
Pagi itu Dira sudah memasak dan menaruh rapih masakannya di kotak makan. Lalu Dira menghampiri Rayyan yang sedang bermain bersama Shanum di taman belakang.
"Shanum, aku mau ke kantor Rai ya." ucap Dira yang merasa sudah cukup lama tidak membawakan bekal makan siang untuk suaminya itu.
"Oh iya mbak." Shanum tersenyum.
Dira bergegas mengganti pakaian Rayyan.
"Kita ke kantor papa ya." ucap Dira yang di respon sepatah dua patah kata yang tidak jelas dari sang anak.
Selanjutnya Dira bergegas menaiki taxy menuju kantor Rai. Tak lama dia sampai dan beberapa karyawan menyapanya ramah seraya mengoda gemas Rayyan yang di gendong Dira.
Tok Tok Tok
"Masuk." sahut Rai dari dalam ruangan.
"Hallo papa." ucap Dira sambil tersenyum.
Rai bergegas bangkit dari kursi kerjanya.
"Sayang, tumben kamu ke sini?" Rai menghampiri Dira, mencium keningnya dan mencium gemas pipi Rayyan.
"Iya aku bawa bekal untuk kamu." Dira menunjukkan kotak makan yang di pegangnya.
"Makasih ya."
Tak lama Rayyan tampak rewel dan menangis.
"Kayaknya Rayyan ngantuk nih, kecapean main sama Shanum." Dira mencoba menenangkan Rayyan.
"Yaudah kamu tidurin, di kamar biasa." Rai menujuk kamar kecil di balik rak buku besar ruangannya.
Dira mengangguk dan segera masuk lalu menidurkan Rayyan. Tak lama Rayyan tertidur pulas.
"Sayang." ucap Rai yang menghampiri Dira dan memeluknya dari belakang.
"Iya, sayang aku galau nih." keluh Dira yang langsung membalikkan tubuhnya menghadap Rai.
Rai mengerutkan keningnya.
"Galau kenapa?"
__ADS_1
"Kalau Shanum menikah sama Kemal nanti siapa yang bantu jaga Rayyan ya?" ucap Dira yang sudah memikirkan jika pasti Shanum tak lagi berkerja di rumahnya kalau sudah menikah dengan Kemal.
"Yaudah nanti kita cari baby sister baru." Rai mengusap lembut rambut Dira.
"Tapi aku enggak mudah percaya sama orang." keluh Dira.
"Nanti kita cari orang yang benar-benar bisa di percaya, sudah jangan terlalu di fikirkan, masih lama juga."
Dira mengangguk dan Rai memeluknya semakin lama semakin erat dan Dira mulai merasakan pergerakan tangan nakal suaminya di tubuhnya.
"Sayang jangan pegang pegang nanti kamu pengen, aku lagi pusing nih." keluh Dira yang kerap merasakan pusing di kehamilan keduanya.
"Yaudah deh enggak jadi, padahal pengen sih."
"Maaf ya." Dira mecium pipi Rai.
"Yaudah kamu istirahat saja ya, aku kerja lagi." Rai mencium kening Dira dan membiarkanya tertidur sedangkan Rai kembali melanjutkan pekerjaannya.
Saat Rai sedang asik dengan laptopnya Rai melihat Rayyan yang berjalan keluar kamar yang tidak terkunci.
"Sayang, sudah bangun?" Rai mengendong Rayyan dan menciumnya.
"Kamu sama papa dulu ya, mama biar istirahat dulu." ujar Rai pada sang putra yang di respon tawa mengemaskan darinya.
"Masuk."
"Pak Rainan, pak angga dari sanjaya grup sudah menunggu bapak, hari ini jadwalnya untuk membahas kontrak kerja sama dengan perusahaannya." ucap sekretaris Rai yang kembali mengingatkan jadwal Rai hari ini.
"Oh Yasudah, persilahkan masuk." titah Rai
Sekretaris Rai kemudian mempersilahkan tamu pentingnya itu masuk.
"Selamat siang pak Rainan." ucap seorang pria sambil mengulurkan tangannya dan tersenyum ramah.
"Selamat siang, silakan duduk." Rai mempersilahkannya duduk di sofa.
"Ini anak pak Rainan?" pria itu menunjuk Rayyan yang sedang di gendong Rai.
"Oh iya ini anak saya." Rai tersenyum.
"Tampan sekali." puji pria tersebut.
__ADS_1
"Iya, sudah takdir." sahut Rai yang kemudian datang cleaning sarvice yang datang membawakan minum.
Rai menurunkan Rayyan dari gendongannya.
"Sayang, kamu main dulu ya." Rayyan dengan senang berjalan mengitari ruangan Rai. Sedangkan pria di hadapan Rai dengan fokus berbicara mengenai bisnis mereka sesekali Rai memijat keningnya dan melirik Rayyan yang tampak memberantakan beberapa buku di rak bukunya.
"Ini surat kontrak kerja samanya pak Rainan." pria itu memberikan map berisi kontrak kerja sama dengan perusahaan Rai.
Rai membaca dengan seksama isi surat tersebut.
"Ok, aku akan menandatanganinya." ucap Rai seraya meletakkan surat itu di meja.
Pria itu memberikan pulpen pada Rai yang ternyata pulpen nya tidak nyata.
"Tidak nyata?" keluh Rai.
"Oh maaf pak, saya hanya bawa pulpen itu saja." sesal pria itu.
"Ok, pakai pulpen ku saja." Rai beranjak dari sofa dan mencari pulpen di meja kerjanya sedangkan pria tersebut tampak fokus dengan handphonenya.
Praankkk!!
Terdengar suara gelas jatuh, mereka berdua langsung melihat ke arah suara tampak tangan mungil Rayyan yang menjatuhkan gelas berisi orange jus tersebut yang membuat air nya berceceran di meja dan sukses membuat surat penting itu basah kuyup di buatnya.
"Astaga Rayyan." gumam Rai yang langsung menghampiri Rayyan.
"Bagaimana ini pak suratnya basah." keluh pria tersebut dengan wajah jengkel.
"Apa kamu tidak punya cadangannya?" ucap Rai.
Pria itu mengeleng.
"Baiklah, jadikan ini pelajaran lain kali kamu harus membuat surat cadangan situasi darurat bisa terjadi kapan saja." ucap Rai dengan kata kata bijaknya seraya menepuk nepuk bahu pria tersebut yang wajahnya sudah tampak kesal.
"Lalu bagaimana ini?" tanya pria tersebut.
"Datang lagi besok kalau surat yang baru sudah kembali di buat, perusahaan ini selalu terbuka untuk mu." Rai mencoba berkata lebih bijak.
"Baiklah saya permisi." ketus pria itu yang langsung meninggalkan ruangan Rai dengan wajah masamnya.
Rai berjongkok memandang Rayyan yang tampak asik memainkan buku.
__ADS_1
"Sayang, kalau kamu setiap hari ke kantor, perusahaan papa bisa bangkrut." ucap Rai yang tampak gemas dengan kelakuan putranya tersebut .
Aku up lg nih. senang donk.. bikin aku seneng juga yak dengan cara vote.. 🤗🤗❤️❤️