
Hari ini Rai di peroleh kan pulang dari rumah sakit dan kembali ke rumahnya. Siang itu mereka sampai di rumah, Dira membantu Rai keluar dari taxy yang di tumpangi nya.
" Hati hati " ucap Dira saat memapah Rai ke dalam rumah.
" Aku sudah tidak apa apa kok " sahut Rai yang mencoba melepaskan rangkulan Dira.
Sampai mereka sampai di kamar dan Rai menyandarkan dirinya di ranjang.
" Aku buat makan siang dulu ya " ucap Dira.
" Iya " Rai tersenyum.
Dira bergegas ke dapur membuatan makanan siang itu. Tak lama Dira kembali dan membawa beberapa makanan ke kamar.
" Di makan dulu ya, aku suapi, habis itu minum obat " ucap dira sambil meyodorkan makanan pada Rai.
" Iya cinta " sahut Rai menerima suapan suapan dari tangan Dira.
" Oia, besok aku akan mulai ke kantor " sambung Rai
Dira mengerutkan kening nya, menghentikan gerakan tangan nya yang sedang menyuapi Rai" Kenapa buru buru? istirahat dulu aja? " protes Dira.
Rai tersenyum" Banyak perkerjaan yang menanti ku " jelas Rai.
Dira terdiam dan mencoba membalas senyuman Rai. Ada perasaan gelisah atas perkataan Dimas tempo hari pada nya.
" Kenapa memandang ku seperti itu? "tanya Rai saat melihat binar mata yang tak biasa dari Dira.
Dira tersenyum" Enggak apa apa kok " sambil mengusap lembut bahu Rai.
Aku takut, sangat takut terjadi sesuatu yang buruk lagi padamu. batin dira
***
Pagi itu Rai sudah siap dengan pakaian kantor nya dan sedang memandangi tubuhnya di cermin.
" Sayang, sarapan dulu yuk " ajak Dira saat menghampiri Rai di kamar.
" Iya, oia kamu enggak mengurus surat risen kamu? "
" Oh, mungkin besok "
" Oh, ya sudah kalau begitu "
Mereka pun sarapan, dan Rai bergegas berangkat ke kantor setelah nya. Sore hari Rai melajukan mobil nya ke suatu tempat. Sampai Rai tiba di tempat tersebut dan menunggu seseorang dengan tenang.
Tak lama tampak Dimas yang keluar dari kantor dan melihat Rai sudah berdiri di depan mobil nya. Dimas memberikan senyuman menyebalkan dan mereka menuju taman kantor di mana pandangan mereka saling bertemu dengan sangat dingin.
"Ada apa? " ucap Dimas yang berdiri di hadapan Rai.
" Apa yang loe inginkan? "
" Dira "
Rai tersenyum kecut mendengar ucapan Dimas" Apa loe benar-benar enggak laku sampai menginginkan istri orang? "
" Gue sudah lebih dulu mencintai nya, sebelum loe menikahi nya " balas dimas
" Gue enggak akan pernah melepaskan Dira "
" Gue akan buat loe meninggalkan nya "
" Loe benar-benar sakit jiwa, gue bisa aja laporin tindak krimanal loe tempo hari "
" Gue bisa beli hukum yang menjerat gue, sebaiknya loe siapkan saja mental loe untuk berpisah dengan Dira " ancam Dimas
__ADS_1
Rai mendekatkan langkah nya ke tubuh Dimas" Gue enggak pernah takut sama pecundang kaya loe " ucap Rai sambil menjentikan jari nya ke dada Dimas dan pergi meninggalkan nya.
kita lihat saja nanti. gumam dimas.
***
Siang itu Rai kembali melakukan perkerjaan seperti biasanya di kantor.
Tok Tok Tok
" Masuk "
Rai melirik ke arah pintu, tampak wanita yang tersenyum sumringah ke arah nya.
" Sayang, lagi sibuk ya " ucap Dira yang melangkah kan kaki nya masuk ke ruangan tersebut.
" Sibuk banget, nanti ke sini lagi ya " sahut Rai yang sontak saja membuat Dira cemberut dan membalikkan tubuhnya hendak meninggalkan ruangan tersebut.
Rai berlari kecil memeluk tubuh belakang dira seraya menghentikan langkah nya" Ngambek, gitu aja ngambek, becanda kok " goda Rai yang menyandarkan dagu nya di bahu Dira menghirup aroma wangi tubuhnya.
" Habis nyebelin banget sih " dengus kesal dira.
" Tumben ke sini? "
" Memangnya enggak boleh kalau ke sini? ini aku bawa makan siang untuk kamu " sahut Dira sambil menunjukkan kotak makan yang sedang di pegang nya.
" Boleh banget kok, makasih ya "
Rai menuntun Dira ke meja kerjanya" Bentar ya aku selesaikan perkerjaan aku dulu " ucap Rai yang kembali duduk di kursi kerja nya.
" Oh yaudah, aku tunggu di situ ya " sahut Dira yang hendak berbalik badan menuju sofa yang berada di ruangan tersebut tapi Rai menarik tangan nya sampai Dira duduk di pangkuan nya.
" Tunggu di sini saja " Rai memeluk pinggang Dira sambil tetap fokus melihat berkas berkas di meja kerjanya.
