Menikahi Gadis Culun

Menikahi Gadis Culun
S3 Menunggu


__ADS_3

"Reska," Kemal masuk ke kamar putrinya yang terlihat sedang mempacking pakainnya.


"Papa?"


Kemal memegang tangan Reska agar Reska berhenti mempacking pakaiannya.


"Tidak usah berbuat seperti ini, papa bisa bicara dengan orang tua Rayyan tentang rencana mu, tidak usah memperdulikan keputusan mama mu itu." bujuk Kemal.


"Pah, keputusan Reska sudah bulat mungkin memang lebih baik Reska fokus kuliah dulu dari pada harus menikah muda," jelas Reska.


"Kalau memang mau fokus kuliah kenapa harus ke Australia dan tidak memberitahukan Rayyan?"


Reska terdiam dan duduk di ranjangnya.


"Karena Rayyan tidak akan terima kalau tau keputusan Reska dan kalau tau alasan mama pun Rayyan pasti akan membenci mama. Biarkan waktu saja yang membuat Rayyan menerima ini semua." lirih Reska.


"Tapi papa tidak mengijikan mu tinggal di sana sendirian," Kemal menatap khawatir sang putri.


"Mama akan ikut dengan ku, papa setuju?"


Kemal terdiam dan berfikir mungkin itu yang terbaik dari pada harus di selimuti kecemasan jika putri semata wayangnya tinggal sendirian di negri orang.


"Papa setuju kan? berjanjilah pada ku untuk tidak mengatakan hal apapun pada Rayyan atau pun pada keluarganya," pinta Reska.


Sang ayah hanya terdiam.


"Papa sayang kan sama Reska? berjanjilah.. " Reska mengajungkan jari kelingkingnya sebagai syarat perjanjian.


Kemal yang sempat terdiam sesaat akhirnya merespon setuju dengan perjanjian itu.


"Aku sayang papa." Reska memeluk haru sang ayah.


***


Malam itu Rayyan menghampiri papanya yang sedang sibuk dengan laptopnya di ruang keluarga.


"Pah," ucapnya yang duduk di sebelah Rainan.


"Ada apa?" tanyanya tanpa menoleh dan tetap fokus memandangi layar laptopnya.


"Aku mau bicara,"


"Bicara saja." sahutnya yang masih menatap layar laptopnya.

__ADS_1


"Aku serius.. "


Rayyan menoleh dan melihat wajah Rayyan yang memang tampak serius lalu mematikan laptopnya.


"Ada apa? kurang uang lagi?"


"Kalau kurang uang memangnya di kasih lagi? "


"kamu bantu bantu di kantor saja hanya seminggu tiga kali tapi minta bayaran seperti karyawan yang bekerja sebulan." gerutu sang ayah.


Rayyan cengenegasan."Aku mau menikah sama Reska." ucapnya kemudian.


Wajah Rainan yang tadinya terlihat santai mendadak terlihat syok mendengar ucapan Rayyan.


"Menikah?"


Rayyan mengangguk."Iya menikah."


"Astaga.. kamu sudah kebelet?" Rainan menggelengkan kepalanya.


"Iya.. sangat kebelet." balas Rayyan.


"Kamu benar-benar anak papa." Rayyan menepuk bangga pundak Rayyan.


"Lalu bagaimana, papa setuju?"


"Sudah kuduga." Rayyan tersenyum puas.


"Memangnya Reskanya mau?" Rayyan menatap ragu sang putra.


"Mau lah.. cuma sepertinya dia belum sempat bicara sama orang tuanya."


"Oh begitu, yasudah.. besok undang Reska makan malam di sini biar mama juga tau." pinta Rainan.


Rayyan mengangguk dan tak lama bergegas masuk ke kamarnya. Rayyan meraih handphonenya dan bergegas menghubungi Reska malam itu.


"Halo, ada apa?" terdengar suara Reska dari balik telepon.


"Sayang, besok malam kamu ada waktu?"


Reska mengerutkan keningnya."Kenapa memangnya?"


"Begini, aku sudah bilang pada papa ku tentang rencana pernikahan kita dan dia setuju..besok papa mau kamu je rumah untuk makan malam bersama.. kamu bisa kan?" ucap Rayyan dengan nada bahagianya.

__ADS_1


Deg!!


Jantung Reska berdegup kencang mendengar ucapan Rayyan. Dia tampak bingung harus menjawab apa.


"Sayang, bisa kan? besok aku jemput ya."


"Tidak, tidak usah di jemput, aku datang sendiri saja, aku pasti datang." ucapnya yang terpaksa berbohong.


"Oh begitu, yasudah besok aku tunggu ya.. aku sayang kamu." ucap Rayyan sambil menutup teleponnya.


Reska terdiam dan menjatuhkan tubuhnya di ranjang dengan air mata yang perlahan membasahi pipinya.


Keesokan harinya Rainan bersama keluarga sedang menunggu Reska dan Dira pun sudah menyiapkan banyak makanan begitu mendengar tentang rencana Rayyan dari suaminya.


"Rayyan, jam berapa Reska datang?" tanya Dira yang juga terlihat antusias.


"Paling sebentar lagi juga datang mah." sahut santai Rayyan.


"Emang ngapain mah si Reska nebeng makan di sini?" tanya polos Rayka yang belum mengetahui tentang rencana kakaknya.


"Kak Rayyan dan Reska berencana akan segera menikah." jawab Dira sambil tersenyum.


"Apa?? Menikah?" Rayka kaget bukan kepalang mendengarnya.


"Kenapa muka loe syok gitu?" tanya heran Rayyan yang melihat ekspresi sang adik.


"Buru buru banget?"


"Emang kenapa kalau buru buru?"


"Jangan jangan mereka udah kaya gituan." batin Rayka.


"Jangan ngeres otak loe, gue sama Reska enggak kaya gitu." cletuk Rayyan yang seolah tau isi fikiran sang adik.


Rayka cengenegasan. Mereka semua pun masih menunggu Reska di ruang tamu sampai waktu yang cukup lama.


"Kok lama banget, coba kamu telepon Reska." pinta Rainan yang sudah jenuh menunggu.


Rayyan mengambil handphonenya dan mencoba menghubungi Reska.


"Kok enggak aktif ya? lowbet kali ya handphonenya." Rayyan terlihat bingung karena nomor handphone Reska tidak aktif.


"Biar papa hubungi papanya." Rainan mengambil handphonenya dan mencoba menghubungi Kemal.

__ADS_1


"Tumben nih anak handphonenya enggak aktif juga?" ucap Rainan yang juga bingung karena nomor temannya itu pun tidak aktif.


Mereka terlihat bingung dan tetep menunggu kedatangan Reska malam itu.


__ADS_2