
"Sudah ya kak." ucap Shanum dengan nafas terengah engah setelah 2 kali melakukan aktifitas mereka di ranjang malam itu.
"Iya, tidur ya." Kemal mencium kening Shanum, memeluknya erat dan tidur malam itu.
Pagi harinya Shanum melakukan aktifitasnya seperti biasanya dan membuat sarapan untuk Kemal.
"Di makan kak." ucap Shanum saat Kemal menghampiri meja makan.
Kemal tersenyum dan menyantap makanan di siapkan sang istri. Shanum pun ikut makan, tapi baru satu suapan masuk, Shanum merasa perutnya sangat mual, dia bergegas menuju wastafel dan memuntahkan makanannya kembali.
"Kamu kenapa?" tanya Kemal panik seraya memijat pelan punggung Shanum.
"Enggak tau kak, mual banget."
"Ke dokter saja ya?" bujuk Kemal.
Shanum menggeleng" Enggak usah kak, paling masuk angin biasa."
"Ya sudah, aku ke kantor dulu ya, kalau ada apa-apa kamu cepat telepon aku." pamit Kemal seraya mencium kening Shanum dan bergegas pergi ke kantor.
Siang itu Shanum hanya terbaring lemah di kasur dan berulang kali keluar masuk toilet karena rasa mual yang tak kunjung hilang. Sampai dirinya termenung di kasur.
"Bukannya seharusnya aku sudah datang bulan sekarang? jangan jangan.. " gumam Shanum seraya mengusap pelan perutnya.
Keesokan harinya.
Pagi hari Shanum sudah bangun dan bergegas ke kamar mandi dengan tespek yang di pegangnya.
"Aku harus memastikannya." gumamnya.
Shanum segera mencelupkan tespek ke urinenya pagi itu, tak lama dia melihat garis satu itu perlahan mulai menjadi dua garis dengan warna samar yang perlahan menjadi semakin terlihat garis duanya.
"Aku hamil?" ucapnya tidak percaya.
Shanum terdiam sesaat.
"Bagaimana tidak hamil, kami melakukannya rutin setiap malam 2 sampai 3 kali seperti jadwal minun obat, tapi syukurlah akhirnya sebentar lagi aku punya anak." batin Shanum dengan senyum mengembang di bibirnya dan mengusap pelan perutnya.
Shanum keluar dari toilet dan menghampiri Kemal yang masih tertidur di kasurnya.
"Bangun kak." Shanum menepuk pelan tubuh Kemal.
"Bentar lagi ya sayang." ucap Kemal yang masih enggan membuka matanya.
"Aku hamil kak." bisik Shanum.
Kemal yang awalnya masih memejamkan matanya sontak saja langsung bangun dari tidurnya dan melihat Shanum yang duduk di kasur dengan senyum di bibirnya.
"Serius?" tanya Kemal tak percaya.
Shanum mengangguk dan Kemal memeluknya.
"Syukurlah, aku senang mendengarnya." ucapnya haru.
"Nanti malam kita ke dokter ya?" sambung Kemal.
Dan Shanum mengangguk.
Setelah itu Kemal pergi ke kantor seperti biasanya. Sore hari Kemal pulang dan melihat Shanum yang masih terbaring lemah di kasur.
__ADS_1
"Sayang, kok tiduran aja?" tanya Kemal yang menghampiri Shanum di kasur.
Shanum bergegas bangun dari tempat tidur.
"Aku lemas kak, aku juga belum masak untuk kakak." keluhnya.
"Yaudah kita ke dokter aja ya?" bujuk Kemal.
Shanum menggeleng "Besok aja kak, aku lemas, pengen istirahat."
"Yaudah kalau gitu aku pesanin makanan aja ya."
Shanum mengangguk dan Kemal bergegas memesankan makanan untuk Shanum dan menyuapi istri kecilnya itu lalu Shanum tertidur. Tengah malam Shanum terbangun dan merasa perutnya lapar.
"Kak, bangun." Shanum menepuk pelan tubuh Kemal.
Kemal perlahan membuka matanya dan melihat jam dinding yang masih menunjukkan pukul 02.00 dini hari.
"Kenapa sayang?" tanyanya bingung.
"Kak, aku lapar." Shanum mengelus perutnya dengan wajah yang memelas.
"Terus kamu mau makan apa? mau aku masakin mie atau nasi goreng?" ucap Kemal yang menawarkan keahliannyqma yang hanya bisa memasak mie dan nasi goreng.
"Aku mau siomay kak." pinta Shanum.
"Apa? siomay?"
"Iya kak, mau siomay." Shanum mengulangi permintaannya.
Kemal mengaruk kepalanya dan tampak bingung bagaimana mencari tukang siomay tengah malam begini, tapi dia mencoba mengerti mungkin istri kecilnya itu sedang mengidam.
"Kak, kok diam aja?" ucap Shanum melihat Kemal hanya terdiam.
Shanum tersenyum dan Kemal segera keluar kamar, dia duduk di ruang tamu dan masih berfikir di mana mencari tukang siomay jam 2 pagi begini. Kemal mengeluarkan handphonenya dan menghubungi seseorang.
