
Tok Tok Tok.
Pagi itu terdengar suara ketukan pintu dari kamar yang di tempati Kemal berulang kali.
"Kak Kemal bangun, sarapan dulu." ucap Shanum membangunkan.
Kemal perlahan membuka matanya, dan beranjak dari kasur lalu membuka pintu.
"Kyaaaaaahhhh." pekik Shanum seraya menutup mata dengan tangan karena melihat Kemal bertelanjang dada dan memperlihatkan tubuh sixpacknya membuat gadis itu tampak malu dengan wajah memerah bak kepiting rebus.
Kemal pun tersentak dan terdiam sesaat tampak bingung kenapa gadis itu kaget melihatnya dengan wajah yang memerah. Kemal melihat tubuhnya sendiri yang ternyata tidak memakai baju.
"Sory, sory, bentar ya aku pakai baju dulu." Kemal segera menutup pintu dan memakai kausnya kembali.
Tak lama Kemal kembali membuka pintu tampak Shanum yang masih berdiri dengan wajah yang sedikit memerah.
"Sory ya, semalem panas jadi aku lepas baju." jelas Kemal.
Gadis itu pun tersadar kalau rumahnya mungkin terlalu sempit dan pengap menjadikan hawa panas di rumahnya yang pastilah berbeda dengan rumah Kemal yang tentunya bagus dan besar.
"Iya maaf ya kak, rumahnya kecil jadi pengap." ucapnya malu.
"Enggak apa-apa kok, santai aja." jawab Kemal seraya tersenyum.
"Oia sarapan dulu yuk, aku sudah siapkan."
"Yaudah bentar aku mandi dulu ya."
Kemal pun bergegas mandi, selesai mandi dia menghampiri Shanum yang sedang menyiapkan sarapan untuk adik adiknya.
"Sudah selesai mandinya? ayo sarapan dulu kak." ajak Shanum yang melihat Kemal hanya berdiri memandangnya.
Kemal pun mengangguk dan duduk di kursi makan bersama Shanum dan adik adiknya yang masih kecil, tampak lauk sederhana untuk menu sarapan mereka pagi itu.
"Di makan kak, maaf ya makannya cuma ada ini." ucap Shanum yang merasa tidak enak.
"Enggak apa-apa, aku suka semua makanan kok." jawabnya santai.
Mereka pun menyantap sarapan bersama pagi itu.
"Oia ibu kamu mana?" tanya Kemal yang tidak melihat ibu Shanum pagi itu.
"Oh, ibu sudah pergi ke kebun."
Kemal pun mengangguk, selesai makan Kemal berjalan keluar rumah, tampak suasana yang asri dan udara yang menyejukan yang jarang dia temui di kota.
"Seger banget ya." ucapnya seraya mengangkat kedua tangannya dan melakukan gerakan olahraga kecil.
Tak lama Shanum keluar rumah dengan membawa ember yang berisi banyak pakaian.
"Shanum kamu mau kemana?" tanya Kemal yang langsung menghampiri gadis itu.
"Oh, aku mau cuci pakaian di sungai."
Kemal mengerutkan keningnya" Kenapa harus di sungai? memangnya kenapa tidak di kamar mandi saja?" tanyanya bingung.
"Orang orang di sini biasa mencuci pakaian di sungai kak." jelas Shanum sambil tersenyum.
__ADS_1
"Oh Yaudah, aku ikut ya." pinta Kemal.
"Enggak usah kak, kakak tunggu di sini saja."
"Aku bosan, aku ikut ya." desak Kemal dan Shanum pun akhirnya mengangguk.
Mereka berjalan beriringan menapaki jalan desa menuju sebuah sungai yang tampak airnya mengalir jernih. Shanum pun mulai mencuci sedangkan Kemal duduk di sampingnya sambil menikmati pemandangan sekitar.
"Shanum, papa kamu mana?" tanya Kemal yang sejak awal datang tidak melihat sosok ayah Shanum.
Gadis itu terdiam sejenak "Ayah sudah meninggal sewaktu aku SMP. " jawabnya lirih.
"Maaf ya." sesal Kemal yang merasa melontarkan pertanyaan yang salah.
"Enggak apa-apa kok." sahut Shanum sambil tersenyum.
"Oia kalau di kampung gini kamu ngapain aja? " sambung Kemal.
" Ngapain ya, ya kadang ikut ibu berkebun, kadang jual kue, ngapain aja kak yang bisa menghasilkan uang pasti di kerjakan supaya bisa makan, apa lagi semenjak ayah meninggal ibu harus kerja keras aku juga anak pertama ya sebisa mungkin harus bisa bantu ibu cari uang." ucap Shanum yang sedikit bercerita tentang hidupnya.
