
Setelah cukup lama mencari Rayyan akhirnya mendapatkan tespek tersebut. Rayyan bergegas kembali ke villa.
"Sayang, aku sudah dapat tespeknya." menghampiri Reska yang berbaring di kamar di kelilingi para wanita yang menungguinya.
"Makasih ya," Reska bergegas bangun.
"Sayang, cepat cek sekarang," titah Dira antusias.
"Sekarang mah?" Reska tampak ragu.
"Iya sayang sekarang, kita semua mau tau hasilnya." seru Shanum yang juga antusias.
Reska pun mengangguk dan berjalan menuju kamar mandi. Tespek itu pun menyatu dengan urinenya pagi itu, tak lama terlihat garis dua yang berwarna samar namun tak lama semakin jelas.
"Aku hamil?" membekap mulut dengan tangannya yang tampak terkejut.
"Harus senang atau sedih ya? Derran masih kecil, kasihan juga." batinnya gelisah
Tak lama terdengar suara ketukan pintu.
"Sayang, sudah belum?" terdengar suara Dira yang tak dapat menahan rasa penasarannya
Reska bergegas membuka pintu kamar mandi.
"Bagaimana sayang?" seru Shanum.
Reska tidak menjawab dan memberikan tespek tersebut pada Dira yang berdiri di hadapannya. Mata Dira membulat melihat jelas garis dua di tespek tersebut.
"Sayang, kamu hamil.. " seru Dira dengan wajah senangnya.
"Alhamdulillah.." ucap mereka bersamaan, begitu pula dengan Rayyan yang tersenyum tipis mendengar berita tersebut.
"Yaudah sayang, kamu istirahat ya." Dira menuntun menantunya kembali ke ranjang.
"Mah, aku laper tadi belum sarapan." keluh Reska yang merasakan belum ada asupan makanan di perutnya akibat rasa mual yang di rasakannya.
"Kamu mau sarapan apa sayang?" tanya lembut Sabrina.
"Ehmm.. aku mau kelapa muda.." terdengar suara manja Reska seraya melirik Rayyan yang masih setia berdiri di dekat pintu kamar.
"Kelapa muda?" Rayyan memasang wajah heran.
Reska mengangguk pelan."Iya, mau yang langsung dari pohonnya." ucapnya tersenyum simpul.
"Apa? langsung dari pohonnya??!!" ekspresi heran Rayyan seketika berubah menjadi bingung.
"Iya, bisa kan?" tatap Reska penuh harap.
"Sayang, memangnya ada pohon kelapa? ini kan di puncak bukan di pantai, ganti saja ya.. buat teh langsung dari kebun teh, mau?" memberi tawaran yang lebih mudah mengingat di sana lebih banyak kebun teh.
"Aku mau kelapa, bukan teh.. kamu memang enggak perduli sama aku." lirih Reska dengan mata yang berkaca kaca yang seolah teringat kelakuan Rayyan saat dirinya sedang mengidam.
"Rayyan, Reska itu sedang mengidam, cepat carikan!" titah Dira.
"Tapi, memangnya ada mah, pohon kelapa di sini?" Rayyan terlihat ragu.
"Rayyan, enggak ada yang engga mungkin selama allah berkenhendak, cepat carikan." ucap lembut Sabrina dengan kata kata tausiahnya.
"Yaudah, Rayyan carikan dulu," Rayyan mengangguk pasrah dan bergegas menghampiri para lelaki yang sedang bersantai di ruang keluarga.
"Pah, tolongin aku dong." Rayyan menghampiri Rau yang tengah asik dengan handphonenya.
__ADS_1
Menoleh ke arah Rayyan yang memasang wajah gelisahnya."Minta tolong apa?"
"Reska positif hamil, dia mau kelapa muda yang langsung dari pohonnya sekarang." jelas Rayyan.
"Hamil?" seru mereka semua bersamaan.
"Iya, sekarang bantu aku cari pohon kelapa muda."
"Aduh, ada enggak ya, di pantai banyak.. ada pantai enggak ya di bogor?" Rai menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Nyari pantai dulu yang ada anak gue keburu lahiran," sahut gemas sang besan.
"Terus cari di mana?" balas Rai.
"Yaudah ngedengerin loe berdua ribut yang ada si Reska keburu ileran, udah ayo cari aja." Nanda mencoba menengahi.
"Bikinnya berdua, tapi yang di buat repot semua orang loe." gerutu Devan yang memasang wajah malas.
"Masa iya gue bikin anak ngajak loe? makanya cepet kawin." balas Rayyan tak mau kalah.
"Udah, udah ayo cari aja deh, papa titip Derran dulu." ucap Kemal yang langsung menggendong Derran dan memberikannya pada Shanum.
Mereka pun bergegas masuk ke mobil untuk mencari pohon kelapa di sekitar sana. Cukup lama Rayyan menyetir, tapi matanya tak menangkap satu pun pohon kelapa.
"Kayanya udah lama kita nyari, perut gue sampe laper lagi nih." keluh Elang.
