
Siang itu juga dokter segera melakukan operasi secar pada Reska. Terdengar samar suara tangisan bayi dari dalam ruang operasi. Rayyan dan keluarganya tersenyum saat mendengar samar suara itu. Mereka terus menunggu dengan perasaan senang bercampur cemas di depan ruang operasi.
Setelah menunggu cukup lama, dokter wanita keluar dari ruang operasi.
"Bagaimana keadaan istri dan anak saya dok?" tanya Rayyan yang langsung menghampiri dokter tersebut.
"Keadaan ibunya mulai stabil tapi belum sadarkan diri kami akan memindahkannya ke ruang rawat inap, tapi keadaan bayinya sangat lemah kami akan membawanya ke ruwng NiCU." jelas dokter tersebut yang langsung berlalu dengan pergi.
"Bayi ku lemah?" gumam Rayyan dengan perasaan sedihnya.
"Kita berdoa sama sama, semua pasti akan membaik." Dira memegang tangan Rayyan yang mulai terasa dingin sedang Shanum tak dapat menahan air matanya mendengar berita tersebut.
Tak lama Reska segera di pindahkan ke ruang rawat inap. Rayyan bergegas masuk ke ruangan tersebut. Terlihat Reska yang terbaring lemah dengan alat infus yang tertancap di tangan kirinya. Rayyan berjalan perlahan dengan langkah gontainya dan duduk di samping ranjang.
"Maafkan aku," ucapnya seraya menatap lekat wajah Reska yang masih memejamkan matanya.
Rayyan menundukan wajahnya, mata yang sudah menerapkan perlahan menjadi bulir air mata yang membasahi pipinya.
"Aku benar-benar suami yang buruk," sesalnya yang tidak sanggup untuk mengatakan hal yang lebih panjang lagi.
Tak lama Rayyan merasakan pergerakan di tangan Reska yang sedang di pegangnya. Reska mulai membuka matanya. Sangat berat dan terlihat samar untuknya dengan rasa sakit dan kaku yang dia rasakan di sekujur tubuhnya.
"Kamu sudah sadar?" Rayyan tersenyum melihat Reska yang sudah mulai membuka matanya.
Reska memutar pandangannya tampak alat infus di sampingnya, bola matanya langsung mengarah pada perutnya yang sudah tak lagi membuncit.
"Aku sudah melahirkan?" ucapnya dengan nada pelan.
Rayyan mengangguk.
"Di mana anak ku?" tanyanya yang langsung menanyakan keberadaan bayinya.
"Bayi kita sedang bersama perawat," sahut lembut Rayyan seraya mengusap rambut sang istri.
"Kalau begitu pinta perawat itu untuk membawa bayi kita ke sini, aku ingin melihatnya." sahut Reska antusias dengan binar mata penuh harap.
__ADS_1
Rayyan hanya terdiam.
"Kenapa diam saja? cepat, aku ingin melihat bayi ku!" Reska mengoyangkan lengan Rayyan berlulang kali tapi pria itu hanya diam membisu.
"Kenapa diam saja!! aku ingin melihat bayi ku!!" pekik Reska dengan air matanya saat perasaannya mulai terasa cemas karena Rayyan tak menjawab apa pun.
"Jawablah!! jangan diam saja!!" pekik Reska dengan suara yang semakin kencang membuat Kemal, Shanum, Dira dan Rainan bergegas masuk ke dalam ruangan tersebut.
"Sayang, tenanglah." Kemal memeluk putrinya yang sudah terduduk dengan beruarai air mata.
"Kenapa Rayyan diam saja, di mana bayi Reska pah, di mana?" ucapnya dengan isak tangis.
"Bayi kamu sedang di ruang NICU keadaannya lemah karena terlahir permatur." ucap Kemal yang akhirnya memberitahukan berita tersebut.
"Apa?! lemah?" Reska tampak syok mendengarnya.
"Tenanglah sayang, dokter dan perawat sedang menanganinya semua pasti akan membaik." ucap Shanum yang langsung memeluk sang putri.
Reska kembali terisak dengan air mata yang semakin deras membasahi pipinya." Bayi ku harus baik-baik saja, harus baik-baik saja," ucapnya terbata bata.
Rayyan pun keluar dari ruangan tersebut dan memilih membiarkan Reska bersama orang tuanya. Rayyan duduk tertunduk dan mengusap kasar wajahnya.
"Wajah mu terlihat sangat lelah," mengusap lembar rambut Rayyan.
Rayyan menengguk air yang di berikan Dira.
"Bagaimana kalau keadaan bayi ku memburuk, apa Reska akan memaafkan ku?" ucapnya dengan pandangan kosong.
"Kamu yakin Reska mencintai mu?"
Rayyan tersenyum lirih."Tidak untuk sekarang, karena aku telah mengecewakannya."
"Apa kamu percaya, perasaan cinta selalu akan mengalahkan rasa kecewa di hati seseorang?"
Rayyan hanya terdiam.
__ADS_1
"Percayalah, Reska akan selalu mencintaimu." Dira mengusap punggung Rayyan.
"Aku.. benar benar tidak bermaksud untuk mengabaikannya, aku mencintainya, dia bahkan wanita pertama yang aku cintai, mama percaya dengan ku?" ucap Rayyan dengan mata yang berkaca kaca menatap sang ibu.
"Mama selalu percaya pada mu," Dira kembali memeluk Rayyan.
Tak lama Kemal dan Shanum keluar dari ruangan tersebut. Rayyan pun bergegas kembali masuk ke ruangan itu. Tampak Reska yang sedang bersandar di ranjang rumah sakit dengan tatapan kosongnya.
Rayyan duduk dan mereka hanya terdiam untuk beberapa saat. Sampai Rayyan mengambil makanan yang berada di meja.
"Makanlah," mengambil sesendok nasi dan mendekatkannya pada bibir Reska.
Reska menggeleng.
"Sedikit saja, agar tubuhmu tidak lemas," bujuknya.
"Aku akan makan jika bayi ku sudah membaik."
"Jika seperti itu kamu akan sakit kembali,"
Reska tersenyum lirih mendengar perkataan suaminya."Apa kamu perduli jika aku sakit?" tanyanya dengan mata yang kembali berkaca kaca.
"Aku mengkhawatirkan mu,"
"Kamu tidak pernah perduli, kamu hanya perduli dengan perkerjaan mu," Reska menggelengkan kepalanya dengan air mata yang kembali terjatuh.
"Maafkan aku, aku tidak bermaksud mengabaikan mu." mencoba memegang lembut tangan Reska namun dengan cepat Reska menepisnya.
"Aku tidak akan memaafkan mu jika terjadi sesuatu pada bayi ku, karena kamu tidak pernah perduli padanya, tidak pernah perduli!!" pekik kembali Reska.
"Sayang, berhentilah bicara seperti itu," Rayyan hendak memeluk Reska namun Reska mendorongnya.
Sampai Kemal yang mendengar suara keras Reska kembali masuk ke dalam dan kembali memeluk putrinya.
"Rayyan tidak pernah perduli pada ku pah, Rayyan tidak pernah perduli." ucapnya di pelukan sang ayah.
__ADS_1
"Rayyan, tinggalkan Reska sendiri dulu, keadaannya sedang tidak baik." ucap Kemal pada Rayyan yang hanya berdiri mematung melihat Reska yang sepertinya sangat membencinya.
Aku up lagi nanti malam.. kalau votenya kenceng yak.. ❤️❤️❤️❤️