Kemal pun tertenggun mendengar ucapan gadis di hadapannya, dia tidak menyangka gadis semuda dan secantik Shanum ternyata memiliki kehidupan yang cukup memillukan. Kemal sedikit di buat kagum dengan gadis di hadapannya tersebut sangat berbeda dengan gadis gadis yang sering dia temui di kota.
"Hebat ya kamu, selain cantik kamu juga punya pribadi yang baik." pujinya yang membuat gadis itu sedikit tersipu malu di buatnya.
"Shanum, kenapa tidak berkerja lagi saja di rumah Dira? gaji di sana lumayan besar kan, itu bisa sangat membantu kan?"
Shanum menggeleng.
"Pak Rainan sama mbak Dira terlalu baik, aku enggak enak."
"Harusnya kamu bersyukur bisa berkerja di rumah orang baik, di luar sana banyak orang yang di siksa sama majikannya, kamu mau seperti itu? "
Gadis itu pun kembali menggeleng.
"Kalau begitu kembali berkerja ya, katanya mau bantu ibu kalau di sini terus gimana bisa bantu ibu cari uang." bujuk Kemal berharap gadis itu menuruti katanya.
Shanum pun terdiam dan tampak memikirkan ucapan Kemal. Tak lama Shanum selesai mencuci.
"Kak Kemal masih mau di sini?" tanya Shanum yang melihat Kemal masih asik duduk di batu besar dan menikmati pemandangan di sekitarnya.
"Iya bentar lagi ya." sahutnya yang enggan beranjak dari pemandangan indah tersebut.
"Yaudah aku taruh cucian dulu ya." Kemal menganngguk dan Shanum pun berjalan menjauh.
"Shanum." panggil seorang pria saat Shanum sedang berjalan.
Gadis itu menoleh tampak tiga pria menghampirinya.
"Shanum habis nyuci ya, habis ini jalan yuk sama aku." goda pria muda dengan senyum nakalnya.
"Enggak mau." ketus Shanum yang mempercepat langkahnya tapi pria itu menahan lengannya.
"Sombong banget sih, nanti aku jajanin deh." rayunya kembali.
"Apaan sih, lepasin! " Shanum mencoba melepaskan tangannya yang di pegang pria itu semakin erat.
"Eh, lepasin dia." ucap Kemal yang bergegas melepaskan tangan pria itu dari Shanum.
__ADS_1
Ke tiga pria itu tampak memperhatikan wajah Kemal yang baru di lihatnya.
"Siapa loe? " ucap salah seorang pria dengan nada jengkel.
"Ayo kita pulang." Kemal memegang lengan Shanum berjalan meninggalkan mereka.
BUUUKKKHH.
salah satu dari mereka pun memukul Kemal sampai Kemal terjatuh.
"Kak Kemal!" pekik Shanum.
"Loe kayaknya orang kota ya? orang kota aja belagu loe." ucap pria yang memperhatikan penampilan Kemal dan memberi isyarat pada teman temannya untuk menghajar Kemal, perkelahian pun tak terhindarkan.
Shanum pun berlari meminta bantuan untuk warga untuk melerai mereka, Sampai warga berhasil melerai perkelahian itu.
"Kak, kemal enggak apa-apa?" tanya Shanum panik yang melihat sedikit lebam di wajah Kemal.
"Enggak apa-apa kok."
"Yaudah kita pulang, aku obati." mereka kembali ke rumah.
Shanum bergegas mengobati luka di wajah Kemal di teras depan rumah.
"Maaf ya kakak jadi gini." sesal Shanum.
"Mereka itu preman kampung ya?"
Shanum mengangguk.
Kemal pun tertawa " Lalu sepertinya kamu bunga desa ya?" goda Kemal.
"Enggak kok, mereka memang hoby goda gadis gadis muda."
"Tapi aku rasa kamu memang bunga desa, aku belum melihat gadis di desa ini yang lebih cantik dari kamu." puji Kemal yang membuat gadis itu tersipu malu.
Sampai handphone Kemal tiba-tiba berbunyi.
Tumben ni handphone bunyi? dari semalam enggak ada sinyal? batinnya bingung.
"Bentar ya aku angkat telepon sebentar." ucap Kemal yang agak menjauh dari Shanum.
"Halo, Kemal kamu ambil cuti dadakan? " terdengar suara Tania dari balik telepon.
"Oh iya," sahut Kemal datar.
"Kok tumben enggak bilang aku? minggu ini kita jadi jalan kan?" tanya Tania bingung.
"Aku lagi ada di luar kota sekarang, nanti aku hubungin lagi, ok." Kemal bergegas menutup teleponnya.
Dan kembali menghampiri Shanum yang masih duduk di teras.
"Telepon dari siapa kak?" tanya gadis itu.
"Bukan dari siapa siapa kok." sahut Kemal yang berusaha tersenyum.
Guys.. jangan lupa sisihin poin kalian yak untuk vote novel ini.. ok ❤️❤️
__ADS_1