
Beberapa bulan kemudian.
Dira membuka matanya terlihat samar sinar matahari yang masuk melalui celah celah ventilasi kamarnya. Di liriknya jam dinding di sudut kamar yang sudah menunjukkan pukul 07.00 pagi.
"Ya ampun, aku kesiangan." ucapnya panik.
"Sayang, bangun sudah jam 7 nanti kamu kesiangan ke kantor." Dira menepuk pelan tubuh Rai yang masih berkelana dalam mimpinya.
"Heeemmm," Rai mengeliat tapi masih enggan membuka matanya.
Dira beranjak dari ranjang dan menghampiri bok bayi anaknya tampak ke dua anaknya masih terletap tidur.
"Ya ampun anak mama masih bobo," ucapnya seraya membetulkan posisi tidur Rayyan. Tapi Dira tampak kaget saat memegang tubuh Rayyan yang sangat panas suhunya.
"Kenapa Rayyan panas sekali?" sambil memegang kembali beberapa bagian tubuh putranya itu.
"Sayang bangun, badan Rayyan panas banget." ucap panik Dira yang langsung mengendong Rayyan seraya menghampiri Rai yang masih berbaring di ranjang.
"Panas?" Rai langsung membuka matanya dan memegang tubuh Rayyan yang memang sangat panas suhu tubuhnya.
"Iya, panas sekali." ucap Rai yang juga panik.
"Kita bawa ke rumah sakit saja." Dira melihat Rayyan yang tampak tak berdaya di gendongannya.
"Ya sudah, kita ke rumah sakit, titip Rayka sama bibi aja, kasian kalau ikut ke rumah sakit." sahut Rai yang langsung beranjak dari tempat tidur dan mandi.
Tak lama Rai dan Dira pun bergegas membawa Rayyan ke sebuah rumah sakit. Dokter pun langsung memeriksan keadaan Rayyan.
"Bagaimana keadaan anak saya dok?" tanya Dira pada dokter wanita tersebut.
"Panasnya sangat tinggi, kita bawa ke ruang rawat inap saja ya bu," jawab dokter tersebut.
Dokter pun bergegas membawa Rayyan ke ruang rawat inap untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut dan memasang infus di punggung tangan Rayyan. Tampak Rayyan yang meronta dan menangis.
"Atit.. nda au.. " rintihnya sambil menangis.
"Tenang ya sayang, habis ini enggak sakit lagi." ucap Dira dengan raut wajah yang sedih.
"Anak pintar, jangan nangis ya, "ucap ramah dokter tersebut sambil tersenyum.
"Iya anak papa pintar, enggak boleh nangis." ucap Rai yang merasa tak tega saat melihat jarum infus menembus tangan mungil Rayyan.
__ADS_1
Tapi Rayyan tetap saja menangis sejadi jadinya membuat mereka semua tampak kerepotan. Sampai tak lama tangis Rayyan mereda dan dokter memberinya obat lalu meninggalkan ruangan VIP tersebut.
"Sayang kamu sudah telepon mama?" tanya Dira.
"Sudah, sebentar lagi mereka ke sini."
"Sayang, aku titip Rayyan bentar ya. Rayyan sepertinya harus menginap, aku mau ambil pakaian ganti dulu."
"Oh yaudah," Rai mengangguk dan Dira bergegas meninggalkan ruangan tersebut.
Rai duduk di samping ranjang putranya yang tengah tertidur, mengusap lembut rambut balita tersebut. Rasanya tak tega melihat Rayyan yang biasanya selalu aktif kini terbaring di ranjang.
Beberapa saat kemudian Rayyan membuka matanya.
"Papap," memanggil sang papa.
"Iya sayang," Rai kembali mengusap lembut rambut Rayyan.
"Mana ana?" bola matanya mencari cari keberadaan Dira.
"Mama pulang dulu, ambil baju ganti kamu." jelas Rai.
"Makan dulu ya, biar cepet sembuh." Rai mengambil bubur yang di sediakan rumah sakit di meja.
"Kalau enggak makan nanti di suntik terus, mau?" bujuk Rai.
"Nda au.. " teriak Rayyan yang langsung menangis.
"Aduh, malah nangis." Rai tampak bingung.
"Yaudah, yaudah kamu mau makan apa?" bujuk Rai kembali.
"Ice cream." pinta Rayyan dan tangisnya mereda.
Rai mengeleng "Yang lain, kalau sakit enggak boleh makan itu." jelas Rai.
"Au..itja.." pinta Rayyan kembali."
"Pizza? ok papa pesenin." Rai mengambil handphonenya untuk memesan pizza.
"Yang anyak ejunya." ucap balita tersebut.
__ADS_1
"Heeemmm," sahut Rai yang fokus menatap layar handphonenya.
"Papap, au mobil emot." pinta Rayyan kembali.
"Lagi sakit masih aja minta mainan." batin Rai seraya menggelengkan kepalanya.
"Iya nanti papa belikan." sahut Rai yang masih menatap layar handphonenya.
"Yang arna elah papap." ucap Rayyan kembali.
"Warna merah sudah ada lima di rumah."
"arna itam aja.
"Warna hitam sudah ada dua di rumah."
"arna iru aja.. yang besar papap." pinta Rayyan kembali.
"Heeemmm," sahut Rai yang tetap fokus pada handphonenya.
"Yang besar papap!! " teriak Rayyan yang membuat gendang teliga Rai hampir pecah.
"Iya, iya nanti papa belikan yang paling besar, kamu bisa memainkannya di jalan raya nanti, tapi harus makan dan minum obat dulu, mengerti?" ucap gemas Rai.
Rayyan pun mengangguk. Tak lama handphone Rai berbunyi tertera nama Nanda di handphonenya.
"Halo, kenapa?" Rai menjawab teleponnya.
"Loe kontrol cafe enggak nanti malam?" tanya Nanda di balik telepon.
"Enggak, gue lagi di rumah sakit, Rayyan di rawat."
"Hah? Rayyan di rawat? bisa sakit juga tuh anak?" sahut Nanda tak percaya.
"Loe kira anak gue anak jin enggak bisa sakit." ucap gemas Rai.
Nanda tertawa.
"Yaudah nanti gue jenguk deh, sekalian nanti habis pulang kantor Sabrina mau kontrol kandungannya." balas Nanda mengingat kandungan sang istri sudah membesar.
"Oh yaudah." Rai menutup teleponnya dan kembali menunggui sang putra yang kembali tertidur seletah berceloteh dengannya.
__ADS_1
Guys.. aku akan tulis satu episode lagi ya sebagai inti akhir cerita. dan untuk S3, mungkin aku akan membuatnya tapi belum tau kapan, alurnya masih terbayang sedikit di otak aku😂😂 dan yang jelas enggak akan di satukan di novel ini yak. di tunggu aja yak pemberitahuan nya.. . ok. jangan lupa votenya ❤️❤️❤️❤️