
"Kak," panggil Friska yang duduk di sebelah kakaknya yang sedang menonton televisi sambil menikmati cemilan.
"Heeemm.." sahutnya sambil tetep fokus menonton.
"Kak.. Rayyan itu gimana orangnya?" tanyanya dengan nada pelan dan sedikit malu malu.
"Rayyan?" Sony mengerutkan keningnya.
Friska mengangguk.
"Gimana ya.. agak tertutup sih dari awal masuk kampus." ujar Sony.
"Apa dia punya pacar?"
Sony menoleh ke arah Friska dan langsung mengerti jika adiknya itu menyukai Rayyan.
"Sepertinya enggak.. "
Friska tersenyum tipis mendengar ucapan kakanya.
"Tapi.. dia bilang dulu dia pernah punya pacar di Indonesia." sambung Sony.
"Lalu?" Friska memasang wajah penasaran.
"Lalu.. mereka tidak pernah bertemu lagi."
Friska tetdiam dan mencoba mencerna ucapan kakaknya, entah Rayyan masih memiliki pasangan di Indonesia atau tidak Friska tidak mengerti.
***
Sore itu di kampus Rayyan masih duduk di kursi dalam kelasnya walau mata kuliah telah usai. Dia membuka galeri handphonenya dan memandangi satu foto yang membuat lamunannya kembali ke masa lalu.
"Ngelamun aja loe." seru Sony yang menghampiri Rayyan dan membuat Rayyan tersentak kaget.
"Sialan loe, bikin gue jantungan." umpat Rayyan yang merasa Sony sudah membuyarkan lamunannya.
"Lagian ngelamun aja, untung enggak kesambet loe." Sony tertawa renyah.
__ADS_1
"Gue mau minta tolong nih," sambung Sony.
Rayyan mengerutkan keningnya." Minta tolong apa?"
"Adik gue masih ada mata kuliah, dia lupa bawa buku materinya bisa tolong anterin ke dia enggak? gue ada urusan mendadak nih." Sony memberikan buku tebal pada Rayyan.
Rayyan hanya terdiam dan terlihat sedang berfikir.
"Ayolah.. kapan lagi gue minta tolong." paksa Sony.
"Oke deh,"
Sony tersenyum." Save nih nomor adik gue, ntar loe telepon dulu kalau udah sampai kampus."
Rayyan pun menyimpan nomor Friska di handphonenya lalu segera keluar kampus melajukan mobilnya menuju kampus Friska.
Friska yang sedang membaca buku di perpustakaan pun tersentak dengan getar handphonenya. " Nomor siapa nih?" ucapnya saat melihat nomor yang tidak di kenalinya dan segera mengangkatnya.
"Halo Fris, ini aku Rayyan," ucap Rayyan yang sudah sampai di depan kampus Friska.
"Kak Rayyan?" serunya yang merasa cukup senang saat itu dan juga membuat Reska yang duduk di sebelahnya sontak menoleh saat gadis itu mengatakan nama Rayyan di telepon.
"Oh.. aku lagi di perpus," jawabannya gugup.
"Ok, aku yang ke sana." Rayyan menutup teleponya.
Friska pun menaruh handphonenya kembali dengan senyum tipis yang mengembang di bibirnya.
"Telepon dari siapa fris?" Reska mencoba bertanya.
"Dari kak Rayyan, dia mau antar buku materi aku ke sini,"
Jantung Reska berdegup kencang mendengar ucapan Friska hatinya terasa pilu melihat raut wajah gadis itu yang terlihat senang dengan telepon dan kedatangan Rayyan.
"Aku mau cari buku yang lain dulu," ujar Reska yang mencoba menjauh dari Friska.
Tak lama Rayyan datang dan menghampiri Friska yang masih duduk di kursi perpustakaan tersebut.
__ADS_1
"Fris, ini buku kamu." ucap Rayyan saat menghampiri Friska.
"Makasih ya kak," Friska tersenyum dengan wajah yang merona.
"Sama sama, aku balik dulu ya," pamit Rayyan yang memutuskan untuk langsung pulang.
"Iya kak, sekali lagi makasih." balas Friska yang sebenarnya sedikit merasa kecewa karena Rayyan memilih untuk langsung pulang.
Rayyan tersenyum dan berjalan perlahan di perpustakaan besar tersebut.
"Banyak juga bukunya." gumamya sambil berjalan jalan sebentar melihat lihat buku di sana. Sampai di sebuah lorong rak yang penuh buku Rayyan melihat gadis yang berdiri di hadapannya.
RESKA.
Rayyan menghentikan langkahnya sesaat, saat pandangan keduanya saling bertemu. Memandang wajah gadis itu terlihat nanar matanya yang sedikit berkaca kaca.
Reska meremas buku yang di peluknya, melihat dengan jelas wajah pria yang sudah lama tidak temuinya. Bibirnya begitu keluh untuk berkata kata sampai Rayyan kembali berjalan dan melewati dirinya begitu saja tanpa mengatakan apa pun. Untuk kesekian kalinya Reska merasakan sakit saat bertemu dengan Rayyan yang hanya menatap tapi seolah tidak mengenalinya.
Reska berlanjan keluar perpustakaan sedikit mengejar langkah kaki Rayyan yang semakin menjauh dan pergi menuju mobilnya meninggalkan kampus tersebut.
"Rayyan.. aku mencintaimu," lirih Reska dengan air mata yang kembali jatuh membasahi pipinya lalu bergegas kembali menuju apartemennya setelah mata kuliahnya selesai.
Reska kembali ke apartemennya dan merebahkan tubuhnya di ranjang.
Hari hari yang ku lalui bersama mu, ku kira aku telah melupakan mu, aku tidak pernah bisa menghapus mu.
Ku kira kau telah menghilang, stiap hari aku tidak bisa keluar dari kenangan tentang mu.
Akan kan aku sanggup untuk bertahan? sulit bagiku untuk bertahan. Hanya kenangan tentang mu yang masih tertinggal. Aku kira aku bisa melupakanmu, ternyata aku runtuh lagi.
Aku bahkan tak bisa melangkah. Aku takut. bau harum mu di masa lalu.
Kenangan masa lalu tentang mu.
Aku kehilangan semuanya.
Seandainya aku bisa kembali ke hari hari itu.
__ADS_1
Tulis Reska dalam buku catatannya dengan air mata yang perlahan membasahi pipinya.
Maaf yak baru sempat up.. jangan lupa votenya yang say.. ❤️❤️❤️