
Hay..pembaca setia ku, semoga kalian sehat selalu ya..
Seperti biasa aku butuh masukan kalian, setelah novel " Love In Bitter Memories" yang sebentar lg tamat aku akan keluarkan cerita baru, kira kira kalian mau aku tulis cerita tentang Rai dan kawan lg enggak flasback masa SMA, atau mau cerita baru aku?
Belum aku kasih judul sih, kira kira judul yang tepat apa ya? gendre komedi romantis, ini ada 1 bab cuplikan ceritanya.
Novel Baru
“Loe, duduk sana dong.” aku mengusir seorang temanku untuk duduk di bangku belakang.
“Kenapa sih loe, kalau pelajaran matematika pengen duduk di depan terus?” protes si pemilik bangku bernama Ridwan.
“Gue kalau ngeliat angka enggak jelas, udah sana.” usir ku, Ridwan pun dengan ekspresi malasnya beranjak dari bangkunya. Aku tersenyum puas, jelas tak ada yang berani melawan ku. Arjuna Danarjaya putra tunggal dari pengusha yang sedang berjaya. Wajah rupawan, berkantong tebal, dan kulit yang cukup cerah. Membuat para kaum hawa di sekolah ku banyak yang mendekat. Tapi tak ada yang bisa meluluhkan hatiku selain Embun Daniar. Siapa gerangan Embun? jelas kalian tidak akan tau, karena kalian tidak satu seolah denganku.
Beberapa saat kemudian aku mendengar langkah kaki mendekat ke arah kelas ku. Aku dapat merasakan itu. Pujaan hatiku datang, yang tak lain adalah guru matematika ku, yang kabaranya janda beranak satu.
“Selamat pagi anak anak.” benar saja, suaranya terdengar begitu merdu seperti simponi di telingaku.
Embun, wanita behijab dengan usia yang jelas di atasku. Namanya sesuai sekali, wajahnya yang cantik dan sangat menyejukan seperti air embun di pagi hari yang membasahi rumput rumput liar. Sejak awal masuk SMA perasaan suka ini timbul dan terus tumbuh subur seperti di tabur pupuk kandang sampai kini aku akan segera lulus dari SMA ini. Aku cukup sadar diri, tak pernah aku berani mengungkapkan perasaanku, takut jika ibu Embun mengecap ku murid tak sopan.
“Anak anak, keluarkan buku materi kalian ya.” titah bu Embun.
“Arjuna, mana buku materi mu?” tegur bu Embun, membuyarkan lamunanku yang sempat terhipnotis dengan paras cantiknya.
“Maaf bu,” ucapku yang langsung mengeluarkan buku materiku dan megikikuti mata pelajaranya. Dengan fokus aku menyimaknya, bukan menyimak materinya tentunya, tapi menyimak kecantikan dan suara merdunya, membuatku kadang harus mengulang materinya di rumah karena tak ada sedikitpun yang masuk di kepalaku, meskipun aku sudah duduk di bangku paling depan.
***
__ADS_1
Sore hari aku merapihkan bukuku dan hendak menuju parkiran untuk pulang.
Ku lihat bu Embun yang sedang berdiri di luar halaman sekolah menunggu angkutan umum. Bu Embun sepertinya dari kalangan biasa, dia tak pernah membawa kendaraan pribadi ke sekolah, membuat aku merasa iba melihatnya. Rasanya ingin sekali aku beralih profesi mnjadi supir angkutan umum untuk mengantarnya pulang. Aku memicingkan mataku, melihat bu Embun yang sedikit membungkuk dan memegangi perutnya.
Ada apa denganya?
aku segera berlari menghampirinya.“Ibu enggak apa apa?” tanyaku khawatir.
Bu Embun mendongkakan wajahnya membuatku mengucap kata Subhanallah berulang kali dalam hati, parasnya begitu cantik jika di lihat dari dekat. Benar benar ciptaan tuhan yang sempurna.
“Arjuna, kamu belum pulang?”
“Belum, ibu enggak apa apa?” tanyaku kembali menatap wajahnya yang sedikit terlihat pucat.
“Enggak apa apa kok, cuma sedikit nyeri perut.”
“Enggak usah, saya mau langsung pulang saja.”
Ku lihat jalanan yang sepi, tak juga ada anguktan umum yang melintas.“Angkotnya kayanya masih lama, gimana kalau saya antar aja bu?” tawarku khawatir.
“Enggak merepotkan?” tanyanya ragu.
“Enggak kok.” jawabku lugas. justru suatu berkaah jika aku bisa mengantarnya pulang setiap hari. batinku cengegesan.
“Yasudah kalau begitu, maaf ya merepotkan.” bak gayung bersambut. Hatiku bersorak gembira mendengar jawabanya.
“Enggