Menikahi Gadis Culun

Menikahi Gadis Culun
Merawat Rai


__ADS_3

Pagi itu rai mulai membuka matanya perlahan, di lihat nya dira yang masih tertidur di kursi dan menyandarkan kepala nya di ranjang. Rai mengusap lembut kepala dira, sampai dira merasakan ada yang menyentuh nya dan perlahan membuka matanya.


" Kamu sudah bangun? " ucap nya saat melihat rai sudah membuka matanya.


" Sudah "


Tak lama ada perawat masuk yang memberikan sarapan dan obat untuk rai pagi itu.


" Sarapan nya sudah datang, makan ya " bujuk dira sambil mengambil makanan yang berada di meja.


Rai menggeleng.


" Kamu tuh, pokoknya nya harus sarapan terus minum obat " paksa dira.


" Kiss dulu.. " pinta rai manja


" Ya ampun, lagi sakit masih aja mesum, udah ayo cepat makan " tolak dira


" Enggak mau "


Dira mengela nafas dan memajukan tubuhnya mendekat ke arah rai.


Cup


Kecupan mendarat di pipi rai.


" Siapa yang suruh kiss di situ? di sini " ucapnya sambil menempelkan telunjuk pada bibir nya.


" Astaga, kamu tuh ngerjain aku! " dengus dira kesal.


" Siapa yang ngerjain? kamu yang langsung nyosor enggak nanya dulu, cepat kiss lagi "


" iissshh.. kamu tuh nyebelin banget sih " gerutu dira.


" Yaudah aku enggak mau makan " ancam rai


Dira kembali menghela nafas, dan bangkit dari kursinya mendekatkan tubuhnya pada rai dan mencium bibir nya utuk sesaat.


" Permisi " terdengar suara wanita yang hendak masuk ke ruangan tersebut, yang sontak saja membuat dira sedikit kalap dan melepaskan ciuman nya.


" Permisi, pak Rainan, saya tensi darah dulu ya " ucap perawat tersebut


" i.. iya sus " sahut dira gugup dan sedikit menunduk karena malu.


Perawat tersebut pun melakukan pemeriksaan  pada rai, dan tak lama keluar dari ruangan tersebut. Rai terkekeh geli melihat wajah dira yang masih memerah.


" Untung engga ngelihat ya susternya, kalau ngelihat bisa pengen tuh " ledek rai sambil tertawa renyah.


" Kamu tuh bener bener nyebelin tau enggak, kalau sampai ngelihat aku bisa malu tujuh turunan deh! " gerutu dira.


Rai hanya terus tertawa melihat wajah dira yang tampak jengkel.

__ADS_1


" Udah ayo makan, terus minum obat " ucap dira sambil kembali menyuapi rai pagi itu.


" Oia, kita belum kasih tau mama sama papa tentang keadaan kamu " sambung dira.


" Enggak usah di kasih tau lah, kalau papa tanya bilang aja aku sakit demam biasa " sahut rai


Dira mengerutkan kening nya" kenapa? "


Rai menelan makanan yang sedang di kunyah nya" Ribet jelasin nya, pasti papa nuduh yang macem macem, terus berkicau enggak jelas, pusing aku dengar nya " jelas rai.


Dira hanya terkekeh geli mendengar ucapan suaminya, yang memang hubungan dengan papa nya seperti musuh bebuyutan.


" Oia, mau kan berhenti kerja mulai hari ini " sambung rai sambil menatap dira.


" Iya, aku akan berhenti kerja " jawab dira sambil tersenyum.


" Anak pintar, aku sayang kamu " ucap rai yang langsung membelai lembut rambut dira.


" Gombal "


Sampai siang hari dira terus menemani dan merawat rai di rumah sakit.


" Permisi " terdengar suara pria dari luar ruangan yang membuat rai dan dira yang sedang diduk melihat ke arah suara tersebut. Sampai tampak ke tiga teman rai yang sudah cengar cengir di balik pintu.


" Loe, ngapain loe pada ke sini? " ucap rai yang melihat ke tiga sahabat nya mulai masuk ke ruangan tersebut.


" Mau jenguk loe lah, takut loe mati enggak ketahuan " sahut kemal


" Sekarang hari minggu pak Rainan, pikun loe " sahut arya yang langsung merebahkan tubuhnya di sofa ruangan VIP tersebut.


