
Hay semuanya, lama ya aku tidak menyapa semoga pembaca setia selalu sehat, untuk saat ini aku memang tidak aktif lg menulis di Noveltoon saya banyak menulis di *******. tapi hari ini saya mau melanjutkan cerita ya pernah saya promosikan. ini cuplikan ceritanya.
Bab 1.
“Loe, duduk sana dong.” aku mengusir seorang temanku untuk duduk di bangku belakang.
“Kenapa sih loe, kalau pelajaran matematika pengen duduk di depan terus?” protes si pemilik bangku bernama Ridwan.
“Gue kalau ngeliat angka enggak jelas, udah sana.” usir ku, Ridwan pun dengan ekspresi malasnya beranjak dari bangkunya. Aku tersenyum puas, jelas tak ada yang berani melawan ku. Arjuna Danarjaya putra tunggal dari pengusha yang sedang berjaya. Wajah rupawan, berkantong tebal, dan kulit yang cukup cerah. Membuat para kaum hawa di sekolah ku banyak yang mendekat. Tapi tak ada yang bisa meluluhkan hatiku selain Embun Daniar. Siapa gerangan Embun? jelas kalian tidak akan tau, karena kalian tidak satu seolah denganku.
Beberapa saat kemudian aku mendengar langkah kaki mendekat ke arah kelas ku. Aku dapat merasakan itu. Pujaan hatiku datang, yang tak lain adalah guru matematika ku, yang kabaranya janda beranak satu.
“Selamat pagi anak anak.” benar saja, suaranya terdengar begitu merdu seperti simponi di telingaku.
Embun, wanita behijab dengan usia yang jelas di atasku. Namanya sesuai sekali, wajahnya yang cantik dan sangat menyejukan seperti air embun di pagi hari yang membasahi rumput rumput liar. Sejak awal masuk SMA perasaan suka ini timbul dan terus tumbuh subur seperti di tabur pupuk kandang sampai kini aku akan segera lulus dari SMA ini. Aku cukup sadar diri, tak pernah aku berani mengungkapkan perasaanku, takut jika ibu Embun mengecap ku murid tak sopan.
“Anak anak, keluarkan buku materi kalian ya.” titah bu Embun.
“Arjuna, mana buku materi mu?” tegur bu Embun, membuyarkan lamunanku yang sempat terhipnotis dengan paras cantiknya.
“Maaf bu,” ucapku yang langsung mengeluarkan buku materiku dan megikikuti mata pelajaranya. Dengan fokus aku menyimaknya, bukan menyimak materinya tentunya, tapi menyimak kecantikan dan suara merdunya, membuatku kadang harus mengulang materinya di rumah karena tak ada sedikitpun yang masuk di kepalaku, meskipun aku sudah duduk di bangku paling depan.
***
Sore hari aku merapihkan bukuku dan hendak menuju parkiran untuk pulang.
Ku lihat bu Embun yang sedang berdiri di luar halaman sekolah menunggu angkutan umum. Bu Embun sepertinya dari kalangan biasa, dia tak pernah membawa kendaraan pribadi ke sekolah, membuat aku merasa iba melihatnya. Rasanya ingin sekali aku beralih profesi mnjadi supir angkutan umum untuk mengantarnya pulang. Aku memicingkan mataku, melihat bu Embun yang sedikit membungkuk dan memegangi perutnya.
Ada apa denganya?
aku segera berlari menghampirinya.“Ibu enggak apa apa?” tanyaku khawatir.
Bu Embun mendongkakan wajahnya membuatku mengucap kata Subhanallah berulang kali dalam hati, parasnya begitu cantik jika di lihat dari dekat. Benar benar ciptaan tuhan yang sempurna.
“Arjuna, kamu belum pulang?”
“Belum, ibu enggak apa apa?” tanyaku kembali menatap wajahnya yang sedikit terlihat pucat.
“Enggak apa apa kok, cuma sedikit nyeri perut.”
“Mari bu saya antar ke UKS.” balas ku.
“Enggak usah, saya mau langsung pulang saja.”
Ku lihat jalanan yang sepi, tak juga ada anguktan umum yang melintas.“Angkotnya kayanya masih lama, gimana kalau saya antar aja bu?” tawarku khawatir.
“Enggak merepotkan?” tanyanya ragu.
“Enggak kok.” jawabku lugas. justru suatu berkaah jika aku bisa mengantarnya pulang setiap hari. batinku cengegesan.
__ADS_1
“Yasudah kalau begitu, maaf ya merepotkan.” bak gayung bersambut. Hatiku bersorak gembira mendengar jawabanya.
“Enggak ngerepotin kok bu, bentar ya saya ambil motor saya dulu.” aku segera berlari secepat kilat menunju parkiran .“Silakan naik bu.” ucapku saat sudah kembali menghampirinya.
Bu Embun terdiam.
“Arjuna, apa enggak ada motor lain?” tanyanya memandangi motor ninja hatori ku.
“Ada bu.”
“Oya, sudah pakai motor yang lain saja.” balasnya semangat.
“Tapi motor Ridwan bu.” ucapku polos.
Bu Embun menghela nafas kecewa.“Memangnya pakai motor ini kenapa bu?”
“Motornya besar, ibu enggak biasa naiknya, takut jatuh.” jawabnya sedikit malu. Polos sekali jawabanya membuatku gemas ingin menciumnya. Astagfirulloh!!
