
Beberapa bulan kemudian.
Saat ini Rayyan dan Reska sudah sama sama menyelesaikan kuliahnya dan tengah sibuk dengan rencana pernikahan mereka dan telah kembali ke Indonesia. Malam itu Rayyan sudah berpakaian rapih dengan wajah tampan maksimalnya. Rayyan menyemprotkan parfum di tubuhnya yang membuat kamarnya tercium wangi yang sangat menyengat dan segera keluar kamar untuk ke rumah Reska.
"Mau ke mana kamu?" tanya Rainan yang melihat Rayyan baru menuruni tangga.
"Ke rumah Reska,"
Rainan mengerutkan keningnya."Sudah 5 hari berturut turut kamu ke rumahnya?"
"Memangnya kenapa pah kalau sudah 5 hari?" Rayyan balik bertanya dengan wajah polosnya.
"Tidak apa apa sih," Rainan tampak bingung seraya mengaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Yaudah pah, aku pergi dulu." Rayyan berjalan keluar rumah.
"Astaga.. perasaan dulu gue pacaran enggak gitu gitu banget." gerutu Rainan yang melihat Rayyan dan Reska bak sepasang sendal yang tak terpisahkan.
Tak lama Rayyan sampai di rumah Reska lalu segera mengetuk pintu dan mengucap salam.
"Malam Om," ucap Rayyan yang melihat wajah Kemal di balik pintu.
"Nih anak udah kaya renternir setiap hari dateng ke rumah gue." batin Kemal seraya menggelengkan kepalanya yang sudah bosan melihat wajah Rayyan hampir setiap hari.
"Sayang!!" seru Reska dengan senyum cerianya dan langsung menghampiri sang kekasih.
"Ayo masuk." Reska menarik tangan Rayyan dan mempersilahkannya duduk di ruang keluarga.
Kemal pun masuk ke kamarnya tak lama Shanum pun tertidur di sampingnya. Detik demi detik berlalu namun Kemal tak juga bisa memejamkan matanya.
"Tuh anak udah lengket banget berdua, lagi ngapain mereka ya?" gumam Kemal yang memikirkan sang putri.
"Jangan jangan mereka udah kelewat batas karena mau menikah," Kemal mengelengkan kepalanya membayangkan hal yang tidak tidak.
"Mending gue cek deh, gue takut si Rayyan punya sifat tersembunyi kaya si Rai." Kemal bergegas beranjak dari ranjangnya dan berjalan menuju ruang keluarga.
Kemal mengindap indap seperti maling dan melihat Rayyan dan Reska yang tampak mesra sambil menonton televisi.
"Ehemm.. " Kemal berdehem.
Sontak saja Rayyan dan Reska menoleh ke arahnya.
__ADS_1
"Papa? kok belum tidur?" tanya Reska heran.
"Memangnya kalau papa tidur kalian mau ngapain?" tanya sang ayah dengan wajah menyeramkan.
"Enggak ngapa ngapain kok." wajah Reska sedikit memerah menjawab pertanyaan menohok tersebut.
"Papa enggak bisa tidur," Kemal meletakkan secangkir kopi yang di bawanya dan duduk di samping Rayyan.
"Papa mau ngopi di sini?" tanya kembali Reska.
"Memangnya papa harus ngopi di mana? ini kan rumah papa?" cletuk sang ayah.
"Benar juga sayang," Rayyan mengangguk setuju.
Kemal pun meminum kopinya dan menonton televisi bersama mereka. Namun matanya melirik tangan Rayyan yang sedang merangkul Reska dan sebelah tangannya lagi memegang lembut tangan gadis itu.
"Nempel banget mereka, bahaya nih kalau di tinggal bisa khilaf nih anak." batin Kemal yang mulai gelisah.
"Itu coba duduknya kasih jarak nempel banget kaya di angkot," protes sang ayah seraya melirik tangan Rayyan.
