Keluar kota? yasudah batalkan saja, ayo sayang aku ingin sekali jalan jalan." rengeknya manja.


"Tidak bisa, ada klien ku yang sudah menunggu sayang," jelas Rayyan.


Reska terdiam. Entah kenapa saat ini perasaannya semakin sedih dengan semua sikap Rayyan padanya.


"Kamu sudah tidak mencintai ku?" terlorar kata kata yang sudah lama tertahan di bibir mungilnya.

__ADS_1


"Kenapa bicara seperti itu?" memasang wajah heran dengan perkataan aneh Reska.


"Karena kamu tidak pernah lagi perduli aku,"


"Ini cuma masalah jalan jalan kenapa perkataan mu sampai sejauh itu?" Rayyan menggelengkan kepalanya.


"Ini bukan hanya soal jalan jalan, ini soal kamu yang enggak pernah perduli sama aku, kamu selalu sibuk dengan perkerjaan kamu seakan lupa kalau aku itu sedang hamil, apa kamu pernah bertanya apa yang aku inginkan? membelikan sesuatu yang tidak aku pinta selama aku hamil enggak kan??" pekik Reska dengan air matanya.


"Sayang dengarkan aku, sekarang aku sedang ada masalah dengan seseorang, tolong jangan memancing emosi ku, lagi pula kamu lupa dokter bilang kandungan kamu lemah tidak baik jalan jalan itu akan membuat mu lelah."


"Aku lebih lelah dengan sikap kamu!!! aku lelah!! lebih baik aku tinggal bersama orang tua ku!! " Reska semakin menangis terisak dan bergegas mengambil pakaian di lemarinya. dengan cepat Rayyan menghentikan gerakan tangan istrinya itu.


"RESKA!! BERHENTILAH BERSIKAP SEPERTI ANAK KECIL!!!" sentak Rayyan yang sudah terpancing emosinya.


"Kenapa kamu membentak ku? apa salah jika aku ingin di perhatikan dengan mu?" Reska terlihat syok dengan respon Rayyan yang justru menmbentaknya bukan membujuknya dengan lembut.


"Sudahlah, jangan lagi memancing emosi ku." Rayyan melepaskan tangannya dari lengan Reska dan bergegas ke luar kamar.


Reska duduk terkulai lemas di lantai dengan tangis yang semakin deras."Kenapa Rayyan sangat berubah." gumamya sambil terus menangis pagi itu.


Rayyan melajuakan mobilnya ke kantor. Tak lama Rayyan sampai dan bergegas ke ruangannya. Rayyan menjatuhkan tubuhnya di kursi kerjanya seraya memijat pelan keningnya.


"Astaga.. kenapa tadi aku jadi bersikap kasar padanya, mood ku sedang tidak baik karena ulah Randy tidak seharusnya Reska kena imbasnya, lebih baik aku meminta maaf."sesal nya yang langsung meraih handphonenya dan hendak menghubungi Reska.


"Ya ampun, kenapa handphone ku mati? aku sampai lupa mencarger handphone ku semalam." Rayyan bergegas mencarger handphonenya.


Di kamar Reska masih terus menangis membuat tubuhnya terasa lemas dan merasakan nyeri di perut buncitnya.


"Kenapa perut ku sakit sekali?" rintihan sambil memegangi perutnya.


"Inj sakit sekali." rintihnya merasakan sakit yang teramat sangat di perutnya.


"Sakit.. aku harus menelepon Rayyan." Reska yang masih terduduk di lantai mulai merangkak meraih handphonenya di meja dekat ranjang dan bergegas mencoba menghubungi Rayyan.


"Kenapa tidak aktif? Ini sakit sekali.. sakit sekali.." rintihnya dengan pandangannya yang semakin buram dan terjatuh di lantai tak sadarkan diri.


Tok Tok Tok.


Bi Tina tiba di rumah Reska pagi itu dan mencoba mengetuk pintu dan mengucap salam tapi tak juga ada jawaban.


"Kenapa tidak ada jawaban? apa tidak ada orang?" gumam wanita paruh baya itu.


Bi Tina mendorong pintu yang ternyata tidak terkunci.


"Tidak terkunci?" bergegas masuk ke dalam.


"Assalamualaikum, non Reska, ini bibi sudah datang, non Reska?" ucapnya berulang kali.


Bi Tina bergegas ke lantai atas dan kembali memanggil majikannya itu tapi tetep tidak ada jawaban. Sampai matanya tertuju pada pintu kamar yang terbuka.


"Non Reska?" panggilnya berjalan perlahan untuk masuk ke kamar.


"Astagfirullah, non Reska!!!" pekiknya yang langsung berlari menghampiri Reska yang terbaring di lantai tak sadarkan diri.

__ADS_1


"Non Reska, bangun non?!!! " menepuk berulang kali pipi Reska dengan penuh kepanikan.


Bantu votenya ya guys.. jangan tunggu enggak semangat dulu, baru vote.. 😢😢


__ADS_2