
Saat sedang menonton Reska merasakan sesuatu yang aneh.
"Aduh kok kaya basah ya, masa iya gue pipis di celana sih?" batinya resah.
Reska pun bergegas ke toilet.
"Ya ampun, ko gue dateng bulan sih, aduh enggak bawa pembalut lagi." gerutunya saat melihat bercak darah di celananya.
Reska pun kembali ke dalam studio dengan perasaan gusar. Saat sedang menonton Reska merasakan perutnya sakit karena nyeri haid.
"Aduh sakit." rintinya.
"Res, loe diam aja dari tadi? sakit gigi?" tanya Rayyan heran karena tidak mendengar ocehan dari gadis yang duduk di sampingnya.
"Ganteng, perut gue sakit nih." rintinya.
"Loe mau buang air? yaudah sana ke toilet, jangan di tahan." sahut Rayyan.
"Sakit bukan mules, gue sakit nyeri haid." gemas Reska.
"Nyeri haid?" Rayyan memesang wajah bingung.
"Kenapa si loe berdua, ngoceh mulu perasaan?" tanya Devan yang duduk di samping Rayyan.
Rayyan menoleh ke arah Devan."Si Reska katanya nyeri haid."
"Nyeri haid?" Devan memasang wajah heran.
"Kenapa si Reska?" tanya Elang yang duduk di samping Devan.
"Si Reska katanya nyeri haid." sahut Devan.
"Nyeri haid?" Elang pun memasang wajah heran bin bingung .
"Aduh, kok loe semua malah main tanya jawab, tolongin gue kek." gerutu Reska yang gemas pada teman temannya.
"Tolongin gimna?" tanya Rayyan bingung yang melihat wajah Reska sudah memucat.
"Beliin gue obat nyeri haid, di sini kan ada supermarket, beli di situ." jelas Reska.
"Aduh ribet banget, enggak bisa di tunda emang nyeri haidnya?" ucap polos Devan.
"Devan sailendra, tamu bulanan ini udah di rancang sama tuhan, di luar kehendak gue, ngerti?" gerutu Reska yang mulai mengeluarkan asap dari kepalanya.
__ADS_1
Mereka bertiga hanya terdiam.
"Aduh cepetan donk beliin, enggak kuat nih gue, gimana kalau gue mati di sini." rintinya seraya mencengkram perutnya.
"Serius loe nyeri haid bisa mati?" tanya Devan dengan nada terkejut.
"Iya bisa mati!!" dengus kesal Reska.
"Aduh, muka loe jangan pucet dulu, yaudah gue beliin." ucap panik Rayyan yang langsung beranjak dari kursinya.
"Ganteng," panggil Reska.
Rayyan menoleh" Kenapa?"
"Sekalian beliin pembalut ya." pinta Reska.
"Loe, di kasih hati minta bakso." ucap gemas Rayyan.
"Ganteng," panggil kembali Reska.
Rayyan kembali menoleh" Kenapa?"
"Pakai duit loe dulu ya." Rsska nyengir kuda.
"Ganteng," panggil Reska untuk kesekian kalinya.
"Astaga.. apa lagi?" geram Rayyan.
"Gue, tunggu di luar aja, enggak boleh bawa minuman dari luar ke studio." jelas Reska.
"Yaudah Res, loe keluar sana, gue iklas, berisik tau enggak." dengus kesal Devan.
Reska dan Rayyan pun akhirnya keluar dari studio.
"Loe tunggu di sini, geu ke supermarket dulu." titah Rayyan saat Reska sudah duduk di kursi kosong di luar bioskop.
Reska mengangguk dan Rayyan bergegas ke supermarket untuk membeli pesanan Reska. Tak lama Rayyan kembali membawa Obat nyeri haid dan pembalut untuk Reska.
.
"Nih," Rayyan menghampiri Reska sambil memberikan kantong plastik berisi pesanannya.
"Makasih ya, gue pakai pembalut dulu." Reska tersenyum sumringah.
__ADS_1
"Yaudah cepet."
Reska pun bergegas ke toilet dan memakai pembalut sedangkan Rayyan setia menunggunya. Tak lama Reska kembali dan melihat Rayyan masih menunggu di tempat tadi dia duduk.
"Ganteng, lama ya." langsung duduk di samping Rayyan.
"Lumayan, minum tuh obatnya, ada air juga di plastik."
Reska pun segera meminum obat nyeri haid tersebut dan menunggu Devan dan Elang yang masih ada di dalam bioskop.
"Ganteng, sebentar lagi loe lulus, udah tau mau kuliah dimana?" tanya Reska yang mengingat sebentar lagi Rayyan akan lulus sekolah dan duduk di bangku kuliah.
"Udah sih," jawabannya singkat seraya menungguk soft drink yang baru di bukanya.
"Enggak bisa di tunda kuliahnya?" tanya polos Reska.
Rayyan mengerutkan keningnya."Di tunda? loe doain gue enggak lulus gitu?"
"Iya.." Reska nyengir kuda.
"Doa yang luar biaaaasaaa." puji Rayyan sambil mengajungkan jempolnya.
"Nanti loe kuliah lupa lagi sama gue?"
Rayyan melirik wajah Reska yang sedikit terlihat sendu saat mengatakan itu.
"Pastilah, apa lagi banyak cewek cantik di sana nanti." goda Rayyan sambil tersenyum tipis.
"Oh gitu ya." Reska memasang wajah jengkel.
Rayyan tertawa."Gue akan tunggu loe,"
Reska mengerutkan keningnya." Tunggu untuk apa?" tanyanya bingung.
"Tunggu loe sampai masuk kuliah juga, lulus dan jadi istri gue."
Mata Reska berbinar terang seterang rembulan mendengar ucapan Rayyan."Serius?" tanyanya antusias.
"Enggak lah, bercanda." Rayyan terkekeh geli melihat ekspresi Reska.
"Isssshhhh.. dasar." Reska mencubit gemas lengan Rayyan yang membuat pris itu meringis kesakitan.
Say..aku up lagi nih.. minta votenya juga donk... boleh kan.. ❤️❤️❤️❤️❤️
__ADS_1