
Sabrina segera meminta ijin untuk menjenguk Nanda pada orang tuanya malam itu, setelah mendapat ijin Sabrina pun segera menaiki taxy menuju rumah sakit. Tak lama gadis itu sampai di rumah sakit dengan tergesa gesa Sabrina menuju ruang rawat Nanda.
"Assalamualaikum." ucapnya saat hendak masuk ke ruangan tersebut.
"Walaikumsalam." sahut Arya, Kemal dan Rai yang ada di dalam.
Sabrina pun masuk dan langsung memutar pandangannya pada Nanda yang sudah Terbaring lemah dan belum sadar, langkah kakinya dengan cepat menghampiri Nanda.
"Astagfirullah, kenapa bisa seperti ini?" ucapnya sedih saat melihat wajah dan tubuh Nanda penuh luka dan lebam.
"Tadi Nanda sama gue, terus tiba-tiba aja di keroyok 5 orang, salah satunya namanya Roby." jelas Arya tanpa basa basi.
Sabrina menoleh ke arah Arya dan tampak terkejut " Apa? Roby?" Serunya tak percaya.
"Iya, memangnya Roby itu siapa nya kamu?" tanya Kemal penasaran.
"Roby itu.. tadinya calon suami aku tapi aku memilih membatalkan menikah dengannya."
"Oh, baguslah jadi usaha Nanda enggak sia sia." cletuk Rai.
Sabrina pun kembali menatap Nada dengan sedih.
Ya allah, kenapa Roby tega melakukan ini? kasian kak Nanda, ini semua karena aku. batinnya sedih.
Tak lama Nanda mulai menggerakkan jarinya, dan membuka sedikit matanya, terlihat samar teman temannya dan gadis cantik yang juga sedang berdiri di samping tempat tidurnya.
"Kak Nanda, kak Nanda sudah sadar?" seru Sabrina yang terlihat senang.
Nanda mencoba membuka lebih lebar kedua matanya, dan merasakan seluruh tubuhnya di penuhi rasa sakit.
"Udah sadar loe?" tanya Rai yang melihat Nanda masih seperti linglung.
"Sabrina? kenapa kamu di sini?" tanya Nanda bingung.
"Kak Arya yang tadi kasih tau aku di telepon jadi aku langsung ke sini." gadis itu tersenyum legs melihat Nanda yang sudah sadar.
"Oh, makasih ya." Nanda tersenyum sumringah.
"Loe enggak ucapin makasih juga sama gue? kalau enggak ada gue tadi nyawa loe udah di angkut sama malaikat." dengus Arya kesal.
"Iya, iya makasih." jawabnya dengan nada berat.
"Tau gini mending tadi gue naik angkot deh." sesal Arya.
"Salah loe sendiri, kata gue juga naik angkot aja." Nanda tertawa melihat wajah Arya yang juga tampak lebam.
"Loe lebih ganteng muka loe begitu kok." puji Rai dengan senyum jahilnya.
"Mata loe rabun." umpat Arya.
Mereka pun tertawa dan tak lama orang tua Nanda pun datang, Setelah jam besuk usai mereka semua pun pulang.
__ADS_1
***
Keesokan harinya setelah pulang kuliah Sabrina pun kembali menjenguk Nanda di rumah sakit. Sabrina menggantikan menjaga Nanda saat orang tua Nanda kembali ke rumahnya sebentar.
"Kakak, sudah makan?" tanya gadis itu seraya duduk di samping tempat tidur Nanda.
"Sudah kok."
"Maaf ya, ini semua karena aku kakak jadi gini, kita harus lapor polisi kak, ini tidakan kriminal." ucap Sabrina yang tampak sedikit emosi akan perbuatan Roby.
Nanda menggeleng " Enggak usah, biarin aja."
"Tapi.."
"Sabrina, kamu mau menikah dengan ku?" Nanda memotong perkataan gadis itu. Ekspresinya terlihat terkejut dengan ucapan Nanda.
Gadis itu hanya terdiam.
"Aku takut Roby akan melakukan hal yang buruk pada mu, dan aku rasa aku sudah tidak ingin berpacaran atau menjalin hubungan yang tidak jelas seperti anak muda, kamu mau menikah dengan ku?" Nanda menggulangi pertanyaannya.
