
"Shanum kenapa diam saja?" tanya Kemal yang melihat Shanum masih terdiam dengan fikirannya sendiri.
"Aku belum memberitahukan ibu tentang hal ini, aku mau memberitahukannya dulu."
Kemal mengehal nafas lega "Jadi itu alasannya? aku fikir kamu tidak mau menikah dengan ku."
Shanum mengangguk.
"Boleh pinjam handphone mu?" pinta Kemal.
Shanum mengambil handphonenya dari dalam tas dan memberikannya pada Kemal.
"Aku sudah menyimpan nomor ku, besok hubungi aku kalau kamu sudah memberitahukan ibu mu, oke?"
"Iya, aku masuk dulu ya." jawab Shanum sambil tersenyum dan keluar dari mobil.
Keesokan harinya Shanum mencoba menghubungi ibunya di kampung.
"Halo teh nana, ini Shanum, ibu ada? aku ingin bicara." ucap Shanum yang menghubungi tetangganya terlebih dahulu karena ibunya tidak memiliki handphone.
"Oia Shanum tunggu sebentar ya." sahut tetangganya tersebut.
"Halo, Shanum, ada apa?" terdengar suara ibunya dari balik telepon.
"Ibu, bagaimana keadaan ibu?"
"Alhamdulillah sehat nak, kamu sendiri bagaimana di sana?"
"Alhamdulillah sehat juga bu, bu ada yang mau Shanum bicarakan."
Ibu Shanum mengerutkan keningnya "Mau bicara apa nak?"
Shanum terdiam sesaat.
"Kak Kemal ingin menikah dengan Shanum." ujarnya pelan.
"Shanum kamu serius? tidak bercanda?" Ibu Shanum tampak terkejut dengan ucapan putrinya.
"Tidak bu, Shanum serius."
"Shanum kamu tidak ingat pesan ibu kita itu harus ingat siapa diri kita, lagi pula belum tentu orang tuanya menyetujui kalian."
"Tidak bu, semalam Shanum sudah bertemu dengan orang tua kak Kemal dan mereka setuju dan mengijinkan kak Kemal menikah dengan Shanum." jelas gadis itu.
Ibu Shanum hanya terdiam tanpa mengucapkan apa pun.
"Ibu, ibu setuju kalau Shanum menikah dengan kak Kemal?"
"Ibu khawatir, mereka itu orang kota sedangkan kita hanya orang desa, ibu takut nanti kamu kecewa Shanum." sahut ibu dengan pemikirannya.
"Ibu tidak semua orang kota itu jahat, kak Kemal sangat baik, percaya sama Shanum, Shanum juga mencintainya." gadis itu memohon.
Ibu Shanum menghela nafas.
"Yasudah, lakukan saja yang menurut kamu itu baik untukmu." ucap ibu pasrah.
Seulas senyum mengembang di bibir gadis itu.
"Terima kasih bu, Shanum akan beritahu kak Kemal dulu, Shanum sayang ibu."
"Ibu juga sayang kamu, jaga kesehatan di sana."
"Iya bu, assalamualaikum." Shanum menutup teleponnya dengan senyum yang masih mengembang di bibirnya.
__ADS_1
Shanum bergegas menghubungi Kemal.
"Assalamualaikum kak Kemal."
"Walaikumsalam, Shanum ada apa?"
"Aku sudah telepon ibu dan.."
"Jangan katakan sekarang, aku ingin mengajak mu jalan malam ini, bisa?" Kemal dengan cepat memotong perkataan gadis itu.
"Mau ke mana kak?" sahutnya bingung.
"Kemana saja, aku jemput jam setengah tujuh ya."
"Oh iya." Shanum menutup teleponnya.
Malam hari Kemal darang ke rumah Rai.
"Mau kemana loe?" tanya Rai penasaran.
"Kepo, urusan anak muda ini sih." cibir Kemal.
"Belagu." tangkis Rai.
"Udah loe siap siap mental aja bentar lagi kan jadi bapak beranak 2" ledek Kemal sambil tertawa.
"Enggak apa-apa lah gue bapak beranak 2 yang penting tampang gue masih kaya abg." ujar Rai dengan sombongnya.
"Iya abg tua." Kemal kembali tertawa.
"Sialan loe."
"Kak Kemal." ucap Shanum yang menghampiri Kemal.
"Sudah siap?" tanya Kemal yang langsung berdiri dari sofa.
Shanum mengangguk pelan.
"Shanum hati hati ya, kalau dia macam macam hubungi aku." ucap Rai.
