
Malam harinya, Nanda, Kemal dan Arya datang ke rumah sakit untuk menjenguk Rayyan bersama istri mereka masing masing.
"Aiananya mana om?" Rayyan menedengkan tangan mungilnya meminta mainan pada teman teman papanya itu.
Mereka semua hanya terdiam, karena tidak membawa mainan dan hanya membawa makanan untuk balita tersebut.
"Sayang, nanti mainannya nyusul ya kalau kamu sudah sembuh." ucap Shanum.
"Iya sayang." timpal Sabrina dan Chika bersamaan.
Rayyan tampak cemberut. Dira mengusap lembut kepala putranya itu.
"Shanum bayi kamu mana?" tanya Dira yang tidak melihat Shanum membawa bayinya.
"Sama adik kak Kemal kak, kebetulan baru pulang pengen sama ponakannya terus katanya." sahut Shanum sambil tersenyum.
"Oh begitu." balas Dira.
Mereka pun tampak mengobrol ringan. Sampai Chika yang sedang menikmati cemilan merasakan perutnya tiba-tiba sakit.
"Aduh kok tiba-tiba sakit." batin Chika.
"Sayang, aku ke toilet dulu." bisik Chika pada Arya dan Arya mengangguk pelan.
Chika beranjak dari duduknya seraya memegangi perutnya yang sudah membesar dan sudah bulannya untuk melahirkan. Baru beberapa langkah Chika berjalan rasa sakit di perutnya semakin tak tertahan.
"Sakit.." rintihnya yang berhenti berjalan, memegangi perutnya dengan sedikit membungkuk.
"Sayang kamu kenapa?" Arya bergegas menghampiri Chika begitu melihat tingkah aneh istrinya itu.
"Sakit, perut ku sakit." ucapnya pelan.
"Chika kamu enggak apa-apa?" Dira, Shanum dan Sabrina bergegas menghampiri Chika.
"Sakit sekali perut ku." rintihnya kembali.
"Sepertinya Chika mau melahirkan," sahut Dira.
"Apa melahirkan?" Arya terlihat panik.
"Yaudah cepat bawa Chika ke ruang bersalin." sahut Rai dan mereka semua pun bergegas membawa Chika ke ruang bersalin di rumah sakit tersebut.
Tak lama dokter pun segera menangani Chika dan Arya di sisi Chika menemani dan memberi kekuatan pada istrinya itu dalam menjalani proses melahirkan, sedangkan teman temannya menunggu di luar.
Sampai pembukaan terakhir Chika mengerahkan seluruh tenaganys sesuai dengan arahan sang dokter. Sampai tak lama terdengar suara tangisan bayi memenuhi ruangan tersebut membuat mereka semua tersenyum.
"Selamat ya pak, bayinya laki laki." ucap dokter wanita tersebut dengan senyum ramahnya.
Dokter itu pun meletakkan bayi mungil tersebut di dada Chika dan Arya menciumi bayi dan istrinya penuh haru.
"Sayang, dia tampan." Chika terus memandangi bayi pertamanya itu.
"Iya dia tampan."
__ADS_1
"Sayang, siapa namanya?" tanya Chika.
"Namanya, Elang Ziandra." sahut Arya sambil tersenyum.
"Elang?"
"Iya, kamu suka?"
"Iya,aku suka." ucap Chika seraya membalas senyum suaminya itu.
Tak lama dokter mengambil bayi tersebut untuk di bersihkan. Dan teman-teman Arya masuk ke dalam ruangan untuk melihat keadaan Chika.
"Bayi loe cewek apa cowok?" tanya Rai pada Arya.
"Cowok."
"Wah..Rayyan punya saingan nih." sahut Rai.
"Anak loe enggak akan ada yang nandingin Rai, nakalnya tetao juara." cletuk Nanda.
"Iya, gue juga kalo liat anak loe doa terus sih semoga anak gue enggak kaya gitu." timpal Arya.
"Sialan loe." gerutu Rai dan mereka semua pun tertawa, sampai tak lama orang tua Arya dan Chika datang dan dokter menyerahkan bayi mungil itu kembali pada Chika untuk di beri asi. Tampak mereka semua menggoda bayi mungil itu.
Sampai tiba-tiba Sabrina merasakan perutnya seperti melilit.
"Aduh kok sakit." batin Sabrina.
"Kak, aku ke toilet dulu ya." bisik Sabrina dan Nanda hanya mengangguk pelan.
"Astagfirullah, kenapa sakit sekali." rintihnya.
Sampai keluar air yang membasahi paha dan kakinya.