Sabrina masih tetep terdiam membuat Nanda sedikit pesimis Sabrina akan menolaknya.
"Kalau tidak bisa jawab sekarang juga tidak apa-apa." ucapnya semakin pesimis.
Tak lama gadis itu mengangguk" Iya, aku mau." sahutnya seraya tersenyum.
Nanda senang bukan kepalang mendengar ucapan gadis di hadapannya " Seius?" tanyanya tidak percaya.
"Alhamdulillah, aku akan langsung membawa orang tua ku ke rumah mu, makasih ya." ucap Nanda dengan senyum yang terus mengembang di bibirnya.
***
Ke esokan harinya Nanda pun sudah di perbolehkan pulang, pagi itu Nanda sedang menikmati sarapan bersama orang tuanya.
"Pah, mah, aku mau bicara." ucapnya dengan wajah yang tampak serius.
"Bicara saja." sahut papa Nanda tenang sambil menyantap sarapannya.
"Aku mau menikah."
Orang tua dan adik Nanda pun melirik ke arahnya bersamaan.
Oh Yasudah, papa setuju." ucap papa yang memang berfikir usia Nanda sudah seharusnya menikah.
"Aku mau melamar Sabrina secepatnya." sambung Nanda.
Uhuk.. uhuk.
Papa Nanda pun tampak terkejut dengan ucapan putranya.
"Sabrina anaknya ustad Irawan maksud mu? yang menjenguk mu di rumah sakit?" tanya papa tidak percaya.
__ADS_1
Nanda pun mengangguk.
"Kamu serius sayang? " tanya mama yang juga tidak percaya.
"Iya, memangnya dia mau sama kamu?" sambung papa.
"Papa tuh ngomong apa sih? emang aku jelek banget apa? " dengus Nanda kesal.
"Tingkah laku mu yang jelek." cletuk papa.
"Aku mau berubah, pokoknya minggu depan antar aku kerumah nya, aku mau melamarnya." tegas Nanda tanpa memperdulikan orang tuanya yang masih memasang wajah tidak percaya.
Satu minggu kemudian Nanda dan orang tuanya pun berkunjung ke rumah Sabrina.
"Assalamualaikum." ucap mereka seraya mengetuk pintu.
"Walaikumsalam." terlihat wajah ayah Sabrina saat membuka pintu.
"Masyaallah, pak Wahyu, tumben berkunjung kesini?" seru Ayah Sabrina yang terlihat senang.
"Iya ada yang saya ingin bicarakan."
"Oh ayo masuk." Ayah Sabrina pun mempersilahkan Nanda dan keluarganya masuk dan menyuruh istrinya untuk membuatkan minum.
"Begini, saya ke sini ingin mendampingi putra saya menyampaikan niat baiknya untuk putri bapak." ucap papa Nanda tanpa basa basi.
Ayah Sabrina tampak terlihat bingung " Maksud baik untuk Sabrina maksudnya?"
"Iya, saya ingin melamar Sabrina." ucap Nanda penuh keyakinan.
Ayah Sabrina pun tersenyum "Sebentar saya panggil Sabrina dulu."
Ayah dan ibu Sabrina pun bergegas memanggil Sabrina untuk menemui Nanda dan keluarganya.
"Sabrina, aby sudah tau kamu dan nak Nanda sudah cukup dekat, sekarang nak Nanda ingin melamar mu, apa kamu mau?" tanya ayah Sabrina.
Gadis itu pun mengangguk pelan dengan wajah yang tampak merona.
"Alhamdulillah." ucap mereka bersamaan.
"Lalu mahar apa yang nak Sabrina inginkan?"tanya papa Nanda antusias.
Sabrina melirik ke arah ayahnya, tampak ayahnya mengangguk pelan.
"Dari dulu saya sudah pernah bicara sama aby kelak kalau menikah saya ingin mahar itu berupa hafalan Al Qur'an." jelas gadis itu.
"APA?" ucap Nanda dan keluarganya serempak.
Nanda tampak terkejut dan juga orang tuanya yang menatapnya dengan tatapan khawatir mengingat kelakuan putranya dahulu, jangan kan menghafal membaca Al Quran pun orang tuanya tidak pernah melihatnya.
Penasaran ya? vote dulu yak.. 🤗🤗❤️❤️
__ADS_1