"Di kira gue penjahat kali, udah yuk berangkat." sahut Kemal yang langsung keluar dari rumah Rai malam itu.
Kemudian mereka pun menuju sebuah mall dan masuk ke dalam.
"Shanum kita makan dulu ya." ajak Kemal.
Shanum mengangguk dan Kemal memesan makanan di sebuah restoran.
"Shanum, apa kata ibu mu?" tanya Kemal sambil menunggu pesanan mereka datang.
"Ibu setuju, aku menikah dengan kakak."
"Benarkah?"
"Iya." sahut Shanum dengan senyum sumringahnya.
"Baguslah, aku punya sesuatu untuk mu."
Kemal mengeluarkan kotak kecil dari sakunya.
"Ini untuk mu." ucapnya seraya memperlihatkan cincin cantik di kotak tersebut.
"Untuk ku?" Shanum tampak bingung dan terkejut.
__ADS_1
"Aku sudah berbicara pada orang tua ku, mereka tidak bisa menemui ibu mu di desa karena masih banyak perkerjaan, orang tua ku berpesan untuk mengundang ibu mu ke rumah ku jika sudah dekat hari pernikahan kita, aku akan mempersiapkan pernikahan kita, anggaplan cincin ini sebagai simbol aku melamar mu." jelas Kemal sambil tersenyum.
Shanum hanya terdiam dengan binar mata yang tampak terharu karena ini pertama kalinya dia di perlakuan sebaik ini dengan seorang pria.
"Aku pakaikan ya." Kemal menyematkan cicin cantik itu di jari manis Shanum.
"Syukurlah pas, kamu suka?" tanya Kemal.
"Suka, makasih ya." sahut Shanum yang tampak tersenyum bahagia.
Kemal pun tersenyum melihat wajah gadis itu tampak bahagia dan mereka mulai menyantap makanan yang sudah di pesan Kemal.
"Shanum, kita nonton dulu yu." ajak Kemal selesai makan.
"Nonton, nonton apa kak?" tanya Shanum polos.
"Nonton bioskop, mau kan?"
Shanum pun mengangguk walaupun sebenarnya dia tidak pernah menonton bioskop sebelumnya. Kemal bergegas memesan tiket dan masuk ke studio yang filmnya akan segera di putar. Shanum memutar pandangannya pada dalam studio yang tampak sudah gelap dan mereka duduk di sana.
Jadi seperti ini bioskop? batin Shanum.
"Kenapa Shanum?" tanya Kemal yang melihat Shanum tampak bingung.
"Ini pertama kalinya aku ke bioskop kak." jawab Shanum jujur.
Kemal tersenyum dengan jawaban gadis polos itu.
"Kamu suka?"
"Suka." Shanum tersenyum.
Mereka pun mulai menonton film. Shanum tampak tak nyaman dengan suhu bioskop yang sangat dingin.
"Kamu kedinginan?" tanya Kemal yang melihat gelagat Shanum.
"Kenapa harus sedingin ini kak? apa supaya layar yang besar itu panas jadi harus di dinginkan udaranya?!" tanya Shanum dengan pertanyaan polosnya.
Kemal tampak bingung menjawab pertanyaan Shanum "Nanti aku cari di google dulu ya." sahut Kemal.
Shanum pun kembali menonton film.
"Masih dingin enggak?" tanya Kemal yang mencoba memegang lembut tangan Shanum.
Gadis itu tersenyum dan tampak malu. Pandangan mereka pun saling bertemu. Kemal menyibakan poni Shanum yang sedikit menutupi wajahnya. Jantung Shanum semakin berdegup tak karuan saat Kemal hendak mendekatkan bibirnya ke bibir Shanum.
Shanum memejamkan matanya dengan sangat gugup. Kemal tersenyum kecil melihat ekspresi gadis itu.
Cup.
Kemal mencium kening gadis itu.
Shanum membuka matanya dengan wajah yang masih merona.
"Kamu gugup?" tanya Kemal pada Shanum yang sedikit menundukkan wajahnya.
"Iya." jawabnya pelan.
Kemal tersenyum mendapati kembali jawaban polos gadis itu.
"Aku tidak akan macam macam, tapi aku akan membuat mu lebih gugup lagi saat kita sudah menikah." bisik nakal Kemal di telinga Shanum yang membuat gadis itu semakin gugup tak karuan.
Guys.. jangan lupa vote yak ❤️❤️ banyak banget yang nanyain arya nih? siapa ya jodohnya arya, cika bukan ya? penasaran ya? biarin akh aku suka buat kalian penasaran 😅😅😅
__ADS_1