Menikahi Gadis Culun

Menikahi Gadis Culun
S2 Rindu kamu Dira


__ADS_3

Keesokan harinya Nanda dan Sabrina pun datang ke rumah sakit untuk menjenguk Rai.


"Dir," ucap Nanda saat melihat Dira baru ke luar dari ruang ICU.


Dira pun menoleh "Nanda? Sabrina?"


"Gue mau lihat Rai." ucap Nanda.


Dira pun tersenyum" Yaudah aku ke toilet dulu ya, maaf ya kemarin enggak bisa datang."


"Enggak apa-apa santai aja."


Dira pun bergegas ke toilet lalu  Nanda dan Sabrina masuk ke ruangan ICU tersebut. Langkah kaki Nanda perlahan menghampiri Rai yang tetap masih berbaring lemah.


"Belum bangun juga loe? katanya mau datang ke acara tunangan gue, bohong aja." ucapnya yang berusaha tersenyum.


"Kak Nanda." panggil Sabrina yang melihat Nanda sudah tak dapat menyembunyikan kesedihannya tampak matanya yang perlahan mulai memerah.


"Loe ingat Rai kenakalan apa aja yang dulu kita lakuin? bahkan loe juga pernah hampir mati waktu kita berkelahi sama genk motor, tapi enggak lama loe sehat lagi, sekarang udah hampir seminggu loe masih gini aja Rai? loe bener bener payah." umpat Nanda yang berharap ocehannya bisa segera di respon Rai seperti biasa.


Tapi Rai tetap memejamkan matanya seakan enggan untuk melihat teman temannya.


"Loe bilang loe cinta banget sama Dira, sekarang loe buat Dira sedih, mau loe Dira ninggalin loe lagi kaya dulu? mau?" Nanda berusaha meninggikan suaranya tapi Rai tak sedikit pun merespon.


"Sabar kak." Sabrina mencoba mengusap punggung Nanda yang semakin terlihat sedih.


***

__ADS_1


Di dalam toilet Dira terus memandangi wajahnya di cermin, wajah yang terlihat lelah dengan mata yang tampak sembab.


"Aku berusaha selalu tersenyum untuk mu Rai, tapi aku sudah tidak kuat, aku lelah harus berpura pura tegar." lirih Dira.


"Aku rindu kamu Rai, rindu kamu." ucap Dira yang semakin menangis terisak.


Sampai ada langkah kaki yang perlahan mendekatinya.


"Mbak Dira."


Dira bergegas menghapus air matanya dan langsung menoleh tampak Shanum yang sudah berdiri di belakangnya.


"Shanum? " ucapnya cukup terkejut.


"Maafkan aku, ini semua salahku." Shanum menundukkan kepalanya dengan air mata yang membasahi pipinya.


"Shanum kamu ini bicara apa? " Dira tampak bingung.


Dira pun langsung memeluknya.


"Ini bukan salah mu, aku tidak pernah menyalahkan siapapun, berhentilah menyalahkan diri mu sendiri." ucap Dira sambil memeluk Shanum yang masih menangis setelah menenangkan Shanum Dira pun bergegas untuk kembali ke ruang ICU.


Shanum memandangi dirinya pads cermin di hadapannya.


Mbak Dira dan Pak Rainan sangat baik, aku tidak pantas berkerja dengan mereka. gumamnya lirih.


Dira bergegas kembali ke Ruang ICU di lihatnya Nanda dan Sabrina yang baru keluar dari ruangan tersebut.

__ADS_1


"Dir, loe udah makan belum?" tanya Nanda saat Dira menghampirinya.


"Lagi enggak pengen makan." sahut Dira datar.


"Nanti loe sakit, Sabrina bawa makanan tuh, kita makan di sana aja yuk." Nanda menunjuk kursi kosong tak jauh dari ruangan tersebut.


"Iya kak Dira harus makan, nanti sakit." bujuk Sabrina.


Dira pun akhirnya mengangguk dan makan bersama Nanda dan Sabrina siang itu.


"Oia, Rayyan mana?" tanya Nanda sambil mengunyah makanannya.


"Sama mama."


"Oh, terus ortu Rai udah kesini? " sambung Nanda.


"Nanti malam ke sini gantian jaga."


"Aku kangen deh sama Rayyan." ucap Sabrina sambil membayangkan wajah lucu Rayyan.


"Lucu emang si Rayyan tapi ya gitu tingkahnya sama banget sama si Rai, ngeselin." cletuk Nanda.


"Masa sih? " Sabrina tak percaya.


"Iya, tapi si Rai sabar juga ngadepin anaknya sih, ya kan Dir?" ucap Nanda yang melihat Dira sedang melamun.


"Oh, iya." sahutnya yang berusaha tersenyum.

__ADS_1


Di dalam ruang ICU tubuh Rai masih terbaring lemah, tetapi jari jari tangannya perlahan mulai bergerak walau matanya masih terpejam.


"Dira." ucap Rai pelan.


__ADS_2