Menikahi Gadis Culun

Menikahi Gadis Culun
Tidak berubah


__ADS_3

Rai keluar dari kamar mandi, memakai baju dan mengeringkan rambutnya dengan handuk. Rai melirik dira yang sedang mengemasi baju yang di masukkan ke dalam tas nya.


"Mau ke mana kamu? " Rai menghampiri dan bertanya dengan nada panik.


"Ke rumah mama. " jawab Dira sambil menutup resleting tas nya.


Rai menahan lengan tangan Dira yang hendak beranjak pergi.


"Untuk apa tiba-tiba ke sana? " tanya Rai dengan ekspresi bingung.


"Aku rindu mama ku. " suara Dira bergetar dan air mata sedikit jatuh di pipi nya dan dira bergegas menghapus nya.


"Ada apa? " Rai semakin tidak mengerti dengan tingkah Dira.


"Tidak apa apa."


Dira berusaha melepaskan tangan Rai yang menahan lengan nya.


" KATAKAN PADA KU! ADA APA? " sentak Rai yang sudah mulai habis kesabarannya.


"Untuk apa aku serumah dengan orang yang tidak mencintai ku? " Dira mencoba menatap Rai dengan mata yang berkaca kaca.


"Tidak mencintai? sudah sejauh ini kamu masih berfikir begitu? " Rai mengerutkan kening nya sambil tersenyum kecut.


Dira mengambil handphone Rai.


"Lihatlah, aku bisa membuka password handphone mu, da ini lihat, ini wanita yang sangat kamu cintai kan? " ucap Dira sambil memperhatikan foto Gizza pads Rai di handphone nya.


Rai terbelalak kaget, Rai tidak menyangka kalau Dira akan tau tentang hal itu. Dira melepaskan tangan Rai dan bergegas keluar kamar dengan sigap Rai mengejar nya dan kembali menahan lengan nya .


"Gizza hanya masa lalu ku, aku tidak lagi mencintai nya."


"Aku tidak percaya. " jawab Dira sambil sedikit meneteskan air matanya.


"Bagaimana aku membuktikan nya? " Rai mengambil handphone nya dan menekan tombol di handphone tersebut.


"Aku sudah menhapus semua memori di handphone ku? apa lagi? harus aku ganti password aku dengan nama Nandira Adara? " tanya Rai.


"Tidak usah, kalau kamu masih mencintai nya, kembali saja pada nya , aku tidak apa apa."

__ADS_1


Rai menarik tangan Dira dan memeluk nya.


"Aku tidak mencintai nya, kamu tau, dia sudah menghianati ku dulu, mana mungkin aku kembali pada seorang penghianat, percaya pada ku, aku sudah tidak mencintai nya dan tidak akan kembali padanya. "ucap Rai sambil terus memeluk Dira.


Dira melepaskan pelukan Rai, dan menhapus air mata nya yang sempat menetes.


"Aku lelah, aku ingin istirahat." Dira melepaskan tangan Rai dan masuk ke kamar.


Rai menghampiri Dira yang sedang berbaring miring di kasur nya.


"Kamu belum makan kan? kita makan dulu ya? " bujuk Rai dan Dira hanya menggeleng.


"Nanti kamu sakit, aku suapi ya? "


"Kalau kamu tidak ingin aku pergi, jangan ganggu aku, aku ingin sendiri, aku ingin tidur. " Dira menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.


Rai hanya menghela nafas dan mencoba mengerti perasaan Dira.


***


Pagi itu Rai sudah rapih dengan pakaian kerja nya, dan menghampiri dira yang sedang menyiapkan sarapan. Rai mulai duduk dan melihat wajah Dira yang masih murung, selesai menyiapkan makanan Dira beranjak pergi dari meja makan.


"Aku belum lapar. " sahut Dira yang langsung melepaskan tangan Rai dan meninggalkan Rai di meja makan.


Tak lama Rai pergi ke kantor, dan Dira merapihkan meja makan nya.


apa ini?


Dira mengambil berkas berkas yang tergeletak di meja makan.


ini pasti milik rai, dia pasti lupa membawa nya? ceroboh sekali, lebih baik nanti siang aku antar berkas berkas ini ke kantornya, sepertinya ini penting.


***


Pagi itu Rai kembali melakukan perkerjaan di ruangan nya.


terdengar suara ketukan pintu.


"Masuk. "

__ADS_1


"Pak, ada yang ingin bertemu bapak. " ucap sekretaris nya


"Siapa? "


"Gue, Rainan Wijaya." ucap Arya yang langsung memperlihatkan wajah nya sambil tersenyum.


"Oh, masuk, gue kira tamu penting. " ucap Rai yang langsung memberi isyarat pada sekretaris nya untuk meninggalkan mereka.


"Sombong bener, gue enggak penting." Arya  langsung duduk di hadapan Rai.


"Kenapa loe pagi pagi ke sini? mau pinjem duit? enggak ada gue lagi bokek." cletuk Rai sambil tetap fokus pada berkas berkas di hadapan nya.


"Makin sombong lagak loe, duit gue masih numpuk, gue lagi nunggu klient gue mau ketemu di cafe dekat sini, yaudah gue mampir aja." jelas Arya.


"Oh. "


Rai menghentikan perkerjaan nya dan melirik Arya yang sedang duduk di hadapan nya.


"Loe punya nomer Gizza enggak? " ucap Rai.


"Waktu itu aja sok jual mahal loe, sekarang minta nomer nya.. Rai.. Rai. " Arya tertawa sambil menggeleng kan kepala nya.


"Gue minta mau buat perhitungan sama dia. "


"Perhitungan? perhitungan gimana? " Arya mengerutkan kening nya.


"Kayak nya kemarin dia ketemu dira terus dia cerita yang enggak enggak, sekarang gue jadi ribut sama Dira. "


Arya pun terkekeh geli mendengar curhatan temannya tersebut.


"Sejak kapan loe galau gini? biasanya ribut sama cewek loe langsung cari yang lain? lagian emang loe beneran cinta sama Dira? dulu loe kan nikahin dia supaya loe bisa dapet fasilitas lagi dari bokap loe terus ambil alih perusahaan, sekarang kan semua nya udah terwujud, loe lupa? " ucap Arya sambil terus tertawa.


Rai hanya terdiam, dan meresapi perkataan Arya kalau dulu niat dia menikahi Dira hanyalah untuk hal tertentu.


Di balik ruangan Rai, ada Dira merasakan sesak yang memenuhi perasaan nya, Dira mendengar semua percakapan itu, tangan nya mulai bergetar sambil memegang berkas berkas yang ingin dia berikan pada Rai.


Ternyata benar, kamu tidak pernah mencintai ku rai, kamu hanya kembali mempermainkan ku rai. kamu tidak pernah berubah rai.


Dira menghapus air matanya yang semakin membasahi pipi nya.

__ADS_1


__ADS_2