
Nanda masih cekikikan sendiri dalam hati melihat tiga mahluk di hadapannya yang masih memasang wajah yang muram.
"Aduh puyeng pala gue liat muka loe bertiga, gue tau pasti loe habis pada ribut ya? gue punya ide nih supaya cewek cewek itu bisa luluh lagi." ucap Nanda seraya menaikkan sebelah alisnya dengan wajah yang meyakinkan.
Sontak mereka bertiga menoleh ke arah Nanda.
"Gimana caranya? tanya Rai penasaran.
"Gimana kalau kita ajak mereka dinner romantis, kita boking restoran mahal untuk nanti malam, gimana?" usul Nanda.
Mereka bertiga berfikir sesaat.
"Boleh juga tuh, gue belum pernah ajak Shanum dinner romantis sih." ucap Kemal.
"Sama, gue juga belum pernah ajak Dira dinner romantis." sahut Rai.
"Boleh juga sih, gue sekalian mau nembak Chika deh." timpal Arya antusias.
"Encer kan otak gue, yaudah sekarang kita boking restoran aja, gue tau restoran yang paling bagus." ucap Nanda percaya diri.
"Ok, ayo." sahut Rai dan mereka semua pun bergegas menuju mobil masing masing menuju restoran yang di maksud Nanda. Tak lama mereka sampai di restoran yang cukup besar dan masuk dan segera memboking restoran tersebut dengan pihak restoran untuk rencana mereka nanti malam.
"Udah beres." ucap Nanda yang menghampiri teman temannya yang sedang duduk setelah mengurus semuanya.
"Eh Nan, gue mau nanti makanya di temenin pemain biola dong, kaya di film film tuh." pinta Kemal.
"Lagak loe, segala pake pemain biola." cibir Arya.
"Iya, biasa di temanin pengamen juga kalau makan." timpal Rai.
"Iya,ribet loe akh." sambung Nanda.
"Loe enggak pada romantis sih, payah loe." keluh Kemal.
"Yaudah loe cari sendiri aja tukang biolanya, gue mau balik." sahut Nanda yang langsung keluar restoran di susul Rai dan Arya meninggalkan Kemal yang terlihat jengkel.
***
Sore itu di rumah Kemal.
"Sayang." Kemal memeluk Shanum yang tengah memasak di dapur.
"Sudah pulang kak?" Shanum mematikan kompor dan menghadap suaminya.
"Sudah, kamu masih marah ya? maaf ya." Kemal meminta maaf untuk kesekian kalinya.
Enggak kok." Shanum tersenyum.
"Serius?"ucap Kemal tak percaya.
"Iya, " Shanum kembali tersenyum manis.
Kemal bernafas lega.
" Oia sayang nanti malam kita makan di luar ya." ajak Kemal untuk rencananya nanti malam.
"Nanti malam?" Shanum tampak terkejut.
"Iya nanti malam."
"Nanti malam aku di undang ke acara tetangga kak, katanya sih syukuran gitu." tolak Shanum.
"Hah? yaudah batalin aja ya." titah Kemal yang tampak terkejut.
"Enggak bisa kak, aku udah terlanjur janji, aku juga tetangga baru jadi enggak enak kalau enggak dateng nanti di kira sombong." tolak Shanum.
__ADS_1
"Tapi sayang.. "
Shanum dengan cepat mengunci bibir Kemal dengan telunjuknya.
"Besok besok aja ya makan malamnya, aku ingin bergaul sama tetangga juga kak." ucap Shanum memeles.
Kemal tampak kecewa tapi tak bisa melarang istrinya juga.
Di rumah Nanda.
Selesai sholat magrib beejamaah Sabrina mencium tangan suaminya yang selalu menjadi imam sholat untuknya sekarang.
"Sayang, malam ini kita makan malam di luar ya." ajak Nanda tanpa basa basi.
"Malam ini?" Sabrina tampak terkejut.
"Iya malam ini."
"Malam ini, abi sama umi mau ke sini kak, aku juga sudah masak banyak." jelas Sabrina.
"Abi sama umi mau ke sini? kok mendadak banget?" Nanda kaget bukan kepalang mendengar ucapan sang bidadari surganya.
"Iya, tadi sore mereka baru telepon." jelas Sabrina kembali.
"Enggak bisa di undur sayang?"
"Kok di undur kak? kakak enggak suka ya kalau orang tua aku datang?" gadis itu tampak kecewa dengan ucapan Nanda.
"Bukan, bukan itu maksud aku, aku malam ini pengen banget ajak kamu makan di luar." jelas Nanda.
"Kak makan di luar kan bisa kapan aja, memangnya lebih enak masakan di luar dari pada masakan aku kak?" protes Sabrina.
"Enggak, lebih enak masakan kamu sayang."
"Yaudah nanti aku cek cafe bentar deh." ucap Nanda mencari alasan dan hanya bisa pasrah dengan keputusan sang istri.