" Rai kamu sama temen kamu dulu ya, aku pulang dulu sebentar mau taruh baju kotor sama ambil baju ganti lagi " ucap dira yang langsung bangkit dari kursi nya.


" Yaudah, hati hati ya "


Dira tersenyum dan bergegas meninggalkan ruangan tersebut.


" Eh, loe di pukulin sama siapa? " tanya kemal yang langsung duduk di samping ranjang rai.


" Enggak tau, enggan kenal" sahut rai datar


"Enggak jelas loe " gerutu kemal


" Permisi " terdengar suara wanita dari balik pintu dan hendak masuk ke ruangan tersebut.


" Pak Rainan, saya tensi darah lagi ya " ucap seorang suster cantik yang menghampiri ranjang rai yang sontak saja membuat ke tiga temannya menoleh ke arah suster tersebut.


" Iya, sus, silakan " sahut kemal yang langsung beranjak dari kursi nya dan membiarkan suster tersebut memeriksa rai.


" Apa punggung nya masih terasa nyeri? " tanya suster tersebut.


" Masih, sedikit "

__ADS_1


" Yasudah, ini obat untuk siang ini, di minum lagi ya pak " ucap suster tersebut sambil meletakkan obat di meja.


" Sus, saya enggak di periksa juga? " ucap kemal yang masih setia berdiri di samping suster tersebut.


" Lho, memang nya bapak kenapa? " tanya nya bingung


" Ini, jantung saya berdetak terus lihat suster " gombal kemal dengan senyuman mautnya yang membuat si penerima gombalan pipinya sedikit merona mendengar nya.


" Sini gue suntik mati biar enggak berdetak lagi " cletuk nanda yang geli melihat tingkah temannya tersebut.


" Sialan loe " umpat kemal yang di respon tawa dari rai dan arya.


" Saya permisi dulu ya " ucap suster tersebut yang semakin terlihat sedikit salah tingkah.


" Baru juga mampir sebentar di hati saya sus, udah pergi aja" ucap kemal yang membuat suster tersebut semakin merona dan bergegas meninggalkan ruangan tersebut.


" Norak loe " umpat rai.


" Iya malu maluin loe, harusnya gue tadi yang gombalin suster itu " sahut arya.


" Bening bening banget ya suster di sini, nyesel gue dulu enggak kuliah kedokteran " sahut kemal yang kembali duduk di kursi nya.


" Mana nyampe otak loe kuliah kedokteran " cletuk nanda.


" Sialan loe, udah punya istri banyak gue kali ya kalau jadi dokter " sahut kemal yang dengan angan angan nya.


Mereka ber empat pun akhirnya mengobrol yang tak jelas sampai dira kembali, dan pamit pulang tak lama setelah nya.


" Rai, kata dokter besok kamu sudah boleh pulang " ucap dira yang kembali duduk di samping rai.


" Oh, syukurlah " rai tersenyum lega


" Sudah enggak sakit kan punggung nya? "


" Enggak, kan kamu yang ngerawat.. emm boleh aku tanya sesuatu? " ucap rai dengan wajah yang terlihat serius.


" Tanya apa? "


" Sebelum aku di pukul, aku lihat kamu, kenapa kamu bisa ada di situ? " tanya rai mengingat kembali kejadian tersebut.


" Emm, iya aku mengikuti mobil pria itu tapi aku kehilangan jejak karena lampu merah " jelas dira.


Rai mengerutkan kening nya" Mengikuti? kamu tau ada yang berniat jahat pada ku? "


Dira menatap rai lebih lekat dan memegang lembut tangan nya" Iya aku tau, ini perbuatan dimas, enggak usah di balas ya nanti malah memperpanjang masalah, maafkan aku ini semua karena aku, kamu harus jadi korban teman kantor ku " ucap dira lirih.


Rai tersenyum dan meremas lembut tangan dira yang sedang di genggam nya" Itu bukan salah kamu kok, sudahlah yang penting sekarang berhenti berkerja dan jangan bertemu pria itu lagi "


Dira mengangguk dan tersenyum pada rai.


Ternyata benar si cowok tengik yang melakukan semua ini. gumam rai.

__ADS_1


Guys.. tolong bantu vote yak.. ❤️❤️


__ADS_2