Menikahi Gadis Culun

Menikahi Gadis Culun
S2 Pagi yang melelahkan


__ADS_3

Tak lama Nanda pun pulang dari rumah Sabrina, di rebahkan tubuhnya di kasur, Nanda mengambil handphone di saku celana  nya dan mulai mencari tau tentang cara sholat yang benar.


Panjang juga ya bacaan nya? tapi gue pasti bisa lah. gumam nya seraya membaca dan menghafal bacaan sholat.


***


Pagi itu setelah menyiram tanaman Dira mengendong Rayyan menuju kamarnya di lihatnya Rai yang masih menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.


Ya ampun kok masih tidur sih? kan sudah siang? gumam Dira yang merasa aneh karena biasanya Rai selalu bangun pagi.


"Sayang, bangun sudah siang nih, kamu enggak ke kantor? " Dira menepuk pelan tubuh Rai.


Rai menyingkap selimut yang menutupinya.


"Aku enggak masuk kantor dulu, enggak enak badan." keluhnya.


Dira memegang kening dan tubuh Rai yang terasa panas.


"Kamu sakit? yaudah kamu makan ya terus minum obat."


Rai pun mengangguk, Dira hendak turun dari ranjangnya tapi Rayyan yang sedang di kasur menghampiri Rai dan duduk di atas perutnya dengan senyum cerianya.


"Aduh, badan aku lagi nyeri gini Rayyan malah main kuda kudaan." keluh Rai yang merasa seluruh tubuhnya panas dan nyeri tapi sang anak tampak asik duduk di perutnya.


"Rayyan, jangan papa lagi sakit." Dira hendak menggendong Rai tapi balita tersebut malah menangis seakan tidak ingin pergi dari Rai tangan nya meronta ronta ingin seperti ingin di gendong Rai.


"Sayang, kamu main sama kak Shanum aja ya." Dira bergegas keluar kamar dan memanggil Shanum, tak lama Shanum pun datang menghampiri Dira di depan kamarnya.


"Rayyan sayang, sini kakak gendong." Shanum mengambil Rayyan dari gendongan Dira tapi balita tersebut menangis semakin kencang dengan gerakan tangan yang menunjuk ke dalam kamar.


"Ya ampun." keluh Dira yang akhirnya membawa Rayyan kembali ke kamar tapi balita itu masih terus menangis dan melirik ke arah Rai dengan tangan yang meronta ronta ingin di gendong.


"Sayang, papa lagi sakit jadi enggak bisa gendong dulu." Dira mencoba menjelaskan tapi Rayyan tetap saja menangis Dira dan Shanum pun tampak bingung.

__ADS_1


Rai mencoba bangun dan mengendong Rayyan " Sayang, papa lagi sakit, nanti ya mainnya, nanti papa mati, mau?" bujuk Rai tapi Rayyan tetap menangis dan menunjukkan jarinya keluar kamar.


Rai pun menghela nafas dan akhirnya menggendong Rayyan ke taman belakang, balita tersebut tampak senang dan tidak menangis lagi.


"Sudah ya, papa mau istirahat dulu, kamu main sama mama ya." ucapnya seraya memdudukan Rayyan di teras bersama Dira dan Rai hendak beranjak pergi tapi Rayyan kembali menangis kencang.


"Sayang, papa mau istirahat dulu." Dira mengendong dan mencoba membujuk Rayyan tapi balita tersebut menangis semakin kencang.


Rai yang merasa tidak tega pun akhirnya kembali menggendong Rayyan, dan menemani nya bermain di taman belakang.


"Sayang, aku ambil obat dulu ya." ucap Dira yang langsung bergegas ke dalam.


Rai duduk di rumput taman belakang rumahnya seraya menemaini putranya yang tampak asik dengan bola yang di pegang nya. Tubuh terasa semakin panas bak daging asap berada di bawah terik matahari.


Astaga. gue rasa 30 menit lagi gue bisa pingsan nih. gerutu nya


Sampai Dira datang membawakan makanan dan obat untuk Rai.


"Udah ya, aku istirahat dulu, bisa pingsan aki lama lama, kamu sama Shanum enggak mungkin bisa angkat badan aku kalau aku pingsan." ucap Rai mengingat dua wanita tersebut memiliki tubuh yang cukup mini.


Dira pun sedikit tertawa melihat wajah Rai yang tampak tersikasa " Iya, kamu istirahat aja, Rayyan juga udah enggak nangis." Dira melirik Rayyan yang masih asik dengan bola nya.


Rai hendak membalikkan badannya untuk pergi tapi balita tersebut dengan langkah mungilnya tampak berlari kecil menghampiri Rai dan memegang kakinya. Rai menoleh dan melihat Rayyan yang sudah menangis.


"Astaga!! " serunya seraya menupuk jidat.


"Rayyan papa lagi sakit, papa istirahat dulu ya." Dira segera menggendong dan membujuk Rayyan tapi Rayyan tetap menangis.


"Iya sayang, papa istirahat dulu ya, nanti papa bisa mati kalau berjemur di sini terus." bujuk Rai.


"Jangan mati, aku enggak mau jadi janda." sahut Dira.


"Kalau aku mati kamu mau nikah lagi? " Rai berbalik bertanya.

__ADS_1


"Enggak tau, tapi aku masih muda, enggak bisa hidup sendiri."


"APA????" Rai tampak terkejut dengan bola mata yang hampir keluar mendengar ucapan Dira.


Dira pun terkekeh geli melihat ekspresi Rai " Aku bercanda, aku cinta kamu, sayang kamu selamanya." goda Dira masih dengan tawanya.


"Awas aja kalau nikah lagi." ancam Rai.


Mereka pun sibuk dengan perdebatan yang tak jelas seakan lupa Rayya masih menangis di gendongan Dira. Akhirnya Rai pun menyerah dan menggendong Rayyan yang tampak menunjukkan jarinya ke arah kolam renang di halaman mereka.


"Ya ampun Rayyan, papa lagi sakit harus nemenin kamu main air gitu? " tanya Rai yang di respon tunjukkan tangan Rayyan ke arah kolam renang.


Rai pun menghela nafas dan akhirnya menemani Rayyan bermain air. Setelah puas bermain Rai memberikan Rayyan pada Dira yang langsung menganti pakaian nya dan menidurkan nya lalu meletakkan nya di box bayi. Dira menghampiri Rai yang sudah berbaring di ranjang dan tampak lelah.


"Capek ya? " Dira berbaring di samping Rai dan mengusap lembut rambutnya


"Dikit."


"Masih panas, aku panggil dokter aja ya." Dira memegang kening Rai yang masih terasa panas.


"Enggak usah, mau di cium aja." pinta Rai manja.


Cup.


Dira pun mencium pipi Rai.


"Cium bibir juga." pinta Rai kembali.


"Apaan sih." Dira mencubit gemas lengan Rai yang membuatnya meringis kesakitan.


"Yaudah, peluk aja, temenin tidur." Dira pun memeluk Rai yang akhirnya memejamkan matanya yang akhirnya bisa beristirahat tanpa gangguan putra semata wayangnya.


Guys.. aku up lagi nih.. minta vote nya boleh donk.. 🤗🤗❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2