"Oh, iya om." Rayyan melepaskan rangkulannya dan bergeser sedikit dari duduknya tapi tangannya tetap memegang tangan Reska.
"Tangannya enggak usah pegang pegang, kalian kaya mau berpisah saja." sindir kembali Kemal.
"Papa enggak asik banget sih!" gerutu Reska dalam hati.
"Sayang, kita di ruang tamu aja yuk." ajak Reska kemudian.
"Ngapain di ruang tamu, enggak enak enggak ada tv udah sini aja," larang sang ayah.
"Papa nyebelin," gerutu Reska.
"Emm.. yaudah sayang, aku pulang aja ya udah malam juga." ucap Rayyan yang akhirnya memutuskan untuk pulang dan pamit pada Kemal.
"Tuh kan Rayyan jadi pulang," omel sang putri.
"Sudah malam memang sudah waktunya pulang." jawab sang ayah dengan wajah tanpa dosa.
"Huh!" Reska berdecak kesal dan bergegas masuk ke kamarnya.
Beberapa hari kemudian.
__ADS_1
Reska tengah bersiap siap karena hari ini dia akan melakukan pemotretan praweddingnya bersama Rayyan.
"Sayang, kamu mau ke mana?" tanya Kemal yang menghampiri Reska di kamarnya.
"Oh, aku mau melakukan prawedding outdoor sama Rayyan pah," Reska kembali menunjukkan senyum cerianya.
"Oh yaudah papa antar, ini juga hari libur."
"Enggak usah pah tempatnya jauh, aku sama Rayyan aja." tolak Reska.
"Justru tempatnya jauh jadi papa antar saja, sudah ayo berangkat."
Reska pun menekuk wajahnya dan bergegas menghubungi Rayyan kalau dirinya akan di antar sang papa. Setelah menempuh perjalanan cukup jauh mereka pun sampai di lokasi tersebut. Reska pun segera di make up, tak lama Reska menghampiri papanya dan Rayyan setelah memakai gaun pengantin yang cantik.
Kemal terpaku melihat sang putri kecilnya yang dulu sangat manja sekarang tampil sangat cantik di hadapannya. Membuatnya sedikit sedih karena akan melepas putrinya pada anak sahabatnya tersebut.
"Kamu cantik," puji Rayyan yang melihat wajah cantik Reska membuat Reska tertipu malu mendengarnya.
Sesi pemotretan pun. di mulai tampak dari Kemal memperhatikan setiap pose yang diarahkan sang photografer pada mereka ber dua. Sampai ada sesi di mana mereka melakukan pose yang sangat mesra.
"Tunggu tunggu, itu di ganti aja posenya, kurang bagus." protes sang ayah.
"Bagus kok pah," sahut Reska.
"Ini bagus kok pak." sahut juga sang photografer.
"Yaudah deh bagus, tapi jangan banyak banyak pose yang kaya gitu." ucap Kemal dengan berat hati.
Sampai acara pemotretan pun selesai dore itu.
"Pah, Reska pulang sama Rayyan ya mau jalan dulu sebentar." ijin Reska pada sang ayah.
"Sudah sore, langsung pulang saja, besok besok juga bisa ketemu lagi."
"Papa kok gitu sih, Reska kangen sama Rayyan," rengek sang putri.
"Astaga.. hampir setiap hari ketemu masih kangen aja," Kemal menepuk jidat.
"Yaudah sayang, kamu pulang aja ya." ucap lembut Rayyan.
"Papa nyebelin, aku mau pernikahan aku di cepetin aja, biar enggak di ganggu papa lagi." dengus kesal Reska yang memeluk erat lengan Rayyan.
__ADS_1
"Ya ampun kok jadi cewek yang kebelet nikah?" Kemal menggelengkan kepalanya.
"Pokoknya Reska mau cepat nikah." rengek sang putri yang membuat Rayyan dan Kemal tampak lucu melihatnya. Kemal pun berhasil memasukkan Reska ke mobilnya untuk segera pulang walau dengan wajah yang cemberut sore itu.