
Keesokan harinya Arya telah siap melakukan sidang pertamanya, pagi itu sudah ada Mama Arya, ketiga temannya dan Chika yang setia mendampinginya. Arya sedikit gugup walaupun dia tau dia tidak bersalah bagaimana jika semua tidak sesuai dengan rencananya, catatan kriminal tentu akan mencoreng nama baiknya dan perkerjaannya.
Sampai sidang itu di gelar, Arya menjawab dan memberikan keterangan dengan sejujur jujurnya. Akhirnya dalam putusannya hakim membebaskan Arya dari jeratan pasal 112 tentang UU narkotika.
Putusan hakim ini juga di dasari atas keyakinan hakim bahwa terdakwa tidak bersalah karena terdakwa tidak mempunyai pengetahuan tentang asal muasal obat terlarang tersebut bisa ada di kantong jaket dan dalam mobilnya. keputusan hakim semakin kuat karena hasil tes urine yang di lakukan langsung pada malam penangkapan terbukti negatif.
Arya tersenyum lega mendengar itu semua begitu pula dengan orang orang yang menemaninya di pengadilan. Selesai sidang Arya menghampiri mamanya yang langsung memeluknya dengan penuh haru.
"Arya." Chika memeluk Arya dengan perasaan bahagia.
"Syukurlah kamu bisa bebas, kita harus laporkan Ricko Ar," sambung Chika sambil menangis.
Arya melepaskan pelukannya dan menghapus air mata gadis itu dengan jarinya.
"Tidak usah, polisi sudah mendengar keterangan ku, mereka pasti akan bergerak sendiri, kita cukup menunggu saja, ada yang lebih penting dari itu." ucap Arya.
Chika mengerutkan keningnya "Lebih penting? apa?"
"Aku mencintaimu, aku ingin menikah denganmu." bisik Arya di telinga Chika.
Mata gadis itu membulat dia sangat terkejut mendengar ucapan pria di hadapannya.
"Kamu mencintai ku?" tanyanya tidak percaya.
Arya mengangguk. "Sangat mencintaimu."
"Sejak kapan?" tanya Chika yang selama ini tidak pernah mengira Arya mencintainya.
"Entahlah, aku tidak tau kapan pastinya, mungkin sejak awal kita bertemu." jawabnya sambil tersenyum.
"Awal bertemu aku masih umur 5 tahun." sahut Chika sedikit tertawa dan menangis bersamaan.
__ADS_1
"Iya, aku mencintainya sejak kita berumur 5 tahun." Arya kembali menghapus air mata gadis itu.
"Dasar bodoh, kenapa baru bilang sekarang." sahut Chika dengan wajah yang merona.
"Kamu mencintai ku?" tanya Arya kembali.
Chika mengangguk.
"Mau menikah dengan ku?"
Chika kembali mengangguk dan Arya memeluknya. Tak lama Arya melepaskan pelukannya dan menghampiri mamanya yang dari tadi memperhatikan mereka dengan senyum di bibirnya.
"Mah, mama setuju Arya menikah dengan tetangga kita?" tanya Arya.
"Mama setuju, apa pun yang membuat kamu bahagia, Chika juga anak yang baik, mama menyukainya." sahut sang mama dan Arya langsung memeluknya.
"Tante, kalau tetangga gitu pesta pernikahannya di rumah aja tan, kan irit bensin jadinya." cibir Nanda sambil tertawa.
"Loe ada ada aja, pernikahan gue tetap di adain di hotel lah, iya kan sayang?" tanya Arya sambil merangkul Chika.
"Seharusnya tadi loe jangan bebas dulu biar pernikahannya di bali jeruji besi, kan lebih dramatis tuh." usul Kemal.
"Iya bener tuh." sahut Rai antusias.
"Kalau bukan temen udah gue selepet loe." dengus Arya kesal.
Mereka semua pun tertawa, hari yang cukup melelahkan untuk semuanya tapi berujung kebahagiaan untuk Arya yang sebentar lagi akan menyusul ke tiga teman temannya ke pelaminan.
Selama beberapa minggu Arya dan Chika sibuk mempersiapkan pernikahan yang akan mereka laksanakan sesegera mungkin. Sore itu mereka selesai mendatangi sebuah WO dan Arya mampir ke rumah Chika malam harinya.
"Di minum dulu." Chika memberikan minum pada Arya yang sedang duduk di gazebo halaman belakangnya dan duduk di sebelahnya.
__ADS_1
"Makasih ya."
Mereka terdiam untuk beberapa saat.
"Kamu bahagia akan menikah dengan ku?" tanya Arya memecah kehenigan.
"Sangat bahagia." Chika tersenyum.
"Kamu mencintai ku juga? sejak kapan?" Arya kembali bertanya.
"Belum lama, saat kamu menyelamatkan aku dari Ricko, aku berfikir kamu selalu menyelamatkan ku sejak kecil, kamu ingat dulu aku sangat nakal, papa sangat galak, tapi setiap kita main sama sama aku di marahin papa kamu selalu bilang "jangan marahin Chika, Arya yang salah." ucap Chika sambil tertawa mengenang masa kecil mereka.
"Ya bukankah seharusnya seperti itu? mencintai harus selalu melindungi kan?" sahut Arya yang melihat gadis itu tampak semakin cantik saat sedang tersenyum.
"Iya, maaf ya, aku tidak peka." sesal Chika yang seharusnya bisa lebih menyadari kalau Arya sudah menyukainya sejak dulu.
"Tidak apa apa, yang penting sekarang teman kecil ku, akan menjadi teman hidup ku selamanya."
.
Chika semakin tersanjung atas ucapan Arya dia sedikit malu dan menundukan kepalanya. Arya mengangkat sedikit dagu gadis itu agar menatapnya dan perlahan mendekatkan bibirnya pada Chika yang perlahan memejamkan matanya saat bibir mereka semakin dekat.
"Arya." terdengar suara papa Chika dari dalam rumah yang sepertinya akan menghampiri mereka.
Arya repleks membatalkan niatnya untuk mencium Chika, begitu pula dengan Chika yang tampak malu dan menutup wajahnya yang sudah memerah dengan tangannya.
"Arya, om mau diskusi kan lagi lokasi pernikahan kalian." ucap papa Chika yang perlahan menghampiri mereka.
"Oh iya om, Cik aku ke dalam dulu ya." ucap Arya yang sebenarnya nelangsa karena niat ingin mencium Chika telah kandas.
Chika mengangguk pelan dengan wajah yang masih tampak malu. Dan Arya bergegas mengikuti langkah kaki papa Chika ke dalam rumah.
__ADS_1
Guys.. jangan lupa vote ys, supaya aku semangat up nya.. terima kasih ❤️❤️❤️