
"Kak," ucap Sabrina siang itu yang menghampiri Nanda yang sedang menonton televisi di ruang keluarga.
"Iya sayang." sambil membelai lembut rambut sang istri.
"Aku mau mangga." pinta Sabrina manja, yang memang sedang mengidam di awal awal kehamilannya.
"Yaudah, aku beliin ya."
"Aku mau yang langsung dari pohon kak." pintanya lagi.
Seketika otak Nanda langsung mengingat kejadian beberapa tahun lalu." Langsung dari pohon? perasaan kaya istrinya si Rai dulu deh ngidamnya, kok bisa sama ya? jangan jangan bibitnya sama nanti kaya si Rayyan gitu.. amit amit deh." batin Nanda seraya menggelengkan kepalanya.
"Kakak, kenapa?" melihat Nanda yang tiba-tiba menggelengkan kepalanya ekspresi ngeri.
"Enggak apa-apa, aku telepon tante dulu deh, dia punya pohon mangga." bergegas mengambil handphone di meja untuk menghubungi tantenya.
Nanda menelepon, tak lama dia menutup telepon dengan ekspresi kecewa.
"Gimana kak?" tanya Sabrina antusias.
"Kata tante pohon mangganya sudah di tebang,"
Sabrina menghela nafas "Yah, terus gimana?" ucapnya memelas.
"Yaudah, aku cariin ya, aku pergi dulu." sambil mencium kening sang istri.
"Makasih ya." Sabrina tersenyum sumringah.
Nanda bergegas beranjak dari sofa, mengambil jaket dan masuk ke mobilnya. Lalu Nanda mengambil handphonenya untuk menghubungi seseorang.
"Halo, kenapa?" terdengar suara Rai dari balik telepon.
"Temenin gue cari pohon mangga." pinta Nanda.
Rai mengerutkan keningnya "Cari pohon mangga kenapa nelepon gue?" tanyanya dengan sedikit jengkel.
"Sabrina ngidam, mau mangga yang langsung dari pohonnya, loe lupa dulu Dira juga ngidamnya kaya gitu, terus gue bantuin cari." ucapnya sambil mengungkit amal kebaikannya beberapa tahun lalu.
Rai tertawa "Masih inget aja loe, itu waktu jaman batu juga." Rai menggelengkan kepalanya.
"Jaman batu apaan, anak loe aja belum sekolah SMA, berarti belum lama, yaudah cepat ayo cariin." pintanya memakasa.
"Ngambek? yaudah ke rumah gue deh."
"Ok." Nanda menutup teleponnya dan bergegas melajukan mobilnya ke rumah Rai.
Tak lama Dia sampai di rumah Rai, dan Rai segera masuk ke mobil Nanda.
"Ke rumah tante loe aja." ucap Rai yang teringat tante Nanda mempunyai pohon mangga.
"Kalau di rumah tante gue ada, ngapain gue minta tolong loe, udah di tebang pohonnya."
"Hah di tebang? terus cari di mana?" tanya Rai bingung.
"Ya, enggak tau, cari aja lah pokoknya." Nanda bergegas menyalahkan mesin mobilnya dan meninggalkan rumah Rai.
Mereka pun akhirnya menyusuri jalan dengan perlahan berharap ada pohon mangga yang bertengger di depan rumah salah seorang warga. Setelah cukup lama mencari mereka tetap tidak menemukan pohon mangga tersebut, kalau pun ada sedang tidak berbuah.
__ADS_1
"Aduh udah lama nih kita cari, gue punya usul nih." ucap Rai yang sudah merasa bosan.
Nanda mengerutkan keningnya "Usul apaan?"
"Loe beli aja mangga di supermarket, Sabrina enggak akan tau kok yang penting stiker buahnya di copot." ucap Rai yang mengusulkan perbuatannya dahulu.
"Loe dulu gitu?" Nanda balik bertanya.
"Iya, tapi ketahuan, gue lupa copot stiker buahnya." Rai nyengir kuda.
"Pantes Dira, enggak cinta sama loe, loenya aja gitu." cletuk Nanda.
"Sialan loe, kalau Dira enggak cinta mana mungkin dia punya anak dua dari gue." gerutu Rai yang rasanya ingin sekali menjitak kepala Nanda.
Nanda tertawa "Gue enggak mau akh kaya gitu, gue mau tetap cari buat bidadari surga gue."
" Terserahlah."
Mereka pun tetap mencari. Sampai mereka melihat pohon mangga yang sedang berbuah lebat di halaman salah satu warga.
"Banyak banget tuh mangganya." ucap Nanda antusias.
Rai menoleh ke arah mata Nanda tertuju " Iya banyak." Rai mengangguk setuju.
Nanda segera memberhentikan mobilnya di depan rumah tersebut. Tampak gerbangnya sedang terbuka dan ada beberapa anak anak yang bermain di sana.
