
ke esokan harinya.
Malam hari setelah mengobrol dan bercanda dengan Rai sebelum tidur akhirnya Dira melihat Rai yang sudah memejamkan matanya di samping nya. Dira mengambil handphone nya dan keluar dari kamar nya.
" Jam berapa aku harus ke bandara? ucap nya saat menghubungi seseorang.
Dimas tersenyum tipis saat mendengar Dira menyetujui permintaan nya " Aku ada sedikit urusan jadi kita tidak berangkat malam ini, aku tunggu jam 5 pagi di Bandara tidak usah bawa pakaian, aku akan menyiapkan pakaian yang lebih bagus saat kita sudah di sana,"
"Oh begitu, baiklah." Dira menutup telepon nya, memejamkan matanya sesaat berusaha menahan sedikit sesak di dada nya.
Maafkan aku. gumam nya.
Pagi pagi sekali Dira sudah bangun dan bergegas dan bersiap siap untuk pergi bandara. Di lihat nya Rai yang masih tertidur, Dira perlahan mendekatkan tubuhnya ke wajah Rai.
Cup.
Dira mencium pelan kening Rai, air mata sedikit membasahi pipinya.
Maafkan aku, semua akan kembali seperti semula tidak ada lagi hal buruk untuk mu dan keluarga mu, aku mencintaimu Rai.
Dira perlahan pergi ke luar rumah dan bergegas menuju bandara. Tak lama Dira sampai di bandara, di lihat nya Dimas sudah menunggu di sana.
" Satu jam lagi kita take off, apa kamu ingin makan dulu? " ucap Dimas saat Dira menghampiri nya.
Dira hanya menggeleng dan duduk di kursi yang ada di sana. Mereka hanya terdiam untuk beberapa saat.
" Apa kau senang melakukan ini? " Ucap Dira dengan tatapan kosong ke depan.
" Tentu, "
" Aku akan sangat membenci mu, "
" Asal kau bersama ku, itu tidak masalah untuk ku, "
__ADS_1
Dira tersenyum getir mendengar ucapan pria di samping nya.
" Aku ke toilet dulu. "
Dira bergegas meninggalkan Dimas ke toilet, di cuci nya wajahnya berkali kali menggunakan air di wastafel, Dira melihat pantulan wajah nya di cermin, wajah yang tampak sayu dan tak bersemangat dan sembab di bagian matanya karena hampir sepanjang malam dirinya menangis.
Mungkin di sana aku akan mati perlahan. gumam nya sambil tersenyum lirih.
Tak lama Dira keluar dari toilet dan hendak menghampiri Dimas kembali tapi ada seseorang yang menarik tangan nya dan memeluk nya dengan sangat erat.
" Jangan pergi, "
Terdengar suara pria yang tak asing untuk nya.
" Rainan?? " ucap nya dengan ekspresi bingung dan tidak percaya, Dira mencoba melepaskan pelukan Rai tapi Rai mendekap nya dengan semakin erat.
" Apa kau ingin membuat ku mati? "
" Lalu kenapa melakukan semua ini? kalau aku tidak mendengarkan percakapan mu di telepon mungkin aku sudah kehilangan mu untuk kesekian kali, "
" Aku tidak ingin membuat mu dan keluarga mu menderita karena aku, "
" Aku akan lebih menderita jika hidup tanpa kamu, "
Dira hanya terdiam dalam pelukan Rai dan menumpahkan semua air matanya.
" Dira, " terdengar suara pria berbeda yang memanggil nya dan tak asing untuk nya.
" Dimas? "
Dira mencoba melepaskan pelukan Rai tapi Rai kembali menahan nya dan semakin memeluk nya erat.
" Jangan berbalik, jangan lihat pria itu, cukup aku saja yang kau lihat, suami mu, " ucap Rai yang sudah melihat Dimas berdiri di hadapan nya.
__ADS_1
Dimas memebri senyuman yang menyebalkan saat melihat pemandangan di hadapan nya.
" Lepaskan dia, " ujar Dimas yang muak melihat Rai terus memeluk wanita yang di cintai nya.
" Gue enggak akan pernah melepaskan nya, "
" Apa loe sadar posisi loe sekarang? loe di ambang kehancuran, apa loe tega membiarkan Dira hidup susah bersama loe dan keluarga loe? "
" Gue bukan perundangan seperti loe, gue akan selalu berusaha membahagiakan nya, "
" Dira!! apa kamu akan tetap seperti itu? cepat ikut dengan ku!! " Sentak Dimas dengan penuh emosi.
" Dia enggak akan ikut dengan loe karena dia bukan istri loe!! " Rai melepaskan pelukan nya dan menarik tangan Dira untuk bergegas meninggalkan Dimas dan tempat itu.
Hidup loe akan seperti sampah untuk ke depannya Rainan wijaya. gumam Dimas dengan segala emosi nya.
Rai terus menuntun Dira keluar dari bandara sampai tiba-tiba langkah kaki Dira tehenti. Rai menoleh dan melihat Dira yang sedikit tertunduk.
" Maafkan aku, " ucap Dira dengan nada yang bergetar.
Rai berjalan perlahan mendekati Dira dan kembali memeluknya.
" Jangan lakukan hal itu lagi, jangan pernah berfikir untuk meninggalkan ku lagi, "
" Tidak, tidak akan pernah, "
" Mungkin ke depan semua nya akan terasa lebih sulit, tapi percayalah aku akan selalu berusaha untuk membahagiakan mu, kamu percaya aku? " Rai melepaskan pelukan nya dan menghapus air mata Dira.
Dira tersenyum" Aku percaya kamu, "
" Baguslah, itu sudah cukup untuk ku, " Rai tersenyum dan mengandeng tangan Dira menuju mobilnya meninggalkan bandara.
Maaf ya lama up nya soalnya anak autror lagi sakit.. 😢😢 jangan lupa, komen, like dan vote yak guys.. ❤️❤️
__ADS_1