"Susah juga ya." Rai tampak bingung.
"Gue tadinya mau ke tempat wisata, kenapa jadi nyari pohon kelapa begini." gerutu Devan
"Terus aja cari.. kebahagiaan Reska nomor satu." Kemal memberi semangat pada menantunya yang terlihat sudah mulai frustrasi.
"Astaga.. enggak ada gunanya juga mereka ikut." geram Rayyan yang seperti pusing sendiri.
Sampai beberapa saat Rayyan melihat pohon kelapa yang menjulang tinggi.
"Akhirnya ketemu juga." Rayyan tersenyum dan bergegas menepuk Rai yang duduk di sampingnya.
"Pah, bangun."
Rai dengan berat membuka matanya, meninggalkan mimpi indahnya siang itu."Kenapa?!" tanyanya yang tampak linglung.
"Tuh pah pohon kelapanya." menunjuk pohon kelapa dari dalam mobil.
"Akhirnya ketemu." Rai tersenyum lega dan membangunkan para mahluk yang masih tertidur di mobil.
Mereka semua pun keluar dari dalam mobil, lalu Kemal mencari tau pemilik pohon tersebut dan meminta ijin untuk mengambil buah kepala yang bertengger indah itu.
"Udah di ijinin tadi, Rayyan kamu ambil aja." ucap Kemal yang menghampiri Rayyan.
"Aku pah yang manjat?" menjetikan jari ke arah wajahnya.
"Iya, kamu masa papa, sudah tua begini nanti encok." sahut gemas Kemal.
"Pemilik kebunnya enggak ada emang?"
"Enggak ada.. lagi pergi katanya yang ada cuma istrinya."
"Aku enggak bisa manjat pah, tinggi banget lagi, kalau jatuh terus aku mati nanti Reska pasti nikah lagi." ucap Rayyan dengan angan angannya yang menyeramkan.
"Loe bertiga aja deh yang manjat." menunjuk Rayka, Devan dan Elang.
__ADS_1
"Enggak berani gue, belum nikah juga, kalau mati gimana." tolak Devan mentah mentah.
"Sama gue juga belum ngerasain malam pertama." sahut Elang dan Rayka.
"Jangan di paksa Rayyan, kasian mereka belum merasakan kenikmatan dunia." ucap Rai yang seolah bijak.
"Terus gimana dong?" Rayyan terlihat semakin bingung.
Mereka semua hanya menatung seraya memandangi pohon kelapa yang menjulang tinggi tanpa ada satu pun yang berani memanjatnya.
"Kita suruh anak anak sekitar sini mau enggak ya?" ucap Nanda seraya melirik dua anak remaja yang sedang berjalan di dekat mereka.
"Boleh tuh." Rai dengan antusias segera memanggil dua anak tersebut.
"Ada apa pak?!" tanya sopan si anak.
"Kita mau minta tolong, bisa enggak kamu ambilkan kelapa di sana?" pinta Rai.
"Oh, bisa pak, saya ambilkan." seorang anak tersebut pun langsung mengiyakan dan memanjat pohon kelapa tersebut, membuat mereka semua tersenyum lega.
"Anak desa emang baik-baik." bisik Rai pada Nanda yang di respon anggukan setuju darinya.
Tak lama anak tersebut pun berhasil menjatuhkan dua buah kelapa dari pohonnya dan bergegas turun.
"Makasih ya." ucap Rayyan yang tak dapat menahan rasa senangnya.
"Sama-sama pak, tapi kelapa ini biasanya di ambil untuk di jual pak,"
"Maksudnya?" tanya Rayyan bingung.
"Iya, di sini harga kelapa mahal jadi kalau tidak untuk di jual biasanya kami tidak akan memetiknya." jelas anak tersebut dengan wajah yang menyakinkan.
"Maksudnya apa sih?" Rayyan belum juga mengerti perkataan anak itu.
"Bayar, bayar maksudnya." bisik Rai yang langsung mengerti.
"Bayar?!" Rayyan tampak kaget.
Rai mengangguk dan Rayyan segera mengeluarkan uang di dompetnya.
"Ini, saya bayar kelapanya." Rayyan memberikan uang berwarna merah dengan gambar pahlawan.
"Di sini harga kepala mahal pak," ucap kembali si anak.
"Baru tau gue harga kelapa di sini mahal ya." ucap polos Devan.
"Pah, ini sih malak." bisik Rayyan pada papanya tercinta.
"Udah kasih aja, dulu papa juga gitu." balas Rai mengingat kejadian beberapa tahun silam.
Rayyan pun pasrah dan mengeluarkan beberapa uang kembali dari dompetnya.
"Makasih pak," anak itu tersenyum puas dan berlalu pergi.
"Anak desa sama kota sama aja ternyata." bisik Nanda di telinga Rai.
"Semua sama aja kalau soal uang." Rai mengangguk setuju.
Mereka semua pun masuk ke mobil dan kembali ke villa siang itu.
Guys.. maaf ya upaya agak lama.. masih mau di lanjut?? ❤️❤️❤️
__ADS_1