Menikahi Gadis Culun

Menikahi Gadis Culun
S2 ke rumah Sabrina


__ADS_3

" Bagaimana, nak Nanda mau kan sholat di sini?" ayah sabri kembali bertanya yang membuyarkan lamunan Nanda.


" Oia, boleh," sahut Nanda dengan senyuman palsu nya dalam hati sedikit ketar ketir.


Tak lama adzan pun berkumandang para jamaah perlahan berdatangan, Nanda segera melangkahkan kakinya di tempat wudhu, matanya melirik ke arah di sekitarnya, tampak beberapa orang yang juga sedang berwudhu.


Aduh nysel gue, kalau di ceramahin papa ngelawan sekarang wudhu aja gue enggak bisa. batin nya.


Nanda perlahan menyalahkan kran air di hadapan nya sambil sesekali melirik orang lain yang sedang berwudhu dan mengikuti gerakan secara perlahan. Setelah selesai Nanda masuk kembali ke dalam musolah, tampilan ayah sabri yang sudah bersiap siap akan melaksanakan sholat.


" Nak, Nanda mau jadi imam? " ucap ayah sabri yang membuat Nanda terkejut mendengar nya.


Jadi imam? ya ampun apa jadinya kalau gue jadi imam. batin nya.


"  Enggak pak, saya enggak siap," tolak Nanda.


" Lho kenapa enggak siap? "


" Emm maksud saya tenggorokan saya lagi sakit jadi agak sedik serak suara saya," Nanda mencoba mencari alasan.


" Oh begitu, Yasudah, ayo kita sholat dulu." ajak ayah sabri yang menjadi imam.


Nanda berdiri di barisan para jamaah matanya sesekali tetap melirik mengikuti gerakan jamaah di sekitarnya sampai sholat itu pun selesai, dan akhirnya Nanda bisa bernafas lega.


" Nak Nanda, tunggu di sini sebentar ya, bapak sama sabri mau ke rumah sebentar mengambil oleh oleh," ucap ayah sabri sambil menghampiri Nanda.


" Mau pulang, kalau boleh tau memang nya rumah bapak di mana? " tanya Nanda.


" Enggak jauh kok dari sini, Jalan kaki juga sampai, "


Enggak jauh? gue antarin ke rumah nya aja kali ya, gue kan jadi bisa mampir ke rumah sabri.. sambil menyelam minum air. batin Nanda.


" Oh, bagaimana kalau saya antar saja? "


" Enggak merepotkan? "


" Enggak kok pak,"


" Oh yaudah kalau gitu sabri kita di antar sama nak Nanda saja ya ke rumahnya "


Nanda pun tersenyum karena tawaran nya di terima, Sabri dan ayahnya pun bergegas masuk ke mobil Nanda, di perjalanan ayah Sabri mengajak nya mengobrol, tapi Nanda diam diam melirik sabri yang tengah duduk di bangku belakang dari kaca di mobil nya.

__ADS_1


Tak lama mereka pun sampai di rumah Sabri, tampak rumah minimalis dengan pepohonan rindang di sekitarnya.


" Ayo masuk nak Nanda," ayah Sabri mempersilahkan nya masuk.


" Saya tunggu di teras aja pak," tolak Nanda yang lebih memilih duduk di teras rumah Sabri.


" Oh Yasudah, Sabri buatkan nak Nanda minum, bapak ke dalam dulu ya, " perintah ayah Sabri yang perlahan masuk ke dalam rumah nya.


" Tunggu ya, aku buat minum dulu." Sabri bergegas ke dalam membuatkan Nanda minum.


Nanda tersenyum dan tak dapat menyembunyikan rasa senang nya karena malam ini dia bisa bertamu di rumah gadis yang telah lama di sukai nya.


Tak lama Sabri kembali sambil membawakan minuman untuk Nanda " Di minum kak." ucap nya sambil meletakan minuman itu di meja dan duduk du sampai Nanda.


" Makasih ya,"


Mereka hanya saling terdiam untuk beberapa saat.