“Enggak akn jatuh bu, pegangan yang kencang saja ke saya.” sambil menyelam minum air, baatinku.
Bu Embun sesaat terlihat bingung, namun wajahnya semakin terlihat pucat.“Yasudah.” ucapnya kemudian, menaiki motorku.
“Pegangan bu.” ucapku . Bu Embun pun melingkarkan tanganya di pingangku. Membuat bulu kuduk ku merinding bukan karena takut tapi karena tersengat sentuhanya.
“Sudah.”
***
“Berhenti Juna.” seru bu Embun membuatku mengerem mendadak.
“Berhenti di sini bu?” ku putar pandanganku pada desa di pinggir kota.
“Iya di sini.” bu Embun segera turun dari motor.
“Memangnya rumah ibu di mana?”
“Di situ.” bu Embun menjentikan jarinya pada sebuah rumah yang tak jauh dari tempat motorku terhenti. Bola mataku mengikuti arah jari telunjuknya. Tampak rumah sederhana yang tampak usang termakan usia. Aku merasa iba, bu embun benar benar dari kalangan yang tidak berada.
“Erga!!” pekik suara perempuan dari dalam rumah bu Embun.
“Ibu? itu seperti suara ibu?!” ucap bu Embun yang sontak saja langsung berlari ke dalam rumah. Aku yang penasaran pun segera menyusulnya ke dalam rumah.
“Ibu ada apa bu?” tanya panik bu Embun menghampiri ibunya ke dalam kamar.
“Embun, Erga.. Erga..” balas wanita paruh baya itu menunjuk bayi mungil yang tebaring kaku di tempat tidur.
“Erga! Erga kenapa bu?!” seru bu Embun tak kalah panik, menguncang guncangkan bayi tersebut namun tubuh mungilnya tak sedikit pun merspon dan mengejang.
“Ibu Enggak tau, tiba tiba Erga begini.” wanita paruh baya itu pun menangs di susul bu Embun, terlihat cairan bening yang mulai membasahi wajah cantiknya.
__ADS_1
“Erga kejang bu, kita harus membawanya ke rumah sakit.” bu Embun terlihat semakin panik.
“Tapi ibu enggak ada uang, kamu ada uang?” bu Embun terdiam, wajahnya terlihat gusar.
“Bawa saja ke rumah sakit bu, biar biayanya saya yang menanggung.” ucapku bak pahlawan kesiangan padahal uang di saku ku hanya ada 50 ribu rupiah.
“Juna, kamu jangan bercanda?” bu Embun tampak terkejut dengan ucapanku.
“Iya nak, biaya rumah sakit itu mahal.” timpal orang tua bu Embun yang juga terlihat ragu seraya memeprhatiakan penempilanku yang masih mengenakan seragam SMA.
“Aku serius bu, aku akan bantu menanggung biayanya.” jawabku yakin, menginagat orang tuaku yang berjaya itu pastilah punya uang.“Sudah cepat kita bawa bayi ini, sebelum terlambat.” ucapku, melihat bayi itu semakin tak berdaya.
“I..Iya kita bawa ke rumah sakit.”
“Naik motorku saja bu, biar cepat.”
“I..iya, bu saya naik motor Juna saja ya, nanti ibu nyusul.” wanita paruh baya yang bernama Sari itu hanya mengangguk pelan. Aku dan bu Embun pun segera ke luar rumah menuju rumah sakit.
Tak lama motorku berhenti di sebuah rumah sakit, bayi mungil itu pun segera di tangani petugas medis. kami menunggu di depan ruang IGD dengan gelisah. Terlihat air mata bu Embun yang terus bercucuran, ingin rasanya aku menyeka air matanya seperti adegan adegan di sinetron.
Tak lama seorang pria berjas putih keluar dari ruang IGD.“Bgaimana keadaan bayi saya dok?” tanya bu Embun panik.
“Keadaanya sudah stabil bu, tapi harus tetap mendapat perawatan intensif, kami akan memindahkanya ke ruang rawat inap.” jelas dokter tersebut.
“Alhamdulillah.” bu Embun tersenyum lega.
“Tapi ibu harus menyelesaikan administrasinya dahulu,” lanjut sang dokter.
Seketika wajah Bu Embun meredup. Aku tau pasti dia sedang risau dengan biaya administrasi.
“Kami akan membayarnya.” ucapku.
“Baiklah kalau begitu, saya permisi dulu.” dokter itu melenggang pergi.
“Juna, kamu yakin dengan ucapanmu? Bagaimana kamu akan membayarnya?” tanyanya ragu menatapku.
“Aku bisa meminta uang pada orang tuaku.” jawabku jujur, sebab berbohong pun aku rasa bu Embun tau, aku hanya lah anak sekolah yang masih mengandalkan orang tua.
“Itu merepotkan,”
“Tidak sama sekali.”
“Ibu akan membayarnya menyicil nanti.”
Aku mengangguk saja, bu Embun tentu tidak ingin berhutang budi padaku. Aku merasa sangat iba padanya aku tau status Bu Embun yang sudah tidak memiliki suami, tapi aku baru tau jika dia mempunyai bayi dengan perekonomian yang pas pasan, ingin rasanya aku memeluknya, menghilangkan rasa sedihnya. Astaga, aku berhayal lagi !
Kalian bisa baca ceritanya di fizzo ya dengan Judul "Mengejar Cinta Bu Embun" gratis sampai tamat, semoga masih berkenan untuk baca ya 🙏🙏
__ADS_1