"Permisi dek, yang punya rumah ini ada enggak?" tanya Nanda pada salah seorang anak.
"Kenapa emangnya om?" tanya polos anak tersebut.
Anak anak remaja itu saling melirik satu sama lain dengan ekspresi jahil.
"Saya anak pemilik rumah ini om, orang tua saya lagi pergi."jawab salah satu anak.
"Oya? yaudah om minta mangganya ya buat istri om." jawab Nanda antusias.
"Boleh om, tapi bayar dulu." pinta anak tersebut.
"Bayar, oke deh bayar berapa?" tanya Nanda.
"200rb sepuasnya om."
"Buset dah mahal bener." Nanda dan Rai terbelalak kaget mendengarnya.
"Kan sepuasnya om?" bujuk anak tersebut.
"Om enggak minta sepuasnya lagian ini buat orang hamil bukan buat dagang." tolak Nanda.
"Yaudah kalau enggak mau om." sahut anak tersebut.
"Udah kasih aja Nan, mau cari di mana lagi coba." bisik Rai.
"Yaudah deh, tapi ambilin ya." pinta Nanda.
"Kita sibuk om, om ambil ajs sendiri." ucap sombong salah seorang anak.
"Ngajak ribut banget nih bocah." batin Nanda.
__ADS_1
Nanda pasrah dan akhirnya memberikan uang tersebut, tampak anak akan remaja tersebut terlihat senang.
"Yaudah om, kita pergi dulu mau main, makasih om.." ucap mereka bersamaan.
"Yaudah pergi sana." sahut Nanda gemas dan anak anak tersebut bergegas pergi.
"Rai ambilin dong, gue enggak bisa manjat." pinta Nanda.
"Gue juga enggak bisa manjat." sahut Rai santai.
"Enggak berguna emang loe, yaudah gue manjat deh demi bidadari surga." gerutu Nanda yang akhirnya memanjat pohon tersebut dan mengambil mangga tersebut satu persatu.
Sampai seorang pria keluar dari rumah tersebut dan memperhatikan Rai dan Nanda.
"Woy, lagi ngapain loe??" sentak pria tersebut yang sontak saja membuat Rai dan Nanda terlonjak kaget.
Nanda menoleh dan melihat pria tersebut yang tampak marah "Kok ada orangnya tadi kata tuh anak orang tuanya lagi pergi?" batin Nanda bingung.
"Loe mau nyolong mangga ya?" tuduh orang tersebut.
Nanda dan Rai kaget bukan kepalang dan Nanda bergegas turun dari pohon mangga. Lalu menghampiri pria paru baya tersebut.
"Kita enggak nyolong om, tadi udah minta ijin kok sama anak om." jelas Nanda.
"Anak apaan? saya enggak punya anak."
Sontak saja Nanda dan Rai semakin terkejut di buatnya dan langsung menyimpulkan mereka telah di tipu dengan anak anak tersebut.
"Cari alesan aja, emang kalian mau nyolong mangga kan?" tuduh pria itu kembali.
"Enggak om, tadi anak yang main di sinj bilang dia anak om." kilah Nanda.
"Alah, alasan aja kalian." pria tersebut tidak percaya.
"Keluarin senjata maut." bisik Rai.
Nanda pun mengeluarkan uang 200rb dari dompetnya.
"Yaudah om, kita minta mangganya." sambil memberikan uang tersebut.
"Nah, gitu dong, yaudah ambil deh." pria tersebut tersenyum sumringah.
Nanda dan Rai pun menghela nafas dan Nanda kembali memetik mangga tersebut. Tak lama mereka selesai dan mereka pamit pulang lalu masuk ke mobil.
"Bangkrut, bangkrut gue, seplastik mangga gue keluar uang 400rb." gerutu Nanda yang merasa sangat sial hari itu.
Rai hanya terkekeh geli melihat penderitaan temannya itu.
"Nasib loe lebih sial dari gue ternyata." Rai tertawa puas.
"Liat aja kalau gue ketemu tuh bocah gue karungin tuh semuanya." gerutu Nanda yang sangat kesal di tipu dengan anak anak tersebut.
Rai hanya terus tertawa sampai Nanda mengantarnya pulang. Dan Nanda kembali ke rumah lalu memberikan mangga tersebut pada istri tercintanya.
Hay guys.. semoga terhibur ya.. Oia tolong berikan vote kalian dong sebelum novel ini benar benar vakum 😅😅😅
Tentang permintaan kalian yang minta di buat kan sequel tentang anak anak mereka, mungkin aku akan memikirkannya..tapi enggak sekarang yak..aku perlu waktu untuk memikirkan konsep dan alur ceritanya matang matang.. ok terima kasih, semoga sukak❤️❤️🤗🤗🤗
__ADS_1