
"Rai, papa mau bicara," ucap papa Rai selesai makan malam mereka, dan orang tua Dira pulang.
Rai mengikuti papa nya yang berjalan menuju ruang kerjanya, dan duduk di sana.
"Mau bicara apa? " ucap Rai saat sudah duduk berhadapan dengan papa nya.
"Lusa kamu akan berkerja di perusahaan papa, tapi kamu harus tau kalau status kamu di sana hanya lah karyawan biasa Rai,"
"Apa? karyawan biasa? " Rai tampak terkejut dengan ucapan papa nya , di benak rai papa nya mungkin akan memberikan jabatan yang tinggi untuk nya.
"Iya, "
"Maksud papa apa sih? kenapa gak berikan aku jabatan yang tinggi itu juga kan perusahaan papa? apa kata orang coba anak pemilik perusahaan tapi cuma berkerja sebagai karyawan biasa? " sahut Rai yang mulai emosi dan mengutarakan keinginan nya.
"Untuk apa kamu dengar perkataan orang, ini sudah keputusan papa Rai, papa ingin kamu memulai dari nol supaya kamu tau arti kerja ketas dan tidak instan," tegas papa.
"Papa tuh kenapa sih selalu nyiksa aku? udah lah aku gak mau kerja, " Rai mulai bangkit dari kursi nya.
"Terserah, ingat Rai kamu sudah berkeluarga jadi papa tidak akan memfasiltasi mu sepenuhnya, kamu tetap harus cari uang untuk biaya hidup mu dan istri mu,"
Rai hanya terdiam mendengar ucapan papa nya dan bergegas keluar dari ruangan tersebut dengan perasaan yang marah dan kecewa.
"Semua nya udah gue lakuin, menikah, bulan madu, terus nanti apa lagi? punya anak? tapi papa tetap gak kasih kendali perusahaan ke gue.. kayak nya papa bener bener mempermainkan gue " gumam Rai sambil mengusap kasar wajah nya.
Dira yang baru keluar dari kamar mandi pun melihat Rai yang tengah duduk di ranjang dengan wajah yang tidak bersahabat, Dira mencoba tidak memperdulikan nya dan memainkan handphone nya di sofa. Rai mulai mengambil jaket nya di lemari dan bergegas ke luar kamar.
"Kamu mau ke mana? " tanya Dira yang mencoba bangkit dari sofa dan menghampiri Rai.
"Bukan urusan mu, " ketus Rai yang langsung berlalu meninggalkan Dira.
__ADS_1
Dira hanya bisa menghela nafas mendengar ucapan Rai yang cukup mengecewakan, Dira tau mungkin Rai tidak mencintainya tapi setidaknya Rai bisa menghagai keberadaan nya sekarang yang telah menjadi istrinya.
Rai mengeluarkan handphone nya sambil mencoba menghubungi seseorang
"Loe di mana? " ucap Rai saat mencoba menelepon Nanda.
"Di rumah, kenapa emang??"
"Gue tunggu di klub sekarang, ajak Arya sama Kemal juga, gue traktir, " perintah Rai.
"Enggak deh, ntar loe bawa bini loe lagi.. gue suruh momong bini loe," tolak Nanda
"Enggak, gue sendiri, "
"Oh, yaudah deh, " ucap Nanda yang langsung menutup telepon nya.
Tak lama Arya, Kemal dan Nanda pun sampai di klub malam dan sudah melihat Rai yang tengah duduk di sana.
"Lah emang kita naek helikopter cepet... jakarta macet braayy, " sahut Nanda serta tawa Kemal dan Arya.
"Kenapa sih muka loe kusut banget? gak di kasih jatah? " ledek Kemal.
"Stres nih gue, lusa bokap gue nyuruh gue kerja di perusahaan nya, "
"Lah harusnya nya loe seneng donk kan dari dulu loe pengen urus perusahaan bokap loe," sahut Arya seraya merampas botol wine di tangan Rai.
"Seneng apaan, gue kerja di sana tapi cuma jadi karyawan biasa, gila gak tuh, " Arya, Kemal dan Nanda pun terkekeh mendengar ucapan Rai.
"Anak yang malang," ledek Kemal sambil terus tertawa.
__ADS_1
"Berisik loe akh! tau gitu gue gak usah nikah sama Dira deh, "
"Yaudah Dira buat gue aja ya.. masih di segel kan? " cletuk Nanda.
"Jangan mimpi loe, " sahut Rai sambil menunjuk jidat Nanda dengan telunjuk nya.
"Lah...marah.. tadi katanya gak mau sama Dira, " cletuk Nanda sambil tertawa.
Rai hanya terdiam sambil terus menikmati tegukan demin tegukan wine di tangan nya, melepaskan ke penatan yang di rasakan nya di klub malam tersebut. Pukul 04.00 dini hari Rai pun pulang, Rai segera membuka pintu rumah dengan kunci cadangan yang di bawa nya.
"RAINAN " seru papa Rai yang sudah menyalahkan lampu ruangan dan berdiri menghadang langkah kaki nya .
"Papa? " ucap Rai yang tampak terkejut melihat papa nya dengan wajah yang cukup menyeramkan.
"Dari mana saja kamu? "
"Dari rumah teman, " sahut Rai yang berusaha terlihat tenang.
"Jangan bohong kamu! mulut mu bau alkohol pasti kamu dari dari klub malam kan! "
Rai terdiam, tiba-tiba Dira turun dari tangga karena mendengar keributan di bawah terlihat papa dan mama Rai dengan wajah yang menegang.
"Rainan? " ucap Dira yang melihat Rai hanya terdiam di hadapan papa nya.
"Lihat, lihat istri mu.. dia ada di rumah tapi kamu malah senang senang di klub malam! suami macam apa kamu! " sentak papa Rai.
" lUdah lah pah, berhenti mengatur Rai, bukan kah Rai sudah mengikuti kemauan papa, menikah kan? lalu apa lagi? " sahut Rai yang justru menantang.
"Kamu ini benar-benar..!! " ucap papa Rai yang langsung mengerakan tangan nya untuk menampar Rai tapi Dira dan mama Rai berusaha mererai kedua nya.
__ADS_1
"Sudah pah.. " Dira berusaha menenangkan papa Raai, dan Rai pun langsung meninggalkan papa nya yang masih terlihat sangat emosi pada nya.