
"Di makan sayang," Reska mengambil nasi dan lauk untuk makan malam suaminya hari itu.
"Makasih ya," Rayyan dengan lahap menyantap makanannya.
"Kamu ganteng," puji Reska dengan nada centil.
"Heeemm.. katakan saja yang kamu inginkan," seolah tau isi fikiran Reska.
"Udah ganteng, pengertian pula..aku mau berkerja." ucap Reska dengan senyum pepsodentnya.
Uhuk... uhuk.
Wajah Rayyan memerah tersedak potongan daging yang cukup besar mendengar ucapan istrinya.
"Tidak, aku tidak mengijinkannya." tegas Rayyan.
"Kenapa?" Reska memasang wajah bingung.
"Kebutuhan mu aku yang akan mendukung jadi tidak usah berkerja,"
"Tapi, aku kan masih muda, bosan kalau di rumah terus lagi pula aku juga ingin mencari pengalaman," jelas Reska.
"Ya sudah, berkerja di perusahaan ku saja, nanti aku akan pecat sekretaris ku," Rayyan memberikan solusi.
"Lho kok gitu? kasihan sekretaris mu yang enggak berdosa itu, aku mau berkerja di perusahaan lain dengan usaha ku sendiri."
"Aku tetap tidak mengijinkannya."
Reska menekuk wajahnya dan meninggalkan meja makan. Tak lama Rayyan ke kamar dan melihat Reska yang sedang berbaring membelakanginya.
"Sayang," ucapnya lembut seraya memebelai rambut istrinya itu.
Reska hanya terdiam.
"Sudahlah, lupakan soal berkerja itu, bagaimana kalau besok kita jalan jalan," mencoba merayu.
"Aku mau berkerja, bukan jalan jalan," tetap merajuk dan membelakangi Rayyan.
Rayyan menghela nafas."Memangnya mau berkerja di mana?"
Dengan cepat Reska membalikkan tubuhnya." Di perusahaan dekat dengan Devan kayaknya, lusa aku interview." ucapnya dengan mata yang berbinar binar.
"Interview?"
Reska mengangguk."Iya aku sudah melamar sejak lama, jadi boleh kan?" tanyanya penuh harap.
"Ya sudah," Rayyan pasrah.
"Makasih sayang." ucapnya senang yang langsung mencium pipi Rayyan.
__ADS_1
****
Hari berikutnya Reska sudah bersiap dan akan interview di perusahaan tersebut dan Rayyan mengantarnya pagi itu. Interview tersebut berjalan lancar dan Reska di terima berkerja di sana.
1 Minggu kemudian.
Pagi itu Reska dengan cepat beranjak dari tempat tidurnya dan berlari ke kamar mandi merasakan perutnya yang terasa sangat mual. Rayyan sedang terpejam akhirnya terbangun melihat suara mual Reska.
"Kamu masuk angin?" tanyanya yang menghampiri Reska yang sedang di wastafel seraya memijat lembut lehernya.
"Tidak tau,"
"Ya sudah, tidak usah berkerja dulu,"
"Aku masih karyawan baru masa sudah absen," tolak Reska.
"Bulan ini aku belum mens, atau jangan jangan aku hamil?" batin Reska.
Keesokan harinya Reska sudah berdiri di kamar mandi dengan tespek yang di pegangnya. Reska mencelupkan tespek tersebut ke urinenya dan perlahan terlihat garis dua yang tadinya berwarna samar menjadi jelas.
"Aku hamil?" Reska tersenyum tipis dan bergegas keluar dari kamar mandi.
"Sayang bangun," menepuk pelan tubuh Rayyan.
"Sebentar lagi ya," tolaknya yang masih enggan membuka mata.
"Serius?" tanyanya antusias.
Reska mengangguk dengan seulas senyum di bibirnya.
"Syukurlah, aku senang mendengarnya," Memeluk Reska dengan perasaan senang.
