
"Shanum pergi dari rumah?" tanya Arya penasaran.
Dira menggangguk pelan.
"Kemana si Shanum pergi?" tanya Kemal yang juga penasaran.
"Sepertinya dia pulang ke kampung." jawab mama Dira.
"Iya, sepertinya dia pulang ke kampung." Dira pun bergegas mengambil handphonenya dan menghubungi Shanum, tapi nomornya sudah tidak aktif.
"Nomornya sudah tidak aktif." ucap Dira dengan nada kecewa.
"Memangnya kampungnya si Shanum di mana?" Kemal kembali bertanya.
"Di Bandung , bagaimana ya, sebenarnya aku ingin membujuk dia kembali tapi tidak mungkin juga kalau aku kesana sekarang, dia anak yang baik Rayyan juga sudah dekat dengannya." ucap Dira yang tampak bingung.
"Oh, yaudah gue aja yang ke sana, gue bakal bujuk dia kembali lagi ke sini." jawab Kemal antusias.
"Modus.. " cletuk Arya.
"Iya enggak percaya gue loe bisa bawa Shanum balik yang ada loe ajak Shanum nikah lagi." ledek Nanda.
"Gue serius." Kemal berusaha meyakinkankan.
"Kalau kamu ke kampus Shanum kan jauh nanti bagaimana perkerjaan mu?" tanya mama Rai heran.
"Aku bisa ambil cuti kok tante lagian udah lama juga enggak jalan keluar kota."
"Eh gue ikut dong, udah lama nih gue juga enggak jalan ke luar kota." ucap Arya yang tiba-tiba menyela.
"Enggak boleh, gue sendiri aja, ada loe ngeribetin." cletuk Kemal.
"Makin keliatan isi otak loe, mau ngerayu si Shanum loe ya di sana?" tuduh Arya.
"Loe sendiri ngapain ikut? mau ikut ngerayu juga?" sahut Kemal tak mau kalah.
Mereka yang ada di ruangan pun hanya menatap geli perdebatan dua mahluk aneh tersebut.
"Yaudah sono loe berdua ke si Shanum." ucap Rai yang terkekeh geli.
"Enggak jadi deh, gue nunggu Shanum pulang aja." jawab Arya yang akhirnya memilih mengalah.
"Payah loe Ar, belom perang udah nyerah duluan." ledek Nanda sambil tertawa.
"Belum tentu juga si Shanum mau sama sama si Kemal." ketus Arya.
Kemal pun tersenyum kecut mendengar ucapan Arya.
"Yaudah loe besok si Shanum deh, bujuk sampai dia mau kerja lagi kalau enggak berhasil gue pecat loe jadi temen." ancam Rai.
"Ngeremehin gue, lihat aja nanti." sahut Kemal dengan senyum percaya dirinya.
***
Keesokan harinya Kemal pun mengambil cuti dari kantor nya dan hari berikutnya Kemal bersiap siap ke berangkat ke tempat Shanum pagi pagi sekali. Setelah cukup lama menyetir Kemal tiba di kota tersebut, tapi dia agak kesulitan mencari letak rumah Shanum yang sudah di beritahukan Dira sebelumnya.
Sampai sore hari Kemal tak kunjung menemukan rumah Shanum. Dia pun memberikan mobilnyw sejenak.
Ya ampun, di mana sih rumah si Shanum? perasaan udah jauh banget nih dari kota. gumam nya seraya melihat jalanan yang cukup sepi tampak seperti dia berada di dalam sebuah kampung yang jauh dari kota.
Kemal pun kembali melajukan mobilnya dan sesekali bertanya pada orang sekitar. Sampai malam hari Kemal masih saja mengendarai mobilnya.
__ADS_1
Astaga.. si Shanum tarzan cantik kali ya? perasaan nih kampung udah pedalaman banget deh. batinnya sambil melihat suasana kampung yang sepi dengan banyak pepohonan besar di sekitarnya.
Sampai mobilnya berhenti pada suatu rumah setelah untuk kesekian kalinya dia bertanya pada warga sekitar. Kemal bergegas keluar dari mobilnya matanya terpaku pada rumah yang sangat sederhana dengan beberapa bagiannya yang terlihat sudah mulai rapuh.
Serius ini rumahnya si Shanum? batinnya yang langsung merasa iba melihat rumah tersebut yang tampak sangat berbeda dengan rumahnya di jakarta.
Kemal pun perhlan masuk ke teras rumah tersebut.
"Assalamualaikum." ucapnya seraya mengetuk pintu.
"Walaikumsalam." terdengar suara wanita dari dalam rumah yang langsung membuka pintu.
Wanita paruh baya itu sejenak terpaku melihat Kemal di perhatikannya pria di hadapannya itu dari ujung kepala sampai ujung kaki.
"Maaf, apa benar ini rumahnya Shanum?" tanya Kemal yang membuyarkan lamunan wanita itu.
"Oh.. i.. iya benar, maaf adek ini siapa ya?"
"Saya temannya Shanum, saya bisa bertemu Shanum?"
"Oh iya, bentar ibu panggil dulu ya, ayo masuk dek."
"Makasih, saya tunggu di teras saja." sahut Kemal sambil tersenyum.
Ibu Shanum pun bergegas menghampiri Shanum di dapur.
"Shanum, Shanum, ada yang mau bertemu kamu tuh." panggil ibu Shanum yang sudah berdiri di hadapannya
Gadis itu pun mengerutkan keningnya "Siapa bu?" tanyanya bingung.
"Enggak tau, cowok, katanya teman kamu ganteng banget mukanya kaya artis di tv tv." jelas ibu Shanum antusias.
Shanum pun semakin bingung dan bergegas keluar rumah, di lihatnya Kemal yang sedang melamun di teras rumahnya.
