
Malam itu Reska sudah siap dengan sedikit riasan di wajahnya serta dress cantik yang membalut tubuhnya membuat dirinya terlihat lebih feminim dan cantik malam itu.
"Sayang, Rayyan sudah datang tuh." Shanum mengetuk pintu putrinya dan masuk ke kamar.
"Cantik enggak mah?" Reska tersenyum meminta pendapat mamanya.
"Sayang, kamu cantik banget." puji Shanum yang melihat penampilan Reska berubah.
"Sepertinya Reska benar-benar menyukai Rayyan." batin Shanum yang memberikan seulas senyum tipis pada putrinya itu.
Reska bergegas keluar kamar dan menghampiri Rayyan yang tengah menunggunya di teras rumah.
"Rayyan." panggilnya seraya mendekat ke arah Rayyan.
Rayyan menoleh dan memutar pandangannya pada penampilan Reska malam itu. Rayyan berdiri dan terus memperhatikan Reska dari ujung kepala hingga ujung kaki.
"Kayaknya ada yang beda deh sama penampilan loe malam ini? apa ya?"
Reska tersenyum malu mendengar ucapan Rayyan.
"Yuk pergi," ajak Reska dengan penuh semangat.
Rayyan mengangguk dan berpamitan pada Kemal dan Shanum malam itu dan meninggalkan rumah Reska. Tak lama Rayyan memberhentikan motornya di sebuah taman kota dan berjalan jalan di sana.
"Mau ice cream?" Memberikan ice cream pada Reska yang tengah duduk di bangku kosong di sana.
"Makasih," tersenyum dan menikmati ice creamnya.
"Em.. loe sampai berapa lama di sana?" Tanya Reska yang sebenarnya tidak ingin Rayyan pergi.
"Ya sampai selesai, tapi juga pulang kok kalau libur kuliah."
"Oh," Reska tersenyum.
Rayyan mengambil tisu di sakunya dan membersihkan sudut bibir Reska yang ada sedikit sisa ice cream di sana.
"Makan kok berantakan terus." sambil membersihkan sudut bibir Reska dengan lembut.
Wajah Reska sudah merah padam hatinya tak dapat lagi menolak jika dia sangat mencintai Rayyan saat ini.
"Loe harus bisa jaga diri, gue enggak bisa lagi menjaga loe." ucap Rayyan yang fokus pada pemandangan taman di hadapannya.
__ADS_1
"Kenapa bicara seperti itu?"
Rayyan tersenyum." Loe tau, orang tua kita bersahabat dari dulu, bahkan sebelum kita lahir."
Reska mengangguk."Lalu?" tanyanya kembali.
"Diantara loe ber empat gue yang usianya paling tua, dan loe tau, gue sudah menganggap loe semua seperti sahabat sekaligus adik gue."
"Adik?" suara Reska bergetar mendengar ucapan Rayyan.
Rayyan kembali tersenyum."Orang tua gue selalu berpesan sewaktu gue kecil untuk selalu menjaga dan melindungi loe seperti adik gue sendiri, sampai saat ini gue sangat menyayangi loe seperti adik gue sendiri.. tapi mulai besok gue enggak bisa menjaga loe lagi, loe harus jaga diri loe baik-baik, mengerti?" mengacak rambut Reska dengan gemas.
Bibir Reska semakin bergetar dadanya terasa sangat sesak mendengar Rayyan yang hanya menganggapnya seperti adiknya. Reska telah salah mengartikan sikap manis Rayyan padanya dan mungkin Rayyan tidak akan pernah bisa mencintainya. Air mata sedikit jatuh di pelupuk matanya.
"Res? kenapa loe nangis?" Rayyan tampak bingung dan menghapus air mata Reska dengan jarinya.
"Enggak apa-apa kok, cuma sedikit sedih karena loe akan pergi." dengan nada bergetar mencoba mencari alasan.
"Gue enggak pergi selamanya, gue akan sangat merindukan loe."
Reska mencoba tersenyum."Gue juga akan sangat merindukan loe." balasannya lirih.
Reska menggeleng."Gue, gue.. mau pulang aja." pintanya.
"Loh kenapa? baru juga jam segini?" Rayyan tampak bingung.
"Gue.. sedikit capek hari ini." mencoba kembali mencari alasan.
"Yaudah, kita pulang." Rayyan pasrah dan bergegas mengantar Reska ke rumahnya. Tak lama motornya berhenti tepat di depan rumah Reska.
Reska bergegas turun dan hendak masuk ke dalam tapi Rayyan menahan lenganya.
"Res, besok pagi loe antar gue ke bandara kan?"
Reska mengangguk."Iya gue pasti ke bandara, gue masuk dulu." ucapnya yang berusaha tersenyum.
Reska bergegas masuk dan menuju kamarnya. Membenambamkan wajahnya di kasur dengan air mata yang mengalir di pipinya.
"Kenapa, kenapa gue salah paham sama Rayyan? Rayyan enggak mungkin suka sama gue, harusnya gue menyadari itu.. " gumamya dengan air mata yang semakin deras membasahi pipinya.
***
__ADS_1
Pagi harinya Rayyan, keluarga serta temsn temannya sudah berkumpul di bandara untuk mengantar kepergian Rayyan.
" Si Reska kok belum datang udah siang gini?" melihat arloji di pergelangan tangannya seraya bola matanya mencari keberadaan Reska.
Rayyan mengambil handphone dan berulang kali mencoba menghubungi Reska tapi handphonenya tidak aktif.
"Emang dia bilang mau datang?" tanya Devan.
"Iya." sahut Rayyan yang mencoba mengirim pesan untuk yang kesekian kalinya pada Reska.
"Bentar deh, papa hubungin papanya." Rai mengambil handphonenya dsn mencoba menghubungi Kemal.
Tak lama Rai menutup teleponnya setelah berbicara dengan temannya itu.
"Reska sakit katanya, enggak bisa datang." ucap Rai pada Rayyan.
"Sakit?" Rayyan tampak tak percaya.
"Sakit? perasaan kemaren kemaren masih panjang nafasnya tuh anak, sekarang malah sakit." cletuk Elang.
"Sudah sayang, pesawatnya sebentar lagi take off." ucap Dira.
"Yaudah Rayyan pergi dulu." berpamitan pada orang tua dan teman temannya.
"Hati hati ya sayang." Dira memeluk erat putra kesayangannya itu.
Rayyan tersenyum dan perlahan meninggalkan orang tua dan teman-temannya walau hatinya merasa sedih karena Reska tidak dapat mengantarnya hari itu.
Visual Rayyan dan Reska
Visual Rayyan aku ganti yak, kayaknya lebih cocok mike D'angelo.. 😁😁
Visual Reska tetap sama..
Nanti malam aku up lg kalau votenya kenceng.. ❤️❤️❤️❤️
__ADS_1