
Siang itu Rai menghampiri Dira yang sedang duduk bersantai di ruang keluarga " Sayang," ucap nya sambil berjalan menghampiri Dira dan duduk di samping nya.
"Iya sayang, "
" Mama sama papa mau ke sini, waktu itu aku bilang sama mereka ke sini nya kalau rumah kita sudah rapih, sekarang mereka lagi di perjalanan, " Jelas Rai seraya mengelus lembut rambut Dira.
" Oh yaudah, mama sama papa aku juga mau ke sini lagi di perjalanan juga, " sahut Dira.
" Kamu cerita ke orang tua kamu? " tanya Rai dengan ekspresi sedikit kaget.
" iya, memang nya kenapa? "
" Seharusnya kamu enggak usah bilang, aku agak malu kalau mereka tau tentang ini, " ucap Rai dengan ekspresi wajah yang terlihat sedikit sedih.
Dira mendekat kan wajah nya ke wajah Rai, mengusap lembut pipi nya" kenapa harus malu sih? kamu kan enggak berbuat sesuatu yang salah? "
" Aku malu karena harus membuat kamu hidup susah sama aku, "
" Aku enggak merasa seperti itu kok, buat aku kamu suami yang baik, lucu dan ganteng, "
Cup.
Dira mencium bibir Rai sesaat dan tersenyum.
" Nakal banget sekarang." balas Rai sambil mencubit gemas hidung Dira.
***
Setelah itu mereka menonton televisi bersama sampai terdengar suara ketukan pintu dari luar.
"Kayak nya itu orang tua aku, bentar ya aku buka pintu dulu," Rai bergegas menuju pintu depan dan membuka pintu.
"Assalamualaikum sayang, " sapa mama Rai dengan senyum ramahnya.
" Walaikumsalam mah, pah." balas Rai seraya mencium punggung tangan orang tuanya.
Rai pun mempersilahkan orang tuanya masuk. tak lama terlihat Dira yang berjalan menghampiri mereka.
"Pah, mah." ucap Dir yang langsung mencium punggung tangan mertuanya tersebut.
"Sayang, ini mama punya sesuatu untuk kamu," mama Rai memberikan beberapa paper bag pada Dira.
"Apa ini mah? " tanya nya dengan ekspresi bingung.
" ini perlengkapan bayi, maaf ya sayang enggak banyak,"
"Mah enggak usah repot repot Dira sudah beli kok perlengkapan nya sama Rai,"
__ADS_1
"Enggak apa-apa sayang buat nambahin,oia HPL kamu kapan? " tanya mama Rai antusias.
" HPL sih dua minggu lagi mah,"
"Aduh.. mampu enggak sabar lihat nunggu cucu mama lahir." Mama Rai tersenyum sumringah mendengar ucapan Dira.
"Mah, pah, kita makan siang dulu yuk, Dira sudah masak," ajak Dira yang menuntun mertuanya ke meja makan.
Dira bergegas memaruh makanan yang sudah di masaknya ke meja makan. Tak lama kemudian terdengar kembali suara ketukan pintu.
"Psh, mah, Dira buka pintu dulu ya, " pamit Dira yang langsung bergegas membuka pintu dan tampak wajah kedua orang tuanya dari balik pintu.
" Assalamualaikum sayang," ucap mama Dira yang langsung memeluk putri kesayangan nya.
"Walaikumsalam mah, masuk yuk Dira sudah masak untuk makan siang, ada orang tua Rai juga," sahut Dira yang mempersilahkan orang tua nya masuk dan menuju meja makan.
"Pah, mah, ada orang tua aku," ucap Dira yang di respon sapaan ramah dari mertuanya, dan mereka pun menyantap makan siang bersama di iringi obrolan obralan ringan.
"Pak wijaya, saya ikut prihatin atas yang sudah terjadi pada perusahaan bapak," ucap pak bayu di sela sela makan siang mereka.
"Oh, sudahlah, ini sudah biasa terjadi dalam dunia bisnis," sahut papa Rai dengan senyum tipisnya.
"Saya memang bukan pengusaha seperti bapak, ya saya hanya pegawai kantor biasa, Dira sudah cerita semuanya, kebetulan saya ada sedikit rejeki saya ingin membantu bapak untuk melunasi sedikit hutang hutang itu," ucap pak bayu sambil mengambil amplop coklat dari tas nya dan memberinya nya pada papa Rai.
Keluarga Rai hanya terdiam dan cukup terkejut dengan apa yang di lakukan papa Dira saat ini.
"Tidak usah pah, tidak usah repot repot," tolak Rai yang mengembalikan kembali amplop itu.
"Tidak pah, biar Rai yang nanti lunasi, lagi pula besok Rai sudah berkerja di kantor lagi," jelas Rai yang tetap menolak bantuan dari mertuanya tersebut.
