
Tak lama Nanda sampai di rumahnya malam itu, Nanda bergegas menuju kamarnya , di lepas jaket yang melekat di tubuhnya dan dia merebahkan tubuhnya di kasur, menatap langit langit kamarnya dengan segala lamunan nya.
Sabrina tuh benar-benar bidadari surga , gue jadi enggak pede deketin dia , sholat aja gue enggak bisa. batin nya nelangsa.
Nanda mengambil handphone di saku nya dan mencari tata sholat yang benar di handphone nya.
***
Ke esokan harinya pagi hari terdengar suara gumaman dan tangisan balita di kediaman Rai dan Dira. perlahan Dira membuka matanya, tapi tubuhnya terasa sangat panas bak daging asap, dan sangat lemas pagi itu.
" Rai, bangun." Dira menepuk pelan tubuh Rai yang masih memejamkan matanya.
Tak lama peelahan Rai mulai membuka matanya meninggalkan mimpi indahnya karena panggilan sang istri.
" Ada apa? " tanya nya dengan suara serak khas bangun tidur.
" Rayyan nangis seperti nya mau susu, aku enggak enak badan." keluh Dira dengan wajah pucat nya.
Rai segera duduk dan memegang kening Dira yang memang terasa panas.
" Kamu sakit? kita ke dokter saja ya? " bujuk Rai.
" Nanti aku minum obat aja ada kok di kotak obat, tolong buatkan susu untuk Rayyan dulu," Dira melirik Rayyan yang masih menangis di box bayinya.
" Oh yaudah."
Rai bergegas menggendong balita mungil nya.
" Sayang, haus ya, bentar ya papa buatin susu." ucapnya seraya mengusap lembut punggung putranya dan bergegas ke dapur sambil tetap menggendong Rayyan.
Rai segera membuatkan susu dan kembali meletakan Rayyan di kasur yang langsung meminm susunya dengan semangat.
" Aku ambilin obat ya." Rai bergegas mengambil kan obat untuk Dira dan meminumkan nya.
__ADS_1
" Gimana ya, siapa yang jaga Rayyan kalau aku sakit? " ucap Dira yang tampak bingung.
" Yasudah aku enggak ke kantor dulu, aku saja yang jaga," balas Rai.
" Maaf ya ngerepotin,"
" Enggak apa-apa kok, sayang kamu masih enggak mau pakai pembantu memang nya? "sambung Rai yang beberapa kali meminta Dira menggunakan pembantu karena merasa kasihan dengan istrinya yang kadang kerepotan mengurus rumah dan Rayyan.
" Enggak, aku enggak suka pakai pembantu, aku enggak suka ada orang asing di rumah kita, lagi pula aku masih bisa kok urus semua nya sendiri," jelas Dira.
" Ehmmm.. apa kamu takut pembantu itu tergoda sama ketampanan ku? " goda Rai dengan senyum jahilnya.
" Iiiiss.. apaan sih." Dira mencubit gemas pinggang Rai yang membuat Rai meringis kesakitan.
" Sayang, aku boleh minta tolong lagi enggak? " sambung Dira.
Rai mengerutkan kening nya" Minta tolong apa? "
" Oh, bisalah kalau cuma nyuci, kalau masak aku enggak bisa, nanti aku pesanin makanan online aja ya,"
" Makasih sayang," Dira tersenyum sumringah mendengar ucapan Rai.
" Yasudah kamu, istirahat aja, hari ini biar aku yang gantikan tugasmu." Rai merebahkan tubuh Dira di kasur dan menyelimuti nya.
Di lirik nya Rayyan yang sudah turun dari kasur dan hendak keluar kamar.
" Mau kemana? mandi dulu ya ganteng." Rai menanngkap tubuh mungil putra nya dan segera memandikan nya.
Tak lama Rai memakaikan putra nya baju " Ganteng nya, memang tampang Playboy kamu seperti papa." ucapnya konyol sambil menyisir rambut putranya yang tampak bergumam dengan bahasa bayinya.
" Yaudah, sini ikut papa, kita mencuci, ok. "
Rai membawa putranya ke tempat pencucian" kamu main ya, papa nyuci dulu," ucap nya seraya memberikan mainan pada balita mungil nya.
__ADS_1
Rai segera mengambil cucian kotor, memasukkan nya ke mesin cuci dan memulai aktivitas mencuci nya, sesaat Rai tampak sibuk dengan cuciian nya, sampai dia melirik putra nya yang sudah tidak ada di tempat.
" Kemana Rayyan? "
Rai bergegas mencari Rayyan yang tampak sedang mencabuti bunga bunga cantik di halaman belakang rumahnya.
" Ya ampun..!! " Rai setengah berlari dan menangkap putranya.
" Ya ampun ganteng kenapa di rusak bunga nya, bisa marah nih mama kamu," ucap nya panik mengingat bunga bunga itu Dira yang menanam nya dan dia sangat menyukai nya.
" Mati deh gue." geram Rai yang tampak gemas pada Rayyan dan segera menggendong nya kembali ke dalam.
" Diam di sini, jangan ke mana mana, mengerti? " Rai memberikan beberapa cemilan yang di respon tawa gemas dari Rayyan dan langsung memakan cemilan nya, Rai kembali melanjutkan mencuci nya.
" Selesai juga." ucapnya setelah selesai mencuci, Rai segera membawa cucian nya ke halaman belakang untuk di jemur, di ikuti langkah kaki mungil putra nya.
" Aduh lupa bawa jemuran nya lagi." Rai bergegas ke dalam mengambil jemuran stenlees.
" Di mana sih jemuran nya? " Rai tampak bingung dan mencari ke seluruh ruangan sampai dia akhirnya menemukan nya.
Setelah cukup lama mencari Rai ke halaman belakang, Rai terbelalak kaget melihat semua cucian berantakan, tampak Rayyan yang sedang menyeret nyeret beberapa baju dan di letakakan di genangan lumpur.
" RAYYAN....!! " geram Rai dengan kepala yang sudah mengeluarkan asap.
Rai segera menghampiri Rayyan yang kembali memamerkan tawa mengemaskan nya membuat Rai tak tega memarahi dan menjitak kepala balita mengemaskan tersebut.
" Kamu mau buat papa mati berdiri ya? iya? " tanya Rai pada balita tersebut yang di respon gumaman tak jelas dari bibir nya.
Rai kembali memunguti baju baju yang berserakan dan tampak kotor, dan kembali mencuci nya.
Haduh, enggak sanggup gue jadi bapak rumah tangga, enggak sanggup. batin nya nelangsa.
Guys.. aku bakal rajin up.. tapi kalian juga ranjin vote dong buat novel ini. 😀😀😂*
__ADS_1