"Kamu berhenti kerja saja kalau begitu, aku takut terjadi hal yang buruk." pinta Rayyan dengan nada khawatir.
Reska menggeleng. "Aku tidak apa apa kok, masih kuat," tolaknya.
Rayyan menghela nafas dan mencoba menuruti keinginan istrinya. Lalu, Mereka pun bersiap ke kantor masing masing pagi itu. Reska melakukan perkerjaan seperti biasanya tapi perutnya terus terasa mual dan merasa sangat lemas hari itu.
"Aduh lemes banget sih, enggak kuat nih," kelunya yang langsung meraih handphonenya dan menghubungi Rayyan.
"Halo sayang, kenapa?"
"Aku lemas banget nih, mau minta ijin pulang, kamu bisa enggak jemput aku?"
"Aku bilang juga apa.. Bla, bla bla." Rayyan mengoceh panjang lebar yang membuat Reska pasrah meskipun telinganya terasa panas.
"Ya sudah, jemput aku ya?"
"Sayang, aku sedang meeting di perusahaan lain, agak jauh lokasinya dari situ,"
__ADS_1
"Oh yaudah, aku naik taksi saja,"
"Tunggu, biar Devan yang antar kamu pulang, kantornya dekat kan dari situ." Rayyan bergegas menutup teleponnya dan menghubungi Devan.
"Hallo, kenapa?" terdengar suara Devan dari balik telepon.
"Tolong antar si Reska pulang dong, dia lagi hamil enggak enak badan katanya, kantor loe kan dekat tuh," ucap Rayyan tanpa basa basi.
"Lah, kenapa enggak loe aja?"
"Gue lagi meeting di perusahaan lain, lokasinya jauh, kasian kalau nunggu lama."
"Yaudah naik taksi aja, ribet banget." tolak Devan.
"Gue khawatir kalau naik taksi, udah cepet anter si Reska pulang atau enggak gue cariin cewek yang bening buat loe," ancam Rayyan yang langsung menutup teleponnya.
"Astaga.. ngancem segala lagi, dia yang bikin anak kenapa gue yang repot." gerutu Devan yang langsung meminta ijin keluar sebentar pada atasnya.
Devan pun segera menghampiri Reska dan mengantarnya pulang siang itu.
"Sudah sampai, loe istirahat aja," ucapnya saat memberhentikan mobilnya di depan rumah Reska.
"Makasih Devan Sailendra yang baik," puji nya sambil tersenyum manis.
"Gue belum punya istri udah suruh anter istri orang yang lagi hamil, besok besok gue nikah deh biar enggak di repotin sama loe," ucap Devan masih dengan gerutunya.
Reska tertawa kecil."Iya, gue doain loe cepat nikah deh," Reska keluar dari mobil Devan dan Devan bergegas kembali ke kantornya.
Reska merebahkan tubuhnya lemasnya di ranjang sampai tak lama handphonenya berbunyi.
"Papa?" gumamya yang langsung mengangkat telepon tersebut.
"Halo sayang, kamu masih di kantor?" tanya Kemal di balik telepon.
"Reska ijin pulang pah barusan,"
"Lho, kenapa? kamu sakit?" tanyanya dengan nada khawatir.
"Iya pah mual sama lemas, soalnya Reska hamil,"
"Hah? hamil?" Kemal tampak terkejut mendengarnya.
"Iya pah,"
"Ya ampun.. si belatung nangka ternyata gerak cepat." batin Kemal seraya menggelengkan kepalanya.
"Ya sudah nanti malam papa sama keluarga Rayyan ke rumah kamu, kamu istirahat jangan capek capek." ucap Kemal yang langsung menutup teleponnya dan segera memberitahukan Rainan tentang berita tersebut.
Tolong bantu votenya ya say.. biar aku tetap semangat up.. ❤️❤️❤️❤️❤️❤️
__ADS_1