
Sore itu Kemal bergegas pulang ke rumahnya. Semampai di rumah Kemal memanggil manggil nama sang istri berulang kali sampai dia melihat Shanum yang sedang memasak di dapur.
"Sayang."ucapnya seraya memeluk tubuh sang istri dari belakang.
Shanum tidak mejawab, melepaskan pelukan Kemal dan fokus menaruh makanannya di meja makan.
"Sayang kamu masih marah? aku minta maaf." sesal Kemal yang merasa emosinya tadi siang berlebihan.
"Aku mau mandi kak." jawab Shanum singkat yang langsung meninggalkan Kemal ke kamar mandi.
Malam hari pun mereka makan bersama tapi Shanum tetap saja memasang wajah murung dan diam seribu bahasa walaupun Kemal sudah berulang kali meminta maaf dan merayunya.
"Sanyang, maafin aku ya, jangan marah lagi donk." Kemal kembali membujuk dan memeluk Shanum yang tidur membelakanginya.
"Aku ngantuk kak, aku mau tidur." sahut Shanum yang merasa Kemal menciumi punggungnya lalu bergegas menarik selimut dan menutupi seluruh tubuhnya.
Kemal menghela nafas dan merasa cukup frustrasi membujuk istri kecilnya itu.
***
Di tempat lain.
Sudah beberapa hari Dira pulang dari rumah sakit setelah melahirkan. Dira pun memutuskan untuk tinggal di rumah orang tuanya untuk beberapa waktu. Malam itu Dira, Rai dan Rayyan sedang bercanda seraya menggoda baby Rayka. Sampai mama Dira masuk dan ikut menggoda cucunya tersebut.
Rai pun beranjak dari kasur membawa bantal dan hendak ke luar kamar. Rai berfikir pasti mama mertuanya itu kembali tidur menemani Dira dan Rai harus tidur terpisah seperti sewaktu di rumahnya dulu.
"Rai, kamu mau kemana?" tanya mama Dira heran.
"Mau tidur di kamar tamu lagi mah." jawab Rai pasrah.
"Lho, kamu tidur di sini saja, mama sudah enggak tidur sama Dira kok." mama Dira tersenyum.
Rai mematung, kenapa bisa secepat itu memberikan ijin tidak seperti mamanya yang menyuruh Rai tidur terpisah cukup lama.
"Beneran mah enggak tidur di sini lagi?" ucap Rai tidak percaya.
"Iya, yasudah, mama mau tidur dulu. ngantuk "mama Dira bergegas keluar dari kamar putrinya.
Rai kembali ke kasur dengan wajah yang masih heran.
__ADS_1
" Sayang, mama kamu beda ya?" ucapnya yang membandingkan dengan mamanya dulu.
Dira tertawa. "Sudahlah, tapi senang kan?" goda Dira.
"Senang lah.. bisa peluk kamu lagi kalau bobo." Rai tersenyum.
"Yaudah, aku mau buang air dulu ya, jaga Rayka dulu ya."
"Oh yaudah."
Dira pun bergegas ke kamar mandi. Rayyan yang duduk di samping Rai menepuk kaki Rai dan menunjukkan botol susunya yang kosong.
"Cu, pap." pinta Rayyan.
"Bentar ya tunggu mama dulu." tolak Rai.
Namun Rayyan menangis dan melepar botol susunya ke arah Rai.
"Ya ampun, ya udah tunggu papa buat dulu." Rai bergegas ke dapur membuat susu untuk Rayyan.
Dira yang sedang di kamar mandi tiba tiba tersentak kaget mendengar suara tangisan baby Rayka yang sangat kencang. Dira bergegas ke luar kamar mandi dengan panik.
"Ya ampun, Rai ke mana sih?" gerutunya yang langsung menggendong Rayka namun bayi mungil itu terus menangis sampai Dira melihat sedikit darah di pipi bayi merah itu.
"Kakak kamu apain adik??!!" ucap Dira yang langsung menduga itu pasti ulah Rayyan.
Balita mungil itu mengeleng dan kembali meletakkan tangan mungilnya di wajah Rayyan yang sedang di gendong Dira.
"Kakak kamu cakar adik?" geram Dira.
Dira bergegas mengecek kuku Rayyan yang mulai panjang " Ya ampun, kakak di sentuh saja jangan di cakar." dengus Dira kesal.
Tak lama Rai kembali dengan botol susu di tangannya.
"Kemana saja kamu?" tanya Dira yang sudah terlihat emosi.
"Buat susu, kenapa Rayka?" tanya Rai yang melihat bayi itu masih menangis.
"Bisa enggak sih kalau mau pergi bilang aku dulu, lihat nih Rayka di cakar Rayyan." Dira memperlihatkan sedikit darah di pipi bayi merah itu
__ADS_1
ASTAGA RAYYAN!! BENAR BENAR KAMU ITU!! " sentak Rai pada Rayyan yang sangat emosi dan pertama kalinya Rai merasa sangat marah pada putrnya itu
Balita itu memandang takut Rai, bibir mungilnya bergetar dan menangis.
"Kamu kok bentak Rayyan sih? ini kan salah kamu enggak jaga Rayka dengan baik." ucap Dira yang tidak terima putranya di marahi.
"Aku tadi buat susu dulu." sahut Rai membela diri.
"Harusnya kamu panggil aku." mereka pun saling menyalahkan dengan perdebatan sengit.
"Sudah, kamu tidur di kamar tamu, Rayyan sama aku enggak mau tidur sama kamu." Dira mendorong tubuh Rai ke luar kamar walau Rai masih mengoceh dan meminta maaf Dira tidak memperdulikannya.
Sampai pagi hari Dira masih msrah dan tidak mau bicara padanya. Akhirnya hari libur itu Rai memutuskan untuk mengecek cafenya dan ternyata di cafe sudah ada Kemal yang duduk di sana dengan wajah murungnya.
"Udah lama loe."' Rai menghampiri Kemal dan duduk di sebelahnya.
"Lumayan." jawabnya singkat.
"Enggak ada masalah kan?" tanya Rai kembali.
"Enggak cuma sepi aja."
Rai melirik susasana cafe yang memang sepi dan melihat wajah Kemal yang sedang mendung tapi dia malas bertanya karena suasana hatinya pun sedang tidak baik yang masih bertengkar dengan Dira karena Rayyan yang mencakar bayi mungilnya.
Tak lama datang Arya yang menghampiri mereka.
"Udah lama? terus udah di cek semuanya?
enggak ada masalah?" tanya Arya yang langsung duduk di hadapan mereka.
"Enggak," jawab Rai dan Kemal singkat.
Arya memperhatikan wajah dua sahabatnya yang tampak mendung seperti langit yang akan turun hujan tapi Arya pun enggan bertanya karena suasana hati pun yang sedang tidak baik karena hubungannya dengan Chika yang hanya berjalan di tempat.
Sampai tak lama Nanda datang dan melihat tiga mahluk yang sedang duduk itu tampak sedang melamun dengan fikirannya masing masing.
"Kenapa loe semua? muka loe lecek semua." Nanda tertawa renyah.
"Berisik loe." sahut mereka bersamaan.
__ADS_1
"Dasar, dari jauh muka loe bertiga udah kaya cucian kotor." ledek Nanda dengan tawa kemenangannya karena hanya dia yang tidak merasa galau.
Guys.. aku up lg nih..jangan lupa vote yak❤️❤️❤️ untuk novel sebelah nanti malam aku up lg yak 🤗🤗🤗