
"Aaaaarrrgghh!!" desis Rai pagi itu sambil memegagi kepalanya yang terasa berat.
apa semalam aku mabuk? pusing sekali rasanya.
"Sudah bangun kamu? " tanya papa Rai yang masuk ke kamar dan melihat putranya sedang bersandar di ranjang.
Rai hanya terdiam, dari pada harus menjawab dan berujung keributan.
"Tadi ibu Dira telepon, dia sudah cerita tentang niatnya untuk berpisah dengan mu, sebaiknya kamu cepat urus surat perpisahan mu, dan ajukan setelah Dira melahirkan." ucap papa Rai dan langsung keluar kamar .
Rai menghela nafas, dan sejenak memejamkan matanya yang sudah memerah.
aku tidak ingin berpisah dengan mu Dira.
Rai bergegas mandi, membiarkan air shower membasahi tubuhnya cukup lama seraya menyegarkan kepala nya yang masih terasa berat. Tak lama Rai memakai baju nya dan bergegas melajukan mobilnya ke suatu tempat . Rai memberhentikan mobil nya di depan rumah Dira yang tampak sepi.
Bismillah. batin nya yang tiba-tiba ingat berdoa dan mulai keluar dari mobil nya.
"Assalamualaikum," mengetuk pelan pintu rumah Dira.
"Walaikumsalam," terdengar suara dari dalam rumah.
"Rainan? " ucap mama Dira yang cukup terkejut dengan kedatangan Rai siang itu
"Mah, Dira nya ada? " tanya Rai seraya mencium tangan merutanya tersebut.
"Ada, ayo masuk, mama panggil dulu ya,"
Mama Dira mempersilahkan Rai masuk dan langsung ke lantai dua menuju kamar putrinya.
__ADS_1
"Sayang, " panggil mama Dira yang langsung masuk ke kamar putri nya yang tidak terkunci.
"Iya mah," menoleh sambil terus memegang buku yang di baca nya.
"Ada Rainan,"
Dira pun terdiam dan menaruh buku yang di pegangnya.
"Aku tidak ingin bertemu,"
Mama Dira mencoba duduk di samping Dira dan menatap lekat wajah putri nya tersebut
"Rainan itu masih suami mu, tidak baik bersikap begitu,"
"Hati Dira sakit mah kalau melihat wajah Rai, " ucap Dira dengan mata yang sudah berkaca kaca.
"Dira tidak ada rumah tangga yang sempurna, pasti selalu ada krikil di dalam nya, jangan terlalu membesarkan ego masing masing," mama Dira mencoba menceramahi putri nya tersebut.
"Kalau Rai enggak cinta untuk apa dia ke sini, dengarkan dulu penjelasan nya, " bujuk mama Dira.
Tapi Dira hanya terdiam dengan wajah yang tampak bingung.
"Dira jangan mengambil keputusan saat kamu sedang marah dan jangan berjanji saat kamu sedang senang, " sambung mama Dira.
Dira pun mulai beranjak dari kasur nya untuk menemui Rai.
"Rai," ucap Dira yang melihat Rai sedang melamun di ruang tamu rumahnya.
"Dira, " melihat Dira sudah berdiri di hadapanya.
__ADS_1
"Ada apa ke sini? "
"Aku ingin bicara, "
"Kita bicara di belakang saja, " ucap Dira yang langsung membawa Rai ke halaman belakang rumahnya, dan mulai duduk di teras.
"Aku minta maaf, " Rai memulai percakapan.
"Aku sudah memaafkan mu, " jawab Dira.
"Aku tidak ingin berpisah,"
"Aku tetap ingin berpisah." tegas Dira.
"Aku tau mungkin di fikiran mu aku sudah berlebel cowok brengsek, aku sadar aku banyak dekat dengan wanita sejak dulu, tapi aku cukup sulit untuk jatuh cinta," Rai menatap Dira yang duduk di sampingnya.
"Aku tau, kamu benar-benar merasa jatuh cinta dengan Gizza kan? " ucap Dira dengan nada yang sedikit bergetar dan tetap menatap lurus ke depan tanpa memperdulikan Rai yang menatapnya.
"Iya, tapi Gizza hanya masa lalu ku, sekarang aku sudah jatuh cinta kembali sama kamu, istri ku."
Dira hanya terdiam, rasanya sangat sulit untuk percaya pada ucapan lelaki di sampingnya tersebut.
"Dira, aku benar-benar tidak ingin berpisah, aku juga tidak ingin berpisah dari anak ku, " Rai mencoba memegang tangan Dira.
"Maaf, aku tidak bisa. " ucap Dira yang langsung melepaskan tangan Rai dan mulai bangkit dari diluduk nya, tapi Rai kembali menahan lenganya.
"Aku akan melakukan apapun , aku mohon." kembali mencoba menatap Dira yang sedikit mengeluarkan air mata. Rai pun mengusap perlahan air mata Dira dengan jari telunjuknya.
"Beri aku waktu, semua nya masih terasa menyakitkan untuk ku," Dira menepis tangan Rai dan meninggalkanya sendiri.
__ADS_1
Rai pun mengehela nafas dan kembali duduk.
astaga.. harus bagaimana lagi membujuk nya. geram Rai mulai semakin frustrasi dengan keadaan nya.