Kemal pun menoleh" Shanum?" sahut kemal seraya tersenyum.
"Pak Kemal kenapa ada di sini?" tanyanya bingung.
"Santai aja, sini duduk." ucap Kemal yang melihat Shanum masih berdiri dan tampak kaget.
Gadis itu pun duduk di teras.
"Kamu kenapa pergi dari rumah Dira?" tanya kemal memulai percakapan.
Wajah gadis itu tiba tiba berubah dengan ekspresi sendu" Tidak apa-apa, hanya ingin berhenti saja."
"Apa kamu masih menyalahkan dirimu sendiri?"
Shanum hanya terdiam.
"Di minum dek." sampai ibu Shanum datang membawakan minum.
"Makasih bu, jadi merepotkan." kemal tersenyum canggung.
"Tidak apa-apa, kalau boleh tau adek ini dari mana? " tanya ibu Shanum penasaran.
"Saya dari Jakarta."
"Ini temannya pak Rainan bu, suaminya mbak Dira." jelas Shanum.
"Oh begitu, jauh sekali dari Jakarta sampai malam begini, kalau begitu adek menginap saja di sini, sudah malam." ucap ibu Shanum mengingat jam sudah menunjukkan pukul 10 malam.
__ADS_1
"Enggak usah bu, saya tidur di mobil saja." sahut Kemal yang merasa tidak enak.
"Masa tidur di mobil, sudah di dalam saja, tapi maaf ya dek, rumahnya begini adanya." bujuk ibu Shanum.
"Enggak apa apa kok, makasih ya bu." Kemal tersenyum.
"Yaudah ayo masuk, Shanum kamu bereskan dulu kamarnya."
Shanum pun mengangguk dan mempersilahkan Kemal masuk. Kemal memutar pandangannya pada rumah sederhana tersebut, tampak rumah yang sepertinya sudah tua termakan usia. Tampak juga beberapa anak kecil yang bermain di dalam, yang sepertinya itu adik Shanum.
"Bentar ya pak, saya rapihkan kamarnya dulu."
"Makasih ya."
Shanum pun bergegas ke kamar adiknya yang untuk sementara menjadi kamar istirahat Kemal dan segera merapihkannya. Tak lama Shanum kembali menghampiri Kemal.
"Pak, kamarnya sudah aku rapihkan, bapak istirahat dulu saja, pasti capek." ucap Shanum.
Kemal pun mengangguk dan Shanum mengantarnya ke kamar tersebut. Kemal kembali memutar pandangannya pada kamar yang cukup kecil dengan beberapa tumpukan barang di sekitarnya.
"Maaf ya pak, kamarnya begini." ucap Shanum malu mengingat Kemal pastilah orang kaya.
"Enggak apa apa kok, di izinkan bermalam di sini pun aku udah senang, oia kamu kenapa masih panggil bapak? panggil Kemal saja."
"Rasanya tidak sopan." tolak Shanum mengingat usia Kemal pastilah di atasnya.
"Yaudah panggil kakak saja, jangan bapak, aku merasa seperti om om kalau di panggil bapak."
Gadis itu pun sedikit tertawa mendengar ucapan Kemal " Yaudah, kak Kemal istirahat ya, aku juga mau tidur." pamit Shanum.
"Oh yaudah, met malam ya."
Gadis itu tersenyum dan berlalu pergi meninggalkan Kemal sendiri di kamar. Kemal pun melepaskan jaket yang di kenakakan nya dan berbaring di kasur. Matanya masih memperhatikan kamar sederhana tersebut.
Si Shanum bener bener dari keluarga sederhana ternyata, kasihan juga. batin kemal yang semakin merasa iba, sampai tak lama dia memejamkan matanya dan mulai tertidur.
Tengah malam Kemal merasa keringat beecucuran dari tubuh dan wajahnya.
"Ya ampun panas banget." ucapnya yang terbangun dan tidak biasa kepanasan karena biasa menggunakan AC di rumahnya.
Kemal duduk dan mengibaskan tangannya. dia pun keluar kamar tampak rumah yang sepi di lihatnya beberapa lembar kertas di meja Kemal bergegas mengambilnya.
Dia pun kembali berbaring di ranjang seraya mengipasi dirinya sendiri dengan kertas tersebut. Sampai cukup lama dia melakukan itu.
"Aduh yang ada tidur mah enggak tangan gue copot deh ngipas terus." gerutunya saat tanganya mulai terasa pegal.
"Enggak ada kipas angin ya?"
Kemal pun kembali ke luar kamar di lihatnya kipas angin kecil di ruang tamu, dia pun bergegas membawanya ke dalam.
"Enak nih adem." ucapnya setelah menyalahkan kipas tersebut.
Sampai saat dia hendak memejamkan matanya, tercium bau obat nyamuk bakar yang menyengat karena terkena angin.
"Aduh obat nyamuk gini banget ya baunya? berasa lagi bakar sampah gue? " ucapnya sambil memperhatikan kamar yang cukup banyak asap.
Kemal pun bergegas mematikan obat nyamuk tersebut. dan kembali mencoba memejamkan matanya. sesekali tangannya menepuk nepuk bagian tubuhnya yang di gigit nyamuk.
"Aduh sekarang banyak nyamuk." gerutunya kembali.
Kemal pun bergegas menyalahkan obat nyamuk itu kembali dan menaruh kipas angin di luar kamar seperti semula.
__ADS_1
"Enggak usah pakai bajulah." ucapnya yang langsung melepaskan kaus di tubuhnya agar tidak kepanasan dan akhirnya bisa tertidur pulas
Guys..jangan lupa vote yak biar aku makin semangat nulisnya ❤️❤️❤️