Menikahi Gadis Culun

Menikahi Gadis Culun
S2 Pernikahan


__ADS_3

Waktu perlahan berlalu sampai hari mendekati pernikahan Nanda dan Sabrina pun tinggal 2 minggu lagi. Hari ini Nanda dan Sabrina ke tempat WO untuk fitting terakhir gaun pengantin mereka. Nanda sudah mengenakan jas yang akan di kenakakannya di acara pernikahan. Tak lama Sabrina keluar dari ruang ganti dengan gaun pengantin yang di pilihnya.


Mata Nanda tak berkedip saat melihat gadis itu tampak cantik dan anggun dengan gaun pengantin yang di kenakakannya.


"Cantik ya calon istrinya." puji pegawai WO tersebut yang berdiri di samping Sabrina.


"Iya, kamu cantik." Nanda pun memuji yang membuat gadis itu tampak tersipu malu.


Selesai fitting Nanda pun mengantar Sabrina pulang. Tak lama mobil Nanda berhenti di depan rumah Sabrina.


"Makasih ya." ucap gadis itu sambil tersenyum.


"Iya, mungkin setelah ini kita tidak akan bertemu dulu sampai hari pernikahan, jaga kesehatan ya."


"Iya, kakak juga ya."


Mereka pun saling melempar senyum dan Sabrina bergegas masuk ke rumahnya. Sampai di rumah Nanda membaringkan tubuhnya di kasur.


"Nanda." panggil ayah Nanda saat masuk ke kamar putranya.


Nanda segera duduk di kasur" Iya, kenapa pah?"


"Apa semua persiapan sudah matang? "


"Sudah." jawab Nanda penuh keyakinan yang nerasa semua yang persiapan untuk pernikahan sudah beres dan tinggal menunggu hari H.


"Bagaimana dengan mahar? kamu sudah lancar membacanya?" tanya papa Nanda dengan nada sedikit khawatir tentang mahar surah Ar Rahman yang di inginkan Sabrina.

__ADS_1


"Oh insyaallah aku sudah hafal." jawab Nanda lagi penuh keyakinan mengingat setiap pulang dari kantor dia rutin belajar mengaji dengan ustad pribadi papanya.


"Oh syukurlah, papa tenang kalau begitu." ucap papa seraya tersenyum lega dan keluar dari kamar putranya.


Sampai tiba saatnya hari yang di nanti nanti tersebut, pagi pagi sekali Nanda sudah berpakaian rapih, tampak ramai di halaman rumahnya orang orang dan keluarganya yang akan bersiap siap untuk menuju hotel tempat di mana acara pernikahan berlangsung dan Sabrina serta keluarganya sudah menunggu di sana.


Pagi itu tampak 3 mobil masuk ke halaman rumah Nanda berisi tamu pentingnya yang tak lain Kemal, Arya, Rai berserta keluarganya.


"Eh tuh pengentinnya." ucap Arya saat melihat Nanda berdiri di teras rumahnya di kelilingi orang orang yang tampak sibuk mempersiapkan pernikahannya.


"Lama loe." seru Nsnda saat teman temannya berjalan menghampirinya.


"Dandan dulu gue juga lah, kali aja ketemu jodoh di sana." ucap Arya sambil tertawa.


"Kaya banci loe pake dandan segala." cibir Nanda.


"Eh loe pengantin pernikahan kan?" tanya Rai seraya memperhatikan penampilan Nanda.


"Gue kira pengantin sunat." ledek Rai di respon tawa mereka semua.


"Sialan loe." umpat Nanda.


"Habis gue perhatiin muka loe tegang banget? " ucap Rai yang memperhatikan wajah Nanda tampak sedikit gelisah.


"Dia bukan tegang, takut lupa hafalan buat mahar loe ya? " ledek Kemal.


"Udah hafal lah gue." jawab Nanda dengan sombongnya.

__ADS_1


"Percaya, percaya." sahut Arya.


Tak lama mereka semua pun bergegas menuju hotel tempat pernikahan tersebut. Setelah sampai Nsnda dan keluarganya perlahan mulai memasuki tempat tersebut.


Nanda berjalan di iringin kedua orang tuanya yang berada di sisinya di belakang tampak keluarga Nanda yang membawa banyak barang seserahan untuk Sabrina. Tak jauh dari tempat Nanda berjalan tampak Sabrina yang sudah berdiri menantinya dengan di tenani orang tua di sisinya.


Gadis itu tampak cantik dengan make up dan kebaya pengantin anggun yang di kenakakannya. Nanda terus memandangnya seraya tersenyum. Nanda pun berjalan menuju meja tempat ijab qobul di laksanakan tampak pak penghulu yang sudah menantinya.


Entahlah hati Nanda menjadi tak karuan, jantungnya berdegup kencang tak dapat di pungkiri dia sangat merasa grogi saat ini. Nsnda duduk di hadapan pak penghulu dan ayah Sabrina sedangkan Sabrina duduk di kursi belakang tak jauh dari Nanda, selesai ijab qobul barulah Sabrina duduk di samping Nanda.


"Nak Nanda, kita langsung mulai saja ya, Nak Nanda sudah siap membaca maharnya?" tanya ayah Sabrina menyakinkan


"Insyaallah siap." jawabnya sambil mengangguk.


"Baik, kita mulai ya." sahut pak penghulu.


Nanda mendekatkan mic ke bibirnya, perasaan gugup sangat menyelimutinya saat itu, sampai dia hendak membaca surah tersebut.


Ya ampun gugup banget, kenapa gue jadi enggak konsen gini. batinnya panik saat tiba tiba semua hafalan yang ada di kepalanya terasa sangat sulit untuk di ucapkannya.


"Si Nanda kok diam aja? " tanya Rai saat memperhatikan Nanda terdiam di tempatnya.


"Jangan jangan dia lupa lagi hafalannya?" sahut Kemal yang juga memperhatikan gelagat Nanda.


"Hah lupa? " ucap Dira dan Shanum bersamaan.


"Enggak jadi donk nikahnya kalau lupa?" cletuk Arya.

__ADS_1


Penasaran ya? vote dulu ya yang banyak nanti aku up lagi 🤗🤗❤️❤️❤️


.


__ADS_2