Menikahi Gadis Culun

Menikahi Gadis Culun
Berantakan


__ADS_3

Jangan menunggu terluka baru meminta maaf dan jangan menunggu pergi baru kau mencari nya.


***


Pagi itu Dira sudah bangun dan mulai melakukan aktifitas biasanya di dapur membuat sarapan. Rai yang baru keluar kamar mencoba menghampirinya di dapur.


Terlihat Dira yang sedang memasak dan beberapa kali ke wastafel berusaha mengeluarkan isi perut nya yang selalu terasa mual di awal kehamilannya.


Rai menhampiri Dira dan kembali mencoba memijat leher belakangnya.


"Kita ke dokter saja ya? " bujuk Rai yang merasa tak tega melihat istrinya terus mual mual.


Dira hanya menggeleng.


"Makanlah, aku sudah buat sarapan" ucap Dira yang hendak meninggalkan suaminya.


.Rai menghela nafas dan menahan lengan dira.


"Apa lagi? "


"Kesabaran ku ada batasnya " ucap Rai.


"Lalu? "


"Untuk terakhir kalinya aku katakan, aku mencintaimu, untuk terakhir kalinya juga aku bertanya apa kamu mau kembali dan mulai dari awal lagi dengan ku? "


Jantung Rai sedikit bedegup menanti jawaban dari istrinya tersebut, ingin rasanya dia membuktikan kata kata tapi Dira seakan tidak memberi kesempatan dan Rai sudah di sangat lelah dengan semua respon yang diterimanya.


"Aku tetap ingin berpisah " tegas Dira.


Rai melepaskan tangan Dira perlahan, dan sedikit mengalihkan pandangan nya seraya menahan sedikit sesak karena penolakan Dira untuk yang kesekian kalinya.


"Baiklah, aku tidak akan mengganggu mu lagi " Rai tersenyum lirih dan meninggalkan rumah Dira.


Dira menghela nafas dan menghapus air matanya yang sedikit terjatuh.


aku yakin ini yang terbaik. batin dira.


***


Satu minggu berlalu Rai benar-benar tidak pernah menganggu dan menghubungi Dira lagi.


"Sayang, Rainan enggak pernah ke sini lagi " tanya mama Dira yang khawatir dengan masalah rumah tangga putrinya tersebut.


"Kita sudah sepakat untuk berpisah mah " jawab Dira lirih sambil mencoba fokus pada televisi di hadapan nya.


"Berpisah? Dira jangan buru buru memutuskan sesuatu, apa salahnya beri Rai kesempatan? "

__ADS_1


"Dira lelah mah, tolong mengerti Dira, hargai keputusan Dira "


Mama Dira hanya menghela nafas, mendengar ucapan dira dan tau betul kalau putrinya cukup keras kepala sambil terus berharap putrinya bisa berubah fikiran.


***


Malam itu Nanda menemani Rai di club malam. Rai semakin berantakan dan semakin sering menghabiskan waktunya di club malam, sering pula membuat teman nya harus membawa nya pulang karena Rai sering pulang dalam keadaan mabuk berat dan tak sadar.


"Udah Rai, sampai kapan loe kaya gini terus "ucap Nanda sambil mengambil botol wine yang di pegang Rai.


Rai hanya tersenyum dengan keadaan yang sudah setengah sadar.


"Rai loe harusnya bujuk Dira, bukannya minum kaya gini " cletuk Nanda yang mulai gemas dengan tingkah temanya itu.


"Bujuk? gue udah bujuk dia, tapi loe tau? dia tetap nolak gue, padahal gue itu sayang banget sama dia, dia juga lagi hamil anak gue , gue kehilangan istri sekaligus


anak gue, keren enggak nan? " ucap Rai dengan ocehan nya yang semakin terdengar tidak jelas.


kasihan juga nih anak. batin nanda


"Rai, gue minta alamat rumah Dira " ucap Nanda sambil membangunkan Rai yang sudah seperti akan hilang kesadaran.


"Ngapain loe minta alamat Dira? mau nikung gue loe? " sahut Rai.


"Gue mau bawa Dira ke sini "


"Oh, gitu, bagus bagus.. " ucap Rai sambil memberitahukan alamat rumah Dira dengan nada yang semakin tidak jelas dan mulai memejamkan mata nya di meja bar.