"iya pak bayu, tidak usah repot repot, kami tidak apa-apa kok," timpal papa Rai yang di respon raut wajah kecewa dari papa Dira.
Setelah selesai makan mereka pun saling bersanda gurau di ruang keluarga, tak lama mereka pun pamit pulang dan kembali meninggalkan Rai dan Dira berdua.
"Sayang, tunggu," panggil Dira setelah menutup pintu dan berjalan menghampiri Rai yang hendak menuju kamar.
"Kenapa? "
" Kenapa kamu nolak bantuan dari papa aku tadi? papa aku memang bukan pengusaha kok mungkin uang yang di berikan nya juga tidak banyak tapi papa iklas," ucap Dira yang merasa kecewa atas sikap Rai barusan.
Rai mengusap lembut bahu Dira " Bukan begitu, aku sangat menghargai kok niay baik papa kamu, tapi tolong hargai aku juga, aku ingin membangun perusahaan ku kembali dengan tangan ku sendiri, aku akan berkerja keras untuk itu, kamu bisa mengerti kan?"
Dira hanya terdiam dan masih menekuk wajah nya.
"Sayang, bisa kan percaya aku suami mu, kalau aku bisa membuat semuanya kembali seperti semula dengan usaha ku sendiri," sambung Rai seraya mengusap lembut pipi Dira.
"Iya, aku percaya kamu," sahut Dira sambil tersenyum simpul.
__ADS_1
***
Pagi itu Rai sudah siap dengan kemeja formal nya, sambil terus memperhatikan penampilan nya di depan cermin, setelah merasa cukup puas dengan penampilan nya, Rai bergegas menghampiri Dira di meja makan dan sarapan bersama nya.
Setelah itu Rai pergi ke kantor dengan sepeda motor nya. Tak lama Rai sampai di kantor tersebut, kantor yang cukup besar di mana sahabat nya Nanda juga berkerja di sana. Rai mencoba memutar pandangan nya dan melihat Nanda yang sedang menikmati Coffee di kursi luar cafe tak jauh dari kantor nya pagi itu.
Rai berjalan perlahan menghampiri Nanda.
"Udah dateng loe," ucap Rai yang langsung duduk di hadapan Nanda, terlihat Nanda yang sedang memakai earphone seraya memejamkan matanya.
"Astaga, " Rai bangkit dari kursi nya dan melepaskan sebelah earphone tersebut dengan perlahan.
" WOY, UDAH DATENG LOE," teriak Rai tepat di telinga Nanda yang sontak saja membuat nya membuka mata dan tersentak kaget.
"Astagfirullah!! gila loe!! " umpat nya seraya mengelus ngelus dada nya merasakan detak jantung nya yang beredar kencang seakan akan lari ke luar dari tubuh nya.
Rai terkekeh geli melihat ekspresi Nanda dan kembali duduk di kursi nya" Lagian pagi pagi kuping udah di sumpel gitu, pake acara merem merem segala lagi, mau loe gue sumpel beneran pake kapas terus gue kirimin doa kematian," cletuk Rai sambil terus tertawa.
"idih amit amit deh, loe aja sana duluan, eh, dari kapan loe dateng??" tanya nya seraya menyeruput coffe di hadapan nya.
"Dari tadi, loe gue panggil enggak nyaut nyaut,"
"Oh, bentar lagi masuk nih, loe langsung ke lantai dua aja, tunggu di sana, "
" Serius loe gue bisa langsung masuk? " tanya Rai antusias dan mencondongkan wajah nya ke Nanda.
" Serius, tenang aja,"
" Wah enggak sia sia emang gue punya temen kaya loe," sahut Rai dengan senyum sumringah nya.
"iya gue yang sia sia punya temen kaya loe," cletuk Nanda.
"Ntar gue traktir makan deh," goda Rai sambil mengangkat sebelah alis nya.
"Bosen ah, gue udah sering makan," tolak Nanda
"Ya iyalah loe masih hidup pasti sering makan kalau loe udah mati baru enggak makan," cletuk Rai sambil sedikit tertawa.
" Kenalin gue sama cewek deh, loe kan banyak tuh kenalan cewek yang bening bening," ucap Nanda yang sontak saja membuat Rai terkekeh geli mendengar nya.
" Udah bosen jomblo loe? kan banyak tuh cewek di klub masa engga dapet," ledek Rai.
"Enggak mau gue cewek klub, yang beneran dikit, sini ada engga? "
" Aduh, udah engga save nomor cewek gue takut Dira ngamuk,"
"Ah payah, dasar bucin,"
__ADS_1
" Nanti deh gue cariin, tenang aja, kasian ntar keburu ubanan belum juga nikah lagi loe," ledek Rai sambil terus tertawa yang membuat Nanda bedecih kesal.
Guys.. tolong bantu vote yak.. bisa kan.. ❤️❤️❤️