
Terdengar suara handphone, saat Rai hendak tidur malam itu.
"Siapa sih mau tidur juga ganggu aja." batin Rai sedikit jengkel.
Tertera nama Nanda di handphonenya, Rai bergegas menganggkatnya.
"Halo, kenapa loe?" ucap Rai dengan nada sedikit jengkel.
"Besok ke rumah gue ya, sama istri loe.. gue ada acara," pinta Nanda dari balik telepon.
Rai mengerutkan keningnya "Acara? acara apa? Loe ulang tahun?" tanyanya bingung.
"Gila kali, gue udah tua gini ulang tahun masih di rayain." sahut gemas Nanda.
"Terus acara apaan?" tanya Rai kembali.
"Udah, pokoknya datang aja."
"Owh, yaudah deh." sahut Rai yang langsung menutup teleponya.
Keesokan harinya, malam itu Rai bersama keluarga kecilnya bergegas ke rumah Nanda. Tak lama mereka sampai dan ternyata sudah ada Kemal, Arya dan istri mereka yang sudah ada di sana.
"Loe, tunggu dulu deh, gue ke Sabrina dulu." ucap Nanda begitu mempersilahkan Rai duduk dan meninggalkan mereka untuk menghampiri Sabrina yang sedang ada di ruang makan.
"Ngapain sih si Nanda ngundang kita ke sini?" tanya Rai pada Arya dan Kemal.
"Enggak tau, mau minjem duit kali ya." cletuk Kemal.
"Aduh jangan minjem ke gue deh, gue bokek habis resepsi." keluh Arya.
"Bukannya kalau habis nikahan duit numpuk?" ledek Rai.
"Gue banyak hutang." sahut Arya.
"Banyak hutang aja bangga." cletuk Kemal.
Tak lama Nanda kembali datang menghampiri mereka.
"Loe belum pada makan kan? kita makan dulu ya, Sabrina masak banyak." ajak Nanda.
"Tumben?" sahut Rai bingung.
Mereka pun mengikuti langkah Nanda yang menuju ruang makan, tampak banyak makanan lezat yang terhidang di meja makan.
"Di makan dulu ya, maafakannya cuma ini." ucap Sabrina sambil tersenyum.
__ADS_1
"Ini sih banget kak." sahut Shanum yang melihat begitu banyak makanan di meja makan.
"Iya, banyak banget ini sih.. untung kita belum makan ya sayang." ucap Arya pada Chika yang hanya di respon senyum canggung dari Chika.
"Ngomong mulu, udah ayo makan." ajak Nanda yang mempersilahkan mereka menyantap masakan Sabrina malam itu.
"Wah, masakan kamu enak banget Sabrina." puji Dira sambil mengunyah makanannya.
"Iya, enak banget kak." timpal Shanum.
"Makasih." Sabrina tersenyum simpul.
"Tumben loe ngajak makan malam begini, ada apa sih?" tanya Rai curiga.
Nanda bergegas menelan makanya dengan wajah yang terlihat lebih serius.
"Sebenarnya, gue ngumpulin loe semua di sini, ada yang mau gue omongin." ucap Nanda dengan raut wajah yang lebih terlihat serius.
"Mau ngomong apaan?" tanya Kemal penasaran yang melihat wajah Nanda tak seperti biasanya.
Nanda menarik nafas dan terdiam sesaat.
"Gue sama Sabrina mau pamit pergi." ucapnya singkat.
"Pamit gimana?" tanya Arya bingung.
"Loe jangan bercanda deh." ucap gemas Rai.
"Gue serius, enggak bercanda, begini.. Sabrina sakit, ada masalah pada rahimnya, menurut dokter kemungkinan hamilnya sangat kecil dan dokter menyarankan untuk melakukan pengobatan di Singapura untuk kebaikan dan kesehatan Sabrina, jadi gue sudah putuskan gue akan menjalani itu, gue akan tinggal di sana entah sampai kapan, gue juga sudah menghubungi teman gue di sana buat bantu gue bisa berkerja di sana, gue sudah mengajukan surat pengunduran diri di kantor dan besok pagi kita akan berangkat." jelas Nanda panjang lebar.
Mereka semua semakin terkejut dan terlihat sedih dengan ucapan Nanda.
"Loe, mau pergi besok terus loe baru bilang malam ini? gila emang loe." dengus kesal Kemal.
"Iya, loe bener bener gila." umpat Rai.
Nanda tertawa "Gue takut loe pada galau kalau gue bilang jauh jauh hari." ledek Nanda yang berusaha tersenyum.
"Loe benar-benar yakin sama keputusan loe?" tanya Rai tidak percaya.
"Sangat yakin, gue akan lakukan apapun untuk istri gue." Sahut Nanda yang melirik Sabrina yang duduk di sampingnya.
Mereka semua tersenyum mendengar ucapan Nanda.
.
__ADS_1
"Kita semua selalu dukung loe." sahut Kemal yang mencoba mengerti perasaan Nanda.
"Gue salut sama loe," puji Arya.
.
Nanda dan Sabrina pun berusaha tersenyum.
"Ya udahlah, enggak usah baper, mending abisin aja nih makanan sayang kalau di kasih kucing." ucap Rai yang mencoba mencairkan suasana yang terlihat sendu.
Mereka pun mengobrol santai, dengan canda dan tawa mencoba untuk mengerti keputusan yang di buat Nanda.
.
Keesokan harinya pagi pagi sekali Rai, Kemal, Arya dan istri mereka pun mengantar Nanda ke bandara . Tampak Nanda yang sudah bersiap siap karena pesawat akan segera take off. Nanda berjalan menghampiri Rai.
"Gue pergi dulu, gue harap loe udah punya anak lagi kalau gue kembali." ucap Nanda sambil menepuk pundak Rai.
"Gampang itu sih." sahut Rai santai dan berusaha tersenyum.
"Om pergi dulu ya, jangan nakal kamu, masih punya hutang 4 juta kamu sama om," ucap Nanda pada Rayyan yang sedang di gendong Rai dan mencubit gemas pipinya. Rai dan Dira tersenyum mendengar ucapan Nanda.
Nanda menghampiri Kemal
"Gue pergi dulu, berhenti godain pelayan cafe, nanti mereka baper terus minta di nikahin." ledek Nanda.
"Kakak!!" seru Shanum dengan wajah cemberut mendengar ucapan Nanda.
"Ya ampun sayang mahluk satu ini sih enggak usah di dengerin.. udah mending loe pergi deh." sahut gemas Kemal yang juga berusaha tersenyum.
Terakhir Nanda menghampiri Arya.
"Gue pergi dulu, loe jangan ke klub lagi, nanti di penjara lagi mau loe?" ledek Nanda kembali.
"Nanti temenin gue lah, kalau gue di penjara lagi." sahut Arya yang juga berusaha tersenyum.
"Ok, bentar lagi pesawat take off, semoga loe semua bahagia." ucap Nanda dengan berat hati meninggalkan teman temannya yang sudah menemaninya sedari SMA.
"Jangan lupain pertemanan kita." pesan Rai yang juga merasa sedih.
"Enggak lah, walaupun berteman sama loe semua sebenarnya enggak ada untungnya juga." cletuk Nanda yang membuat mereka semua tertawa.
Nanda dan Sabrina pun pamit. Meninggalkan mereka semua yang selalu menunggu Nanda kembali entah kapan.
Jangan baper yak.. Jangan lupa like, komen dan votenya juga cinta ❤️❤️🤗🤗
__ADS_1