Menikahi Gadis Culun

Menikahi Gadis Culun
S2 Extra part menunggu para istri


__ADS_3

Malam itu Rai tampak asik memainkan game di handphonenya setelah dua anaknya tertidur seraya menyandarkan kepalanya di pangkuannya Dira. Rai sesekali melirik Dira yang tampak senyum senyum sendiri memandangi layar handphonenya.


"Ehem, lagi chat sama siapa sih bahagia banget?" tanyanya dengan nads curiga.


"Oh, lagi chat sama Shanum, Chika, Sabrina di grup." sahutnya sambil tetap tersenyum.


Rai meletakkan handphonenya. "Sini lihat." sambil merampas handphone Dira.


Terlihat grup chat dengan nama macan(mama cantik) di layar.


"Enggak percaya banget sih." gerutu Dira yang kembali mengambil handphonenya dari tangan Rai.


"Percaya, percaya." kembali mengambil handphonenya dan memainkan game.


"Sayang, Shanum sama yang lain mau liburan katanya mau ke bali."


"Ke bali? kapan?"


"Belum tau sih.. cari waktunya dulu katanya, belum pasti, tapi yang pasti besok kita semua mau ke salon." Dira meletakkan handphonenya dan tersenyum penuh arti ke arah Rai.


Perasaan Rai menjadi sedikit merinding melihat senyum penuh kode itu.


"Oh, yaudah." sahut Rai santai.


"Kamu tau kan bi siti lagi sakit, jadi enggak ada yang jaga Rayyan sama Rayka." sambil mengelus lembut rambut Rai.


"Yaudah titipan aja sama mama ya." bujuk Rai.


"Oh gitu ya, yaudah deh.. aku besok mau perawatan, potong rambut, facial.. wah pasti aku makin cantik deh, pasti Shanum sama yang lain di temanin suaminya, tapi enggak apa deh kalau aku cantik pasti banyak kok yang mau temanin aku." ucap Dira dengan suara selembut mungkin.


Rai beranjak dari pangkuan istrinya itu.


"Oh gitu ya, udah ada niat di temanin. sama cowok lain." sambil mengacungkan jempol dengan hati yang panas membara.


"Ya, habis kamu enggak mau temanin aku."


"Iya aku temanin tapi Rayyan sama Rayka sama mama aja." Rai enggan menjaga kedua putranya yang kerap membuatnya sakit kepala.


"Aku mau Rayyan sama Rayka ikut." tegas Dira.


"Astaga.. yaudah yaudah, Rayyan sama Rayka ikut." Rai akhirnya menyerah.


"Suami yang baik.. jaga yang benar ya, habis dari salon kita jalan jalan ber empat." mengusap rambut Rai dengan senyum sumringahnya.


"Dasar, yaudah minta jatah ya malam ini." sambil mengusap lembut pipi Dira.


"Belum kerja udah minta imbalan." gerutu Dira.


"Ini bukan imbalan, tapi kebutuhan." sahut Rai yang sudah tak sabar untuk menuntaskan hasratnya malam itu.


***


Keesokan harinya Rai bersama keluarga kecilnya pergi ke sebuah mall. Tak lama mereka sampai dan betemu di sebuah cafe, tampak teman teman Rai bersama istrinya sudah menunggu di sana.


"Loe bawa anak loe? " tanya Nanda yang melihat Rayyan di sisi kiri Rai dan Rayka di sisi kanan Rai.


" Heeemmm," jawab Rai malas.

__ADS_1


"Yaudah kita ke salon dulu ya." pamit Sabrina, Shanum, Dira dan Chika yang membiarkan para suaminya itu menunggu di cafe.


Rai dan teman-temannya pun tampak asik menikmati makanan di sana sambil mengobrol ringan. Tampak Kemal yang sedikit sibuk mengasuh baby Syalira yang kini genap berusia tiga bulan.


"Kenapa enggak di titipin aja anak loe? " tanya Rai sambil mengunyah makanannya dan tampak Kemal yang sibuk sedang membutuhkan susu untuk bayinya.


" Titipin sama siapa? bokap nyokap gue lagi di luar kota, Shanum enggak mau pakai baby sister." gerutu Kemal.


"Oh, serupa lah sama Dira." sahut Rai yang tampak celigukan mencari makanannya yang sudah di ambil Rayyan.


"Loe sendiri kenapa enggak titipin anak loe?" tanya Arya pada Rai yang tampak sibuk mendamaikan Rayyan dan Rayka yang berebut makanan.


"Dira enggak mau, baby sister gue lagi sakit." gerutu Rai.


Kemal, Arya dan Nanda pun tertawa dan mereka kembali mengobrol. Tak lama Rai merasakan perutnya sangat melilit.


"Aduh sakit nih perut gue, ke toilet dulu gue." keluhnya seraya memegangi perutnya.


"Ke toilet? terus siapa yang jaga anak loe?" tanya Nanda yang sudah merinding membayangkan menjaga Rayyan dan Rayka.


"Ya gue titip bentar lah, masa iya gue buang air di sini." sahut gemas Rai.


