
Sore itu setelah selesai kuliah Rayyan bergegas melajukan mobilnya menuju kampus Reska. Tak lama Rayyan sampai dan segera menekan nomor Reska di handphonenya.
"Sayang, ada apa? Reska mengangkat teleponnya seraya merapihkan bukunya.
"Aku ada di depan kampus mu, ayo pulang." titah Rayyan.
"Depan kampus? tapi aku bawa mobil?" keluh Reska.
"Sudahlah pulang bersama ku, aku ingin bertemu orang tua mu." Rayyan mengutarakan maksudnya.
kalau
"Orang tua ku? untuk apa?" Reska mengerutkan keningnya.
"Astaga, apa kamu sudah lupa tentang rencana pernikahan kita? atau berniat menikah dengan yang lain?" gerutu Rayyan.
"Oia, maaf, ya sudah aku kesana." Reska bergegas keluar kelas lalu menuju mobil Rayyan yang sedang terparkir di depan kampus.
"Sayang, ayo berangkat," ucap Reska saat sudah masuk ke dalam mobil Rayyan.
Rayyan tersenyum dan perlahan melajukan mobilnya menuju apartemen Reska.
"Apa papa mu ada?" tanya Rayyan di tengah perjalanan mereka.
"Ada, dia baru beberapa hari yang lalu datang,"
"Baguslah."
"Kamu ingin berbicara pada orang tua ku untuk segera menikah dengan ku?"
"Iya sayang.. memangnya aku harus mengatakan menikah dengan siapa lagi selain kamu?" ucap gemas Rayyan seraya sebelah tangannya membelai rambut Reska.
"Kamu tidak grogi?" tanya Reska kemudian.
"Untuk apa grogi? itu kan memang keinginan ku." jawab Rayyan sambil tersenyum dan mencium tangan Reska.
"Aku cinta kamu,"
"Aku bosan mendengarnya,"
"iiissshh.. menyebalkan." Reska mencubit gemas pinggang Rayyan yang membuat Rayyan meringis kesakitan.
Tak lama Rayyan memberhentikan mobilnya di depan apartemen Reska. Lalu perlahan masuk ke dalam.
"Assalamualaikum," salam Reska saat baru memasuki apartemennya.
"Walaikumsalam sayang," sahut Shanum saat mendengar suara putrinya dan berjalan menghampirinya, namun langkanya terhenti saat melihat Rayyan yang berdiri di samping Reska.
"Rayyan?" gumamya.
"Selamat sore tante," Rayyan tersenyum.
"Ada siapa?" tanya Kemal yang juga perlahan menghampiri mereka.
__ADS_1
"Rayyan?" gumam Kemal yang juga sedikit terkejut melihat Rayyan yang berdiri di samping Reska.
"Selamat sore om," Rayyan kembali menyapa.
"Silakan masuk Rayyan," Kemal mempersilahkan putra sahabatnya itu untuk duduk di ruang keluarga bersama Shanum dan Reska.
Suasana terasa hening untuk sesaat.
"Apa saya menganggu?" tanya Rayyan memecah kehingan di antara mereka.
"Tidak," sahut singkat Kemal.
"Aku ingin meminta ijin untuk menikahi Reska." ucap Rayyan tanpa basa basi yang membuat Shanum tampak terkejut, namun Kemal terlihat santai seakan tau isi fikiran Rayyan.
"Apa kalian mengijinkannya?" tanya kembali Rayyan.
"Coba kamu tanya mamanya, dia yang melahirkan Reska." Kemal melirik Shanum yang yang duduk di sebelahnya.
Rayyan terdiam untuk sesaat dan teringat pada Shanum yang hendak menjodohkan Reska dengan pria lain.
"Apa tante mengijinkan?" Rayyan mencoba kembali tersenyum.
Shanum terdiam.
"Rayyan, pasti kamu tau kalau sejak kecil tante sempat mengasuh mu, tapi tante sempat mementingkan kepentingan tante dan membuat hubungan mu dan Reska berantakan, seharusnya tante tau kalau kamu pria terbaik untuk Reska, tante menyesal.. maafkan tante." sesal Shanum.
Rayyan, Reska, dan Kemal pun tersenyum lega mendengar ucapan Shanum.
"Aku sudah memaafkan tante," Rayyan tersenyum.
Sontak saja Rayyan, Reska dan Shanum pun tercengang mendengar ucapan Kemal.