"Ya allah, air apa ini? apa air ketuban? apa aku mau melahirkan?" ucapnya bingung yang akhirnya duduk terkulai di dalam toilet sambil terus memegangi perutnya yang semakin terasa sakit.
Ya allah, sakit sekali, sebaiknya aku telepon kak Nanda." Sabrina segera mengambil handphonenya di dalam tas dan menghubungi Nanda.
Nanda yang masih berada di ruangan Arya pun segera mengambil handphone di saku celananya yang berdering.
"Bidadari surga gue kok telepon? tumben di toilet telepon? ada apa gerangan ya?" batin Nanda yang langsung mengangkat teleponnya.
"Halo sayang,"
"Halo kak, perut aku sakit sekali kak, aku enggak bisa bangun, sepertinya aku mau melahirkan, tolong aku." rintih Sabrina di balik telepon.
"Apa melahirkan?" Nanda kaget bukan kepalang dengan nada panik yang membuat mereka yang ada di ruangan itu menoleh ke arahnya.
"Iya kak, cepat ke sini, aku sudah enggak tahan." seru Sabrina.
"Yaudah aku ke sana." Nanda langsung menutup teleponnya.
"Sabrina mau melahirkan?" tanya Kemal.
__ADS_1
"Iya, sekarang masih di toilet, enggak bisa bangun katanya, gue mau langsung bawa ke ruang bersalin." ucap Nanda panik yang langsung bergegas ke toilet di susul teman temannya yang kemudian memapah Sabrina yang sudah terlihat lemah ke ruang bersalin.
Dokter pun segera menanganinya. Nands yang berada di samping Sabrina sangat tak tega melihat istrinya itu seperti sangat kesakitan. Sampai pembukaan terakhir Sabrina pun mengikuti arahan dokter untuk mengatur nafas dan megejan dengan benar. Sampai tak lama suara tangisan bayi memenuhi ruangan tersebut, membuat mereka semua tersenyum lega.
"Selamat ya, bayi kalian laki laki." ucap dokter wanita yang menangani Sabrina.
Dokter itu pun meletakkan bayi mungil tersebut di dada Sabrina, Nanda dan Sabrina pun menciumi bayi mereka dengan rasa syukur.
"Kak, dia tampan sekali.. kakak mau memberi namanya siapa?" Sabrina menatap lekat bayi mungilnya itu.
"Iya dia tampan sekali, aku akan memberinya nama Devan Sailendra."
"Devan?"
"Iya, kamu suka enggak?"
" Suka, namanya bagus." Sabrina tersenyum.
Tak lama dokter pun membawa bayi itu untuk di bersihkan dan teman teman Nanda masuk untuk melihat keadaan Sabrina.
"Bayi loe cewek apa cowok?" tanya Kemal.
"Cowok."
"Cowok lagi?" ucap Rai yang tampak terkejut.
"Aduh bahaya nih." sahut Kemal.
"Bahaya apanya?" Nanda mengerutkan keningnya.
"Anak gue aja yang cewek, meski gue jaga yang bener nih yang ada nanti di sengat sama anak loe semua." keluh Kemal.
"Loe kira anak gue lebah maen sengat aja." gerutu Arya.
"Iya, sok OK loe." timpal Rai.
"Loe liat aja anak gue nanti paling cantik, Shanum aja cantik, ya kan sayang?" sambil merangkul Shanum yang hanya tersenyum simpul.
Tak lama perawat membawa kembali bayi Nanda dan Nanda segera mengadzani nya.
"Anak gue paling ganteng." puji Nanda yang menggendong bayinya. Mereka semua pun tampak antusias melihat wajah bayi mungil tersebut.
"Kalau udah gede sih pasti ganteng anak gue." sahut Arya tak mau kalah.
"Loe semua pada rabun, anak gue yang udah jelas keliatan gantengnya." ucap sengit Rai.
Sampai handphone Arya berbunyi dan Chika menyuruhnya untuk kembali ke ruangannya.
"Loe, istri baru lahiran udah di tinggal." ledek Rai.
"Eh loe lupa, anak sama istri loe juga di tinggalin." cletuk Arya.
"Astaga, gue lupa." Rai menepuk jidat yang melupakan anak dan istrinya karena sibuk membantu teman teman istrinya yang melahirkan.
__ADS_1
Rai dan Arya pun bergegas keluar dari ruangan Nanda dengan tergesa gesa di respon tawa dari Kemal dan Nanda. Mereka semua pun bahagia dengan kehadiran buah hati mereka masing masing.
Hay guys pembaca setia MGC.. sampai di sini dulu yak ektra part nya..Terima kasih semuanya ❤️❤️❤️🤗🤗🤗