Nanda segera melajukan mobil nya menuju rumah Dira, walaupun jam sudah menunjukkan pukul 03.00 dini hari. sampai tak lama nanda tiba di rumah Dira.


"Assalamualaikum " ucap Nanda sambil mengetuk pintu.


"Walaikumsalam "terdengar suara dari dalam rumah.


"Malam tante, maaf mengganggu, saya teman Rai, bisa saya bertemu Dira " ucap Nanda tanpa basa basi begitu melihat mama Dira membukakan pintu.


"Oh iya, silakan masuk, tante panggil dulu " jawabnya dengan ekspresi bingung dan langsung menuju kamar putrinya.


"Dir, bangun sayang " ucap mama Dira sambil menepuk pelan tubuh putri nya.


Dira membuka matanya dan mencoba memakai kacamata untuk melihat lebih jelas.


"Ada apa mah? "


"Ada teman Rai, mau ketemu sama kamu katanya? "


"Teman Rei? untuk apa malam malam ke sini? " jawab Dira dengan nada jengkel.

__ADS_1


"Sudah kamu temui saja dulu sana "


Dira pun mulai turun ke lantai bawah dan melihat Nanda yang sedang menunggu di ruang tamu rumahnya.


"Kamu? " ucap Dira saat mencoba menghampiri Nanda.


"Dir, gue nanda teman Rai, maaf gue ganggu, loe bisa ikut sebentar enggak sama gue sekarang? "


"Kemana? "


"Ke tempat Rai "


"Enggak bisa, kamu kan teman baiknya, urus saja sendiri " ucap Dira yang hendak berbalik badan dan meninggalkan Nanda.


"Loe mau lihat Rai mati? " ucap Nanda.


"Maksudnya? " tanya Dira sedikit takut mendengar ucapan Nanda.


"Yaudah, makanya ikut gue sekarang " bujuk Nanda.


Dira pun akhirnya memilih untuk mengikuti ajakan Nanda dan mulai masuk ke mobil nya. Tak lama mereka sampai di club malam tersebut.


"Untuk apa ke sini? " tanya Dira dengan nada jengkel saat tau Nanda membawa nya ke tempat yang tidak di sukai nya.


"Ikut aja dulu " ucap Nanda yang langsung turun dari mobil.


Dira mulai memasuki club malam tersebut yang sudah terlihat sepi karena hari sudah akan pagi dan hanya terlihat beberapa orang saja di sana.


"Ini suami loe " ucap Nanda yang membawa Dira ke meja bar dan melihat Rai yang sudah tak sadar kan diri di meja tersebut.


"Dia mabuk mabukan? "


" iya, setiap malam dia ke sini , bokap nya udah enggak bolehin dia urus perusahaan lagi, jadi dia sering nginep di rumah gue " jawab Nanda sambil tersenyum kecut.


Dira hanya terdiam.


"Dir, gue minta maaf atas perkataan teman gue soal niat Tai nikahin loe, Rai emang brengsek, termasuk gue dan temen gue yang lain, kita semua brengsek, tapi gue kenal rai udah lama dan dia enggak pernah seberantakan ini, dia benar-benar mencintai loe, fikirkan kembali keputusan loe dir " ucap Nanda yang langsung meninggalkan Dira


Dira berjalan perlahan menghampiri Rai yang sudah tak sadar di meja bar. Dira menyandarkan juga kepalanya di meja bar tersebut, dan menatap lekat wajah Rai.


" Dasar bodoh "


Dira mengusap bibir Rai dengan telunjuk nya.


"Kenapa berbuat hal yang tidak berguna seperti ini? mau membuktikan dengan cara seperti ini? " gumam Dira.


Rai perlahan membuka matanya terlihat samar wajah Dira, Rai memegang tangan Dira yang masih memgusap bibirnya.

__ADS_1


"Dira " Rai tersenyum.


"Aku cinta kamu, kamu pasti tidak percaya, tidak apa apa, aku akan tetap cinta kamu walau nanti kita akan berpisah " ucap nya dengan nada yang semakin tidak jelas dan kembali memejamkan matanya.


__ADS_2