Dira menatap wajah Rai yang tampak serius dan terlihat tampan meskipun masih banyak luka lebam di wajahnya.
Rai mengerutkan kening nya" Maksud kamu biasanya aku kaya enggak normal gitu? "
" Sedikit " Dira tertawa
" Emm.. pujian yang luar biasa " ucap Rai yang semakin erat memeluk Dira dan mencium gemas pipi dan leher jenjang nya.
" Geli ikh " keluh Dira yang merasakan sentuhan sentuhan bibir Rai di leher jenjang nya.
" Aduh, jadi pengen kan " keluh Rai yang merasakan ada yang bangun saat dira semakin menekan duduk di pangkuan nya.
" Modus banget sih " Dira beranjak dari pangkuan Rai tapi Rai menarik tangan nya sampai Dira terduduk kembali.
" Harus tanggung jawab " bisik Rai
" Apaan sih masa mau kaya gitu di sini "
Rai tersenyum dan mengunci pintu ruangan nya, menuntun Dira ke sebuah pintu rahasia di balik rak buku besar di ruangan tersebut. Dira membuka pintu tersebut tampak ruangan kecil yang rapih berisi ranjang kecil di sana.
Dira mengerutkan kening nya" Ruangan apa ini? "
" Ruangan tidur aku "
" Ya ampun masih sempat tidur gitu? sudah ada dari dulu ruangan seperti ini? "
" Tadi nya belum ada, sebelum nya ruangan ini desain nya kuno selera papa, pas aku tempatin ruangan ini aku ubah aja sekalian bikin kamar kecil buat bobo bareng istri ku tercinta " ucap Rai yang tersenyum penuh arti.
" Mesum banget sih " sahut dira yang langsung di rerpon dorongan kecil dari Rai membuat Dira jatuh ke ranjang tersebut.
" Tanggung jawab ya " bisik Rai langsung mencium lembut bibir Dan tangan nya dengan cepat membuka jas, dasi dan kemeja yang di kenakakan nya .
__ADS_1
Tok Tok Tok
Terdengar suara ketukan dari ruangan Rai yang membuat Dira melepaskan ciuman nya.
"Siapa yank? "
" Biarin aja lah " Rai kembali melanjutkan aksi nya.
" Buka aja dulu "
" Ntar juga pergi sendiri " tolak Rai
" Rainan!! " Terdengar suara pria memanggil nya, Rai mengerutkan kening nya mencoba mrncerna suara yang tak asing bagi nya.
" PAPA!! " seru Rai yang langsung bergegas merapihkan kemejanya yang sudah hampir terlepas dari tubuhnya.
" Papa? aduh gimana ya? " ucap Dira yang juga panik karena pakaian nya yang hampir terlepas.
" Kamu tunggu di sini saja " Rai semakin terburu buru merapihkan pakaian nya mendengar suara ketukan pintu yang semakin kencang.
" Rainan! buka "seru papa sambil terus mengetuk pintu.
kemana dia? pintu nya di kunci segala. gumam papa.
" Ada apa pah? " ucap Rai begitu membuka pintu dan selesai merapihkan pakaian nya.
" Lama sekali, sedang apa kamu? " tanya papa dengan nada curiga.
" Maaf, aku tadi aku sedang sibuk " Rai mencoba berkilah.
" Ini, banyak laporan yang belum kamu selesaikan " sahut papa sambil memberikan berkas berkas pada Rai.
" Oia, nanti aku selesaikan "
" Yasudah " papa hendak melangkah kan kakinya meninggalkan Rai tapi matanya melirik penampilan Rai yang tampak ganjil.
" Kemana jas dan dasi mu? " sambung papa.
" Oh, ada kok, lagi panas aja " Rai mengibaskan tangan nya.
" Apa Ac sedang rusak? " tanya papa dengan ekspresi bingung
" Iya rusak, nanti aku panggil orang untuk memperbaiki nya "
Papa kembali melirik wajah Rai yang tampak aneh " kenapa wajah mu ? " tanya nya saat melihat banyak lebam di wajah Rai.
"Oh , ini jatuh dari motor " Rai kembali mencoba berkilah.
" Jangan bohong kamu , apa kamu berkelahi lagi ? " tanya papa dengan nada menekan
" Bener Pah , enggak bohong "
" Sudah dewasa masih saja berkelahi , mau jadi berandalan lagi kamu " omel papa yang langsung meninggalkan Rai menuju ruangan nya . Rai menghela nafas dan kembali mengunci pintu, menghampiri Dira yang masih duduk di kasur.
" Sudah selesai? " tanya Dira saat Rai menghampiri nya.
" Sudah, ganggu aja " gerutu Rai.
Dira tertawa melihat ekspresi Rai yang tampak kesal.
" Lanjut ya "
" Memang masih tegang? "
" Masih lah, kan ada kamu," sahut Rai yang langsung mendorong pelan tubuh Dira untuk berbaring lalu kembali mencium lembut bibir nya dan menyalurkan hasrat nya siang itu.
__ADS_1
Guys.. Maaf ya sekarang up nya lama, soalnya aku lagi fokus revisi untuk kontrak novel ini.. semoga masih setia menunggu yak ❤️❤️