Menikahi Gadis Culun

Menikahi Gadis Culun
S2 Melindungi mu


__ADS_3

Pagi itu Nanda dengan sangat semangat menyiapkan semua keperluan untuk acara pertunangannya yang tinggal 5 hari lagi yang akan di laksanakan di sebuah hotel.


Udah beres semua deh, tinggal ambil baju pesenan untuk seragam aja, gue ajak si Rai aja kali ya ambil bajunya. gumamnya seraya merebahkan tubuhnya di kasur.


***


Di tempat lain Rai sedang menikmati hari minggunya di halaman belakang bersama putra semata wayangnya.


"Kamu tuh seneng banget main kotoran ya." ucapnya saat sang anak tengah bermain tanah di halamannya.


"Shanum aku ambil baju untuk Rayyan dulu ya di kamar." ucap Rai pada Shanum yang juga sedang memperhatikan Rayyan sedangkan Dira sedang sibuk membuat kue untuk Rayyan di dapur.


Shanum pun mengangguk dan Rai hendak meninggalkan Rayyan tapi balita tersebut berlari kecil mengejar Rai.


"Mau ikut? "tanya Rai dan Rayyan bergumam tak jelas.


"Sini Rayyan, papa ambil baju kamu dulu di kamar kotor bajunya tuh." bujuk Shanum dan Rayyan menggeleng.


"Yaudah ayo ikut, Shanum kamu sekalian mandiin Rayyan lagi aja ya di kamar mandi yang di kamar, kamar mandi tamu lagi rusak kayaknya kran nya. titah Rai.


Shanum pun mengangguk dan ikut Rai menuju kamar mandi di kamarnya.


"Pak saya isi air hangat dulu ya." ucap Shanum saat Rai sedang membuka lemari Rayyan.


"Oh iya." ucap Rai sambil melirik Rayyan yang sudah tidak ada di kamar.


"Kemana Rayyan?" ucap Rai panik.


Shanum yang hendak ke kamar mandi pun menoleh dan melihat Rayyan yang seharusnya berada di samping Rai. Mereka pun bergegas keluar kamar dan terbelak kaget melihat Rayyan yang sedang berjalan dan hendak menuruni tangga yang cukup tinggi tak jauh dari kamar.

__ADS_1


"Rayyan! " seru Rai dan Shanum berbarengan.


Mereka pun dengan langkah cepat berusaha menangkap Rayyan yang hendak menuruni tangga dengan kaki mungilnya, Rai berhasil menangkapnya tapi nahas Rai terpeleset dan jatuh terguling bersama Rayyan, tangan Rai dengan erat memeluk tubuh Rayyyan.


Arrrgggghhh.


Desis Rai saat kepalanya terbentur dinding cukup keras dan tubuhnya terjatuh bersama Rayyan ke lantai dasar yang masih di peluknya.


"Pak Rainan, Rayyyan!! " pekik Shanum yang langsung bergegas menuruni tangga.


Praank!!


Piring yang di pegang Dira jatuh karena terkejut dengan teriakan Shanum.


Ada apa itu? gumamnya panik yang langsung berlari ke asal suara.


Dira terbebelak kaget melihat Rai sudah terbaring tak sadarkan diri di lantai bawah dan Rayyan yang menangis di pelukannya.


Shanum pun bergegas mengendong Rayyan sedangkan Dira tampak syok.


"Rai, bangun Rai! " ucap Dira seraya menepuk nepuk pipi Rai berulang kali.


"Shanum cepat minta bantuan tetangga, kita harus bawa Rai ke rumah sakit, aku tidak bisa menyetir." ucap Dira panik.


Shanum pun bergegas ke luar rumah meminta bantuan untuk membawa Rai ke rumah sakit. Tak lama tetangga pun membantu membawa Rai ke rumah sakit.Dan petugas medis pun segera membawa Rai ke ruang IGD. Dira yang sedang menggendong Rayyan dan Shanum pun tampak cemas menunggu di luar ruangan, sampai handphone Rai yang sedang di pegang Dira berbunyi, Dira segera mengangkatnya.


"Hallo, Assalamualaikum, Rai loe dimana? " terdengar suara Nanda dari balik telepon.


" Ini aku Dira, sekarang Rai lagi di IGD dia jatuh dari tangga." ucap Dira yang sudah tidak dapat memendung air matanya.

__ADS_1


"APA?" nanda tampak terkejut.


"Yaudah gue ke sana." sambung Nanda yang langsung menutup teleponnya.


Cukup lama Rai di ruang IGD membuat Dira dan Shanum semakin cemas Dira pun menghubungi orang tuanya dan orang tua Rai.


"Shanum, kenapa Rai lama sekali di dalam?" ucap Dira yang semakin panik.


"Sabar mbak, sebentar lagi pasti selesai." sahut Shanum yang tampak sedih dan cemas.


Sampai Nanda datang dan menghampiri Dira dengan tergesa gesa yang masih berada di luar ruangan IGD.


"Dir, gimana keadaan Rai, kok bisa gini?" tanya Nanda panik.


Dira hanya mengeleng dengan air mata di pipinya dan tak sanggup menjelaskan kronologinya. Sampai dokter keluar dari ruang IGD tersebut.


Dira bergegas menghampirinya.


"Bagaimana keadaan suami saya?" tanya Dira dengan nada yang terbata bata.


"Karena benturan yang cukup keras membuat pembuluh darah di kepala pasien pecah, sekarang kondisinya kritis, kami akan berusaha semaksimal mungkin." jelas dokter tersebut.


"Apa? enggak mungkin?" ucap Dira pelan, seluruh tubuhnya terasa sangat lemas mendengar semua itu, sampai matanya terasa kabur dan pandangannya perlahan gelap.


"Mbak Dira! " pekil Shanum yang melihat tubuh Dira seperti akan terjatuh ke lantai.


"Dir, bangun dir??!!" seru Nanda yang menahan tubuh Dira yang sudah pingsan.


Aku up lagi nih.. tolong bantu vote lagi ya ❤️❤️

__ADS_1


Episode ini mengandung tingkat emosi yang tinggi harap jangan cepat mengambil kesimpulan sebelum membaca episode selanjutnya.. 🤗🤗🤗


__ADS_2