
Tak lama Orang tua Rai dan Dira datang ke rumah sakit.
"Sayang, kamu kok di luar aja?" tanya mama Rai heran.
"Rayyan masih nangis gini enggak mau ke dalam." keluh Rai seraya menunjuk Rayyan yang masih sesugukan menangis.
"Sini mama gendong, kamu temenin Dira." mama Rai mengambil cucunya dari gendongan Rai.
"Mama juga mau temenin Dira." sambung mama Dira yang langsung masuk ke ruang bersalin bersama Rai.
"Ini sudah pembukaan terakhir bu, atur nafas ya bu.. mengejan sekuat kuatnya." dokter di sampingnya memberikan instruksi.
Dira berusaha mengatur nafasnya, keringat membasahi seluruh wajah dan lehernya.
"Sayang, kamu pasti bisa." Rai memegang tangan Dira seraya mengusap keringatnya dengan tissu.
"Sakit." rintih Dira yang meremas tangan Rai.
"Sayang kamu pasti kuat." mama Dira mengelus kepala putrinya.
"Ayo bu, sedikit lagi." Dokter mencoba memberi semangat pada Dira yang sudah tampak lelah.
"Aaaaarrrgghh... " Dira mengejan sekuat kuatnya dengan sisa tenaganya yang tersisa.
Terdengar suara tangisan bayi yang memenuhi ruangan membuat mereka semua bernafas lega. Dira terkulai lemas dengan bermandikan keringat di wajahnya.
" Selamat ya bu, anaknya laki-laki , sehat dan sempurna." ucap sang dokter dengan senyum rumahnya.
"cowok ??!!" seru mereka bertiga bersamaan.
"Iya bu, cowok ." Dokter mengerutkan keningnya melihat ekspresi aneh 3 orang di hadapannya.
"Sayang, memang di usg jenis kelaminnya laki-laki ?" tanya mama Dira yang sebenarnya berharap mendapatkan cucu perempuan.
"Enggak tau, aku memang enggak mau di kasih tau jenis kelaminnya kalau usg." sahut Dira yang juga sebenarnya menginginkan anak perempuan.
"Enggak salah dok, jenis kelamin beneran laki-laki ?" sahut Rai tidak percaya.
"Bener kok pak, jenis kelaminnya laki-laki ." Dokter perempuan itu semakin memasang wajah heran.
"Dokter saya ingin lihat anak saya." pinta Dira.
Dokter pun meletakkan bayi mungil itu di dada Dira terlihat bayi itu menghisap asi pertamanya.
"Sayang, dia mirip kamu lagi." ucap Dira yang melihat wajah sang anak lagi lagi sangat mirip dengan Rai.
"Iya dia sangat mirip aku dan Rayyan." Rai tersenyum dan mengusap lembut bayi mungilnya.
"Tadinya aku berharap anak perempuan, tapi enggak apa-apa yang penting anak kita sehat." Dira tersenyum sumringah.
"Iya sayang apa pun jenis kelaminnya yang penting sehat." sahut mama Dira yang juga tersenyum.
"Aku enggak masalah kok lelaki lagi, aku juga sudah menyiapkannya nama." ucap Rai.
__ADS_1
"Oia?" sahut Dira.
"Iya."
Tak lama dokter mengambil bayi itu untuk di bersihkan dan handphone Rai berbunyi, Rai bergegas mengangkatnya.
"Rai, loe di mana? enggak ke cafe? gue di cafe nih." ucap Nanda di balik telepon dan sudah jadwalnya seharusnya mereka mengecek cafe mereka saat hari libur.
"Gue di rumah sakit, Dira lahiran." Rai beranjak dari kusinya dan ke luar ruangan tersebut.
"Hah lahiran? yaudah gue kesitu deh, gue kasih tau yang lain juga." sahut Nanda antusias.
"Oke." Rai menutup teleponnya.
Tak lama ketiga teman Rai pun datang dan menjenguk Dira yang sudah di pindahkan ke ruang rawat inap.
"Kak Dira selamat ya." ucap Sabrina dan Shanum yang menghampiri Dira.
"Mana bayinya kak?" tanya Shanum.
"Lagi di bersihkan."
Tak lama datang seorang perawat yang membawa bayi mungil di gendongannya.
"Wah itu cucu oma." ucap mama Rai antusias yang langsung menggendong cucunya.