"Tahan aja lah, atau loe kantongin batu di saku loe." cletuk Arya.


Astaga.. gitu banget loe, mana ada batu di mall, udah lah gue ke toilet dulu." Rai bergegas beranjak dari kusinya menuju toilet.


Tak lama setelah Rai ke toilet tampak Rayyan yang berjalan hendak keluar dari cafe tersebut.


"Rayyan mau keluar tuh." ucap Kemal panik.


"Ar, jagain Rayyan tuh gue jaga si Rayka deh." Nanda mencari aman karena sudah cukup trauma dengan ulah ulah Rayyan.


"Aduh, si Rayka mau ke mana tuh?" ucap Nanda panik yang langsung mengejar Rayka.


Kemal yang melihat pun terkekeh geli "Untung gue punya anak sendiri." ucap syukur Kemal.


Arya tampak susah payah mengejar Rayyan yang tampak asik berlarian di mall tersebut.


"Ke tangkap juga, mau ke mana sih? balik ke papa yuk." Arya berhasil menangkap Rayyan dan menggendongnya.


"Om.. ntu," Rayyan menujuk sesuatu.


Arya mengikuti arah jari mungil Rayyan.


"Oh iya, cantik ya tantenya," yang melihat wanita semok dengan pakaian super ketat.


"Ntu..om..." kembali menunjuk setengah berteriak.


Arya memicingkan matanya melihat lebih jelas yang di tunjuk Rayyan ternyata mainan yang sedang di pegang anak yang di gendong wanita tersebut.


"Astaga, mainan? kirain cewek, yaudah yuk ke papa dulu." sahut Arya yang hendak melangkahkan kakinya menuju arah cafe itu kembali tapi Rayyan meronta ronta dan menangis sehingga membuat para pengunjung di sana memperhatikannya.


Astaga Rai.. anak loe. batin Arya.


"Yaudah, yaudah kita cari mainan." Arya akhirnya menyerah.


Sedangkan di tempat lain tampak Nanda yang mengikuti Rayka berjalan. Sampai Rayka menunjuk salah satu penjual ice cream di sana.

__ADS_1


"Mau?" tanya Nanda.


Rayka mengangguk dan Nanda pun langsung mebelikannya ice cream.


"Alhamdulillah, nih bocah beda sama kakak nya cuma mau ice cream." batin Nanda mengucap rasa syukur.


Di tempat berbeda Arya dan Rayyan memasuki sebuah toko mainan. Tampak Rayyan yang antusias memilih mainan.


"Om, ni." memberikan mainan pada Arya.


Arya mengambil dan terbelalak kaget melihat harga mainan tersebut.


"Serius nih harga mainan?" melotot melihat mainan tersebut dengan harga 850rb.


Gue salah masuk toko kali ya? ini toko mainan kelas kakap kayaknya." batin Arya.


"Kita cari di tempat lain aja ya." kembali menaruh mainan tersebut tapi Rayyan menangis kencang yang membuat gendang telinga Arya hampir pecah.


"Ok, kita telepon papa kamu dulu." bergegas mengambil handphone dan menghubungi Rai.


"Aduh sih Rai buang air apa pingsan sih di toilet." geram Arya karena teleponnya tak kunjung di angkat. Akhirnya Arya pasrah dan membelikan mainan itu.


Rai keluar dari toilet dan kembali ke cafe.


"Anak anak gue ke mana?" tanyanya yang tidak melihat Rayyan dan Rayka.


"Lagi jalan jalan sama Nanda sama Arya." sahut Kemal.


"Oh," Rai terlihat santai dan kembali menyantap makanannya.


Tak lama terlihat Nanda yang menggendong Rayka.


"Habis dari mana loe?" tanya Rai saat Nanda kembali duduk.


"Nih anak loe minta beli ice cream tadi." sahutnya dengan wajah damai karena Rayka tidak menguras isi dompetnya.


"Oh," Rai mengelus rambut Rayka.


Tak lama datang Arya dengan kening yang tampak berurat menahan jengkel.


"Bahagia banget muka loe?" tanya Rai yang melihat Arya menuntun Rayyan menuju ke arahnya.


"Bahagia pala loe? loe gue telepon enggak di angkat angkat?" dengusnya kesal.


"Handphone gue ketinggalan di tas Dira." Rai memasang wajah tanpa dosa.


"Anak loe beli mainan 850rb, sini gantiin." Arya menedengkan tangannya.


"Enggak bakal di ganti, gue aja habis satu juta." sahut Kemal.


"Ikan gue mati, habis 5 juta juga." timpal Nanda.


"Maen itung itung ya sama gue.. yaudah besok gue ganti, gue transfer." ucap Rai yang akhirnya merasa kasihan melihat wajah teman temannya.


"Gitu dong.. " sahut mereka bersamaan.


Rai menghela nafas melihat wajah Rayyan yang tampak senang dengan mainan yang di pegangnya. Mereka pun kembali menunggu para istri mereka di cafe.

__ADS_1


Jangan lupa vote yak say.. ❤️❤️❤️❤️🤗🤗🤗


__ADS_2