Di rumah Arya.
Malam itu Arya bergegas menghubungi Chika.
"Halo Ar, ada apa?" terdengar suara Chika di balik telepon.
"Hemm, Cik kamu malam inu ada acara enggak?"
"Enggak ada sih Ar, kenapa memangnya?" tanya gadis itu.
"Cik malam ini aku mau ajak kamu makan di luar." Arya mengutarakan maksudnya.
"Heem gitu, sebenarnya aku mau Ar, cuma aku lagi enggak enak badan nih, aku demam." keluh Chika yang memsng sedang sakit hari itu.
"Sakit? Arya tampak terkejut dengan ucapan gadis itu.
"Iya Ar, aku sakit." keluh Chika.
"Yaudah aku antar ke dokter ya." bujuk Arya.
"Enggak usah Ar, aku udah ke dokter kok tadi sore sama papa, maaf ya."
"Oh yaudah, enggak apa-apa, kamu istirahat aja."sahut Arya pasrah yang tidak mungkin memaksa gadis itu meskipun dia sudah menyiapkan seribu kata kata romantis itu menyatakan cintanya pada Chika malam itu.
Di rumah Rai.
"Sayang." Rai menghampiri Dira di kasur yang sedang memberi asi pada baby Rayka.
"Heeemmm." sahut Dira.
__ADS_1
"Masih marah?" Rai memegang wajah Dira agar menatapnya.
"Dikit." sahut Dira jutek.
"Maaf, ini deh untuk kamu." Rai mengeluarkan uang banyak dari dompetnya yang sekarang senjata ampuh untuk ibu dua anak itu.
"Banyak banget sayang." mata Dira berbinar binar.
"Iya, besok kamu shopping." rayu Rai.
"Asik, makasih ya, tapi aku masih lemes nih kalau shopping di mall aku belanja online aja deh." ucap Dira yang langsung mengambil uang yang di pegang Rai, Rai hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah Dira yang sekarang lebih cepat merespon uang semenjak menyandang status ibu rumah tangga.
"Sayang, kita makan di luar yuk." ajak Rai seraya mengusap lembut rambut Dira.
"Sayang kamu enggak denger omongan aku tadi? aku masih lemes yank, enggak mau jalan ke luar dulu." ucap Dira yang merasa tubuhnya masih belum fit usai melahirkan.
"Sebentar aja yank.. " bujuk Rai.
Dira menggeleng" Aku lemes yank.. besok besok aja ya." tolak Dira halus.
"Tapi yank.. "
Dira mengunci bibir Rai dengan bibirnya dan menciumnya sesaat.
"Lebih penting makan sama aku atau tidur sama aku?" ucap Dira memberikan pilihan.
"Tidur sama kamu lah." sahut Rai yang memang tidak bisa tidur jika Dira tak di sampingnya.
"Ya sudah besok besok aja ya makan di luar nya." ucap Dira dengan senyum manisnya yang membuat Rai hanya bisa pasrah.
"Yaudah aku mau cek cafe bentar." Rai mengambil jaketnya dan hendak menemui teman temannya di restoran tersebut walaupun rencana dia gagal untuk pergi dengan Dira.
"Pap, tut." Rayyan menghampiri Rai dan memeluk kakinya.
"Sudah malam sayang." tolak halus Rai seraya menggendong Rayyan.
"Pap, tuutt.." ucap Rayyan yang langsung menangis.
"Kamu pergi sebentar kan? yaudah Rayyan ikut aja yank." ucap Dira yang pusing jika Rayyan menangis.
"Yaudah kamu ikut." sahut Rai pasrah yang membuat Rayyan berhenti menangis dan Rai bergegas keluar rumah menuju ke restoran tersebut.
Tak lama Rai dan Rayyan sampai di restoran tersebut dan bergegas masuk ke dalam yang ternyata sudah ada ke tiga temannya dengan wajah yang bermuram durja.
"Loe udah pada sampai? gue engga jadi ajak Dira nih." ucap Rai yang langsung duduk.
"Gue juga enggak jadi ajak Shanum." sahut Kemal.
"Gue juga enggak jadi ajak Sabrina." timpal Nanda.
"Geu juga enggak jadi ajak Chika." sambung Arya.
"Lho apes semua nasib loe?" tanya Rai heran.
"Emang loe enggak apes?" tanya Kemal aneh.
"Apes juga sih terus gimana nih?" tanya Rai bingung.
"Gimana lagi, gue udah kasih uang DP tadi sayang kalau enggak jadi hangus tuh duit." keluh Nanda.
"Yaudah pesen makan aja deh, belum makan juga gue." sahut Kemal pasrah.
Mereka semua pun setuju, memesan makan dan makan bersama tanpa para wanitanya dan hanya di temani Rayyan yang tampak sibuk mengacaukan makan malam mereka yang kelabu malam itu.
Guys, tolong bantu vote ya biar aku semangat nulisnya❤️❤️
__ADS_1