"Di adzankan dulu ya." titah perawat wanita itu dan Rai segera mengadzankan bayinya. Mereka semua pun tampak antusias melihat wajah bayi mungil yang di gendong Rai.
"Rai, mukanya mirip banget Rayyan?" tanya Kemal yang melihat wajah bayi itu sangat mirip dengan Rayyan.
"Cowok lagi??!!" sahut mereka bersamaan.
"Kenapa sih loe semua?" tanya Rai yang melihat ekspresi mereka semua tampak aneh.
"Dir, emang enggak make your wish dulu pas bikin anak? minta perempuan gitu?" cletuk Nanda.
"Emang loe kira mau tiup lilin make your wish segala." gerutu Rai.
"Perasaan gue enggak enak nih, loe banyak doa deh biar enggak kaya kakaknya nih bayi." cibir Arya.
"Sayang, pokoknya nanti kamu harus pakai baby sister sama asisten rumah tangga ya." ucap mama Rai yang juga langsung merasa khawatir.
"Kalian ini, kenapa berfikir yang tidak tidak, siapa tau cucu opa yang kedua ini tingkah lakunya tenang seperti Dira." papa Rai menengahi.
"Bener om, cukup satu aja ya yang kaya Rai." cletuk Kemal dan mereka semua pun tertawa sambil terus mengoda gemas bayi mungil itu.
"Kak, aku pengen beli minum." ucap Sabrina pada Nanda.
"Oh, yaudah tadi dekat sini kayaknya ada kantin deh." sahut Nanda yang langsung keluar dari ruangan tersebut bersama Sabrina untuk membeli minum.
Setelah membeli minum mereka berjalan kembali menuju ruangan Dira.
"Kak, enak ya kak Rainan udah punya anak dua." ucap Sabrina saat mereka jalan.
__ADS_1
"Iya, pasti makin repot tuh si Rai apalagi kalau nakalnya mirip Rayyan." Nanda tertawa sendiri membayangkannya.
"Kapan ya kak aku hamil?" keluh Sabrina yang sebenarnya ingin cepat mempunyai anak.
Nanda terdiam dan melihat wajah gadis itu yang tampak murung.
"Nanti juga kamu pasti hamil, sabar ya." Nanda merangkul Sabrina.
Gadis itu pun tersenyum simpul. Sabrina kembali ke ruangan Dira sedangkan Nanda duduk di luar bersama Raic, kemal dan Arya.
"Eh nama anak loe siapa?" tanya Kemal pada Rai yang sedang menimum soft drink nya.
"Namanya Rayka Diandra wijaya."
"Namanya mirip sama loe semua? mirip Dira lah, kasian Dira." proses Arya.
"Dira perempuan masa anak gue namanya harus mirip perempuan." Gerutu Rai.
"Maksud gue, itu pasti ide loe doang namanya Dira enggak nyambung ide pasti." sahut Arya.
"Iya sih, tapi Dira pasrah pasrah aja." Rai cengegesan.
"Suami zolim emang loe." cibir Nanda.
"Kalo ngomong enggak di saring dulu loe." Rai menjetikan gemas jarinya di kening Nanda.
Tak lama handphone Arya berbunyi. Arya segera mengangkatnya.
"Halo Ar, kamu di mana?" terdengar suara Chika di balik telepon.
"Di rumah sakit, kenapa emang?"
"Siapa yang sakit Ar?"
"Teman aku lahiran, kenapa emang?" Arya kembali bertanya.
"Ar, aku minta temenin pergi lagi sama kamu."
"Kemana?"
"Ketemu Ricko, papa enggak ijinin aku keluar rumah." keluh gadis itu.
Arya terdiam yang sebenarnya sangat malas menemani Chika bertemu pacarnya tapi entah kenapa hatinya merasa tidak sanggup menolak permintaan gadis yang di cintainya itu.
"Ar, kok diem aja? enggak bisa ya?"
"Oh, yaudah aku ke rumah kamu." sahut Arya yang langsung menutup teleponnya.
"Ke rumah siapa Ar?" Tanya Nanda, kemal dan Rai yang sebenarnya menguping percakapan Arya di telepon.
"Kepo, balik dulu deh gue." Arya beranjak dari duduknya.
"Gebetan baru? geu tunggu deh undangannya." ledek Rai yang tersenyum jahil.
__ADS_1
"Berisik loe." Arya bergegas meninggalkan teman temannya yang masih tertawa.
Guys.. jangan lupa like, komen dan votenya yak.. ❤️❤️❤️🤗🤗