"Papa kok gitu? aku cinta mati sama Rayyan enggak mau pisah lagi." protes Reska yang langsung memeluk erat lengan Rayyan yang duduk di sampingnya.
Kemal menggelengkan kepalanya."putri ku yang cantik apa kamu sudah terkena pelet cinta si belatung nangka ini?" ucap Kemal yang merasa Reska sudah sangat menempel seperti ulat di lengan Rayyan.
"Belatung nangka?" Rayyan mengerutkan keningnya mendengar ucapan Kemal yang tidak di mengertinya.
"Sudah Rayyan, om perlu bicara empat mata dengan mu." perintah Kemal yang langsung beranjak dari kusinya.
"Sayang, berdoa yang banyak," ucap Reska dengan wajah yang gelisah membayangkan kalau rencana pernikahannya kali ini akan gagal juga.
Rayyan tersenyum dan berjalan mengikuti Kemal yang menuju balkon apartemennya.
"Duduklah," Kemal mempersilahkan Rayyan duduk di sebelahnya.
Mereka terdiam untuk sesaat, hembusan angin malam membuat susahnya kian mencengkram.
"Rayyan, om sudah mengenal mu sejak kecil." Kemal memulai percakapan dengan kata kata bijak.
"Aku tau, om." Rayyan menjawab santai.
"Kamu tau masa kecil mu cukup membuat om mengelus dada,"
__ADS_1
Rayyan mengerutkan keningnya." Memangnya masa kecil aku kenapa om?" Rayyan balik bertanya dengan ekspresi bingung.
Kemal menoleh dengan ekspresi heran."Orang tua mu tidak cerita tentang rekam jejakmu?"
Rayyan menggeleng.
"Oh, berarti mereka benar-benar menjaga nama baik mu," Kemal menepuk pundak Rayyan yang hanya di respon ekspresi binggung dari Rayyan.
"Om, tau sekarang kamu sudah tumbuh menjadi pria yang baik, tapi Reska adalah putri tunggal om." sambung Kemal yang kembali dengan kata kata bijaknya.
"Iya, aku tau om, "
"Jadi kamu benar-benar mencintai Reska?"
"Kalau aku tidak mencintai Reska, aku tidak mungkin bertengkar dengan papa karena Reska."
"Kamu sedang bertengkar dengan Rainan?"
Rayyan mengangguk." Iya karena waktu Reska pergi saya sering ke klub malam dan papa marah besar," sahut polos Reska.
"Oya? kamu benar-benar persis Rainan Wijaya," Kemal kembali menepuk pundak Rayyan.
"Memangnya papa suka ke klub malam juga?" Rayyan berbalik bertanya.
"Dulu sih sering," sahut jujur Kemal.
"Sudah ku duga, wajah papa terlihat seperti badboy, kenapa dia tidak bercermin dan memarahi ku." gerutu Rayyan yang tampak jengkel.
"Sudahlah, dia seperti karena menyayangi mu,"
"Jadi kamu kapan akan menikahi Reska?" sambung Kemal.
"Setelah lulus kuliah, dalam hitungan bulan kuliah ku akan selesai, begitu pula dengan Reska." jelas Rayyan.
Kemal mengangguk setuju. " Setelah lulus apa rencana mu?"
"Mungkin, mengurus perusahaan papa."
"Oh, baguslah awas saja kalau nanti kamu berfikir untuk menikah lagi," ancam Kemal.
"Aku tidak akan melakukan itu,"
"Baguslah, apa kalian tidak berbuat macam macam selama berpacaran?" Kemal semakin menyelidik.
"Belum sempat melakukan apa pun om,"
"Belum sempat?" Kemal menoleh dengan tatapan yang menyeramkan dan Rayyan hanya menunjukkan senyum pepsodentnya.
"Sudahlah, kamu tau hubungan om dengan papa mu sedang tidak baik jadi semua keputusan sebenarnya ada di keluarga mu," sambung Kemal dengan wajah yang terlihat lebih serius.
"Aku tau, aku akan berusaha supaya orang tua ku bisa menerima permintaan ku," sahut Rayyan penuh percaya diri.
"Baguslah." Kemal tersenyum simpul mendengar ucapan Rayyan dan mereka mengakhiri obrolan serius mereka malam itu.
__ADS_1
Jangan lupa votenya yak guys supaya aku semangat up lagi.. ❤️❤️❤️