"Halo, kenapa loe telepon?" terdengar suara jengkel Rai dari balik telepon.
"Shanum hamil." sahut Kemal.
Rai mengelus dada" Oh, yaudah selamat, gue ngantuk mau tidur." ucapnya jengkel saat Kemal membangunkan mimpi indahnya hanya untuk memberitahukan hal itu.
"Jangan di tutup dulu, Shanum ngidam, dia mau siomay.. cari di mana ya?"
Rai kembali mengelus dadanya "Di depan rumah gue ada." jawabnya.
"Serius loe?" tanya Kemal antusias.
"Iya, tapi roh halus yang jualan, udah gue ngantuk, ganggu aja loe." gerutu Rai yang langsung mematikan handphonenya.
"Dasar, stress loe." umpat Kemal kesal.
Kemal bergegas menghubungi Nanda.
"Halo, kenapa?" terdengar suara malas Nanda di balik telepon.
"Shanum hamil, dia ngidam mau makan siomay sekarang, cari di mana ya?" tanya Kemal kembali.
"Oh, ada yang jualan sih di kompleks perumahan gue." sahut Nanda.
__ADS_1
"Serius loe? yaudah gue ke sana deh sekarang." jawabnya penuh semangat.
"Iya, tapi dia jualannya jam 7 pagi."
"Gue tusuk juga loe, kan gue maunya sekarang." ucap gemas Kemal.
"Yaudah loe ke rumah aja sekarang, loe berdoa semoga tuh tukang siomay jualannya lebih pagi." usul Nanda.
"Udahlah, ngomong sama loe bikin jiwa kriminal gue timbul." gerutu Kemal yang langsung menutup teleponnya.
Kemal pun kembali mencoba menghubungi Arya.
"Halo, kenapa?" terdengar suara samar Arya di balik telepon.
"Shanum hamil, dia ngidam mau makan siomay sekarang..cari di mana ya?" tanyanya kembali
"Oh, loe tanya aja sama Google deh, kalo enak siomaynya kabarin gue." ucap Arya yang langsung menutup teleponnya.
"Dasar, susah emang ngomong sama yang telat nikah, enggak ngertiin." gerutu Kemal.
Kemal menhela nafas dan menyandarkan kepalanya di sofa "Teman enggak berguna emang." batinya.
Tak lama dia kembali ke kamarnya.
"Sudah pulang kak? gimana dapat enggak siomaynya?" tanya Shanum yang langsung bangun dari tidurnya dengan mata berbinar binar.
"Maaf sayang, aku sudah cari tapi enggak ada." ucapnya berbohong padahal keluar rumah pun belum.
Shanum memasang wajah kecewa " Oh, yaudah aku mau tidur aja kak." ucapnya yang langsung tidur membelakangi Kemal.
"Sayang, maaf ya, nanti pagi aku cari lagi ya." bujuk Kemal yang merasa bersalah.
Shanum hanya terdiam dan memejamkan matanya. Pagi pagi sekali Kemal sudah bangun dan memakai kemeja kerjanya, dia berniat mencarikan siomay untuk Shanum sebelum berangkat ke kantor.
Kemal bergegas ke luar rumah dan mulai berkeliling mencari penjual siomay. Sampai Kemal menemukannya dan segera membelinya lalu bergegas kembali ke rumah. Sampai di rumah Kemal melihat Shanum yang sedang menyiapkan sarapan di meja makan.
"Kakak dari mana?" tanya Shanum yang tidak melihat Kemal saat di bangun tidur.
"Ini, aku beli siomay." Kemal memberikan kantong kresek berisi siomay.
"Benar? makasih ya." sahut Shanum dengan wajah gembira.
"Iya, di makan ya." Kemal mengusap kepala Shanum dan bergegas ke kamar mengambil tas kerjanya.
"Aku pergi dulu ya." ucapnya kembali saat menghampiri Shanum di meja makan.
"Kakak enggak sarapan?"
"Enggak aku sudah telat."
"Tunggu, aku buat bekal saja ya, nanti kakak makan di kantor." Shanum bergegas mengambil kotak makan dan memasukkan masakannya.
"Siomaynya enggak di makan sayang?" tanya Kemal yang melihat siomay tersebut di meja makan seperti belum tersentuh.
"Sudah kak, cuma di makan satu sendok aja, enggak pengen lagi." sahut Shanum santai.
"Apa? satu sendok aja?" ucap Kemal yang tampak terkejut.
"Iya kak, enggak pengen lagi, kakak mau? aku masukin kotak makan aja ya sekalian?" tawar Shanum.
__ADS_1
"Enggak usah, makaaaasiiihhh sayang." ucapnya yang berusaha tersenyum padahal dalam hati tidak habis fikir, bagaimana bisa Shanum hanya sedikit memakannya padahal hampir semalaman dia memikirkan tentang siomay.
Guys. jangan lupa vote yak, biar aku makin semangat nulisnya.. terima kasih. ❤️❤️❤️❤️🤗🤗🤗