
Matahari mulai menampakkan sinarnya Rayyan dan teman temannya ke luar tenda lalu menyantap mie cup bersama sama pagi itu.
"Si Reska belum. bangun?" tanya Rayka yang tidak melihat Reska pagi itu padahal hari sudah siang.
"Iya ya, kok belum bangun?" sahut Rayyan yang tampak bingung.
"Yaudah loe bangunin sana, kita mau ke air terjun nih, si Reska mau ikut enggak?" sambung Elang.
Rayyan pun beranjak dari duduknya dan masuk ke tenda Reska terlihat Reska yang masih berbaring dengan selimut yang menutupi seluruh tubuhnya.
"Sayang, bangun sudah siang." Rayyan membuka selimut tersebut dan menepuk pelan tubuh gadis itu.
"Ya ampun, kenapa tubuhnya panas banget?" ucap panik Rayyan yang memegang beberapa bagian tubuh Reska yang terasa cukup panas.
"Sayang," panggil kembali Rayyan.
Reska tak bergeming dan tetap memejamkan matanya dengan wajah yang semakin pucat. Rayyan pun bergegas keluar tenda.
"Udah bangun si Reska?" tanya Devan yang melihat Rayyan baru keluar tenda.
"Reska sakit, badannya panas." Rayyan terlihat sangat bingung dan panik.
"Sakit?" Rayka mengerutkan keningnya.
"Gimana nih, kita harus bawa dia ke dokter." Rayyan semakin cemas dengan keadaan sang kekasih.
"Di gunung mana ada dokter, ngaco." cibir Elang.
"Kayanya ada deh di bawah kan ada desa, kita bawa aja Reska pakai tandu ke bawah." usul Devan.
"Gila, ke bawah sambil bawa si Reska yang ada gue yang di bawa ke dokter nanti." protes Rayka.
"Udahlah berisik loe semua," umpat Rayyan.
"Gue kayanya bawa banyak obat deh." Elang mengambil perlengkapan p3k yang di bawanya.
"Ada obat demam enggak?" Rayyan melihat banyak obat di kotak tersebut.
"Ada, loe kompres juga kepalanya pakai air." sahut Elang.
__ADS_1
Rayyan mengangguk."Oh yaudah, biar gue yang urus si Reska." ucap Rayyan kemudian.
"Ya emang loe lah yang harus urus kan loe pacarnya, makanya jangan ciuman di sembarang tempat kesambet kan tuh si Reska." cletuk Devan yang membuat Elang dan Rayka sontak saja terkejut mendengar ucapan Devan.
"Loe ciuman di sini?" Elang tampak syok.
"Enak kak?" tanya polos Rayka.
"Loe tuh ya kepo bener, loe juga Devan mulut loe kaya emak emak komplek." gerutu Rayyan.
"Lah gue di salahin sih, emang gue mau apa lihat loe ciuman gitu."Devan membela diri.
"Berisik, udah sana loe mau pada ke air terjun pergi aja, nyemplung yang dalem sana." usir Rayyan yang langsung mengambil kotak obat dan masuk ke dalam tenda Reska.
Devan, Elang dan Rayka pun meninggalkan tenda menuju air terjun tak jauh dari sana. Sementara Rayyan mencoba memberikan obat pada Reska dan mengkompres keningnya dengan air.
"Sayang, bangun."Rayyan mengusap lembut rambut Reska yang masih memejamkan matanya.
Sampai sore hari Rayyan tetap menemani Reska dan mengompres keningnya berulang kali sampai demam di tubuh Reska berangusur mulai reda.
"Gimana si Reska?" tanya Devan, Elang dan Rayka yang masuk ke tenda melihat keadaan Reska.
"Syukurlah, semoga aja besok pagi nih anak udah enggak sakit mau balik soalnya besok." ucap Devan.
"Iya, biar gue yang urus loe keluar aja sana."
Mereka pun keluar dari tenda Reska. Malam hari Reska mulai membuka matanya dan melihat Rayyan yang sedang tertidur di sampingnya. Reska merasakan sekujur tubuhnya terasa nyeri dan sapu tangan basah yang menempel di keningnya.
"Apa aku sakit?" gumamya.
"Sayang??" panggil Reska sambil menepuk tangan Rayyan.
Rayyan perlahan membuka matanya dan melihat wajah Reska yang sudah tidak terlalu pucat lagi.
"Kamu sudah bangun?" Rayyan beranjak dari tidurnya dan membantu Reska duduk.
"Aku sakit?" tanyanya.
"Iya, tadi badan kamu panas, kamu makan ya habis ini minum obat lagi." Rayyan mengambil roti dan menyuapi Reska.
__ADS_1
"Besok kita pulang?" tanya Reska sambil mengunyah rotinya.
"Iya, tapi kalau keadaan kamu sudah membaik."
"Sudah membaik kok, besok kita pulang aja." pinta Reska.
"Yaudah," Rayyan tersenyum dan memgusap gemas rambut Reska sambil terus menyuapi kekasihnya itu.
"Sudah malam kamu tidur lagi ya, aku balik ke tenda aku." ucap Rayyan sambil menyelimuti tubuh Reska.
Reska menahan lengan Rayyan saat Rayyan hendak berdiri.
"Jangan pergi, temani aku di sini." pinta Reska lirih.
"Yaudah aku temani kamu di sini sampai kamu tidur."
Rayyan meminta Reska untuk mebaringkan kepalanya di pangkuan Rayyan.
"Sayang, setelah pulang kamu mau langsung bilang sama orang tua kamu tentang rencana kita?" tanya Rayyan seraya membelai lembut rambut Reska.
"Iya, aku akan langsung bilang."
"Kamu enggak keberatan kalau menikah muda?" tanya ragu Rayyan.
"Dari pada aku harus terpisah sama kamu lagi, kalau aku pinta papa untuk aku kuliah di sana juga sama kamu pasti papa enggak akan mengijinkan, dia terlalu overprotektif." keluh Reska tentang sang ayah.
Rayyan tertawa."Dia seperti itu karena sangat menyayangi mu." ucap lembut Rayyan.
"Apa kamu akan terus sayang sama aku seperti papa aku?"
"Aku akan menyayangi mu, bahkan lebih dari papa mu."
"Gombal." Reska tersenyum tipis.
Cup.
Rayyan menicium gemas pipi Reska.
"Sudah malam, cepat tidur." ucapnya sambil terus membelai rambut Reska yang berada di pangkuannya sampai gadis itu benar-benar teridur dan Rayyan menyelimuti tubuhnya lalu kembali ke tendanya.
__ADS_1
Votenya doooooonggg ciiiintaaaaa... ❤️❤️❤️❤️❤️