" Sabri memang nya kamu masih kuliah? " tanya Nanda memecah keheningan.


" Iya kak, pertengahan bulan aku sudah wisuda kok," sahut Sabri sambil tersenyum yang membuat jantung Nanda berdetak kencang seakan lari dari tempatnya.


" Oh gitu ya, ternyata rumah kamu enggak jauh ya dari rumah aku,"


" Oh, rumah kakak dekat sekitar sini? "


" Iya."


Sampai terdengar suara handphone Nanda, di lihat tertera nama Kemal di layar, Nanda berusaha mengabaikan telepon itu, tapi Kemal tetap berusaha menghubungi nya.


" Siapa kak? di angkat aja enggak apa-apa kok," ucap Sabri yang mendengar suara handphone Nanda tapi Nanda tak juga mengangkat nya.


" Yaudah, bentar ya." Nanda segera mengangkat telepon nya.


" Nan, loe di mana? " terdengar suara Kemal dari balik telepon.


" Di luar kenapa emang? " sahut Nanda dengan nada jengkel.


" Ke klub yuk, gue sama Arya mau otw ke sana nih," ajak Kemal.


" Enggak bisa gue," tolak Nanda mentah mentah yang merasa pertemuan nya dengan Sabri seperti kesempatan emas untuk nya.

__ADS_1


" Tumben? lagi ngapain sih loe? " tanya Kemal penasaran karena biasanya mahluk jomblo satu itu tidak pernah menolak ajakan nya.


" Kepo bener, udah loe ajak aja sih Rai sana ke klub ," sahut Nanda.


" Ogah deh gue ajak si Rai ntar yang ada dia bawa anaknya, yakin loe enggak mau ikut? si clara montok nanyain loe terus tuh," goda Kemal sambil tertawa jahil.


" Berisik loe." Nanda bergegas menutup telepon nya.


" Sory ya lama," sambung Nanda pada Sabri yang setia menunggu nya berteleponan.


" Iya, enggak apa-apa kok, oia kak tadi kakak sebut klub, klub apa maksudnya? " tanya Sabri yang sedikit mendengar percakapan Nanda barusan.


Nanda tersentak kaget mendengar pertanyaan Sabri, lidah nya sedikit keluh karena tak tau harus menjawab apa, jika Sabri tau dia sering ke klub malam tamat sudahlah perjalanan cintanya.


" Emm.. klub.. klub sepak bola maksudnya," Nanda mencoba mencari alasan seraya tersenyum kaku.


" Klub sepakbola? " tanya Sabri dengan nada heran.


" Iya."


" Memang nya kak Nanda suka sepak bola? "


" Lumayan suka." Nanda kembali memberikan senyuman palsu.


" Nak Nanda, ini oleh oleh dari bapak, untuk pak Wahyu," ucap ayah Sabri yang menghampiri mereka sambil memberikan oleh oleh pada Nanda.


" Makasih ya pak," Nanda tersenyum dengan pemberian ayah Sabri.


" Sama sama, oia sebentar lagi waktu isya tiba bagaimana kalau kita sholat berjamaah di dalam, nak Nanda bisa mencoba menjadi imam nya, bagaimana? "


Nanda kembali tersentak dengan permintaan ayah Sabri, sholat saja dia belum bisa bagaimana mungkin dia jadi imam.


" Emmm, maaf pak, sepertinya saya harus segera pulang, ada sedikit urusan," Nanda mencoba mencari alasan.


" Oh begitu, Yasudah kalau begitu." raut wajah ayah Sabri tampak kecewa.


" Iya pak, Sabri saya pulang dulu ya." pamit Nanda yang memutuskan untuk pulang dari pada harus jadi imam dan reputasi nya bisa hancur berkeping keping jika Sabrina dan keluarga nya tau dia tidak bisa sholat.


" Iya, hati hati ya kak." sahut Sabri dengan senyum manisnya.


Nanda pun tersenyum dan masuk ke masuk ke mobil nya meninggalkan rumah Sabri malam itu.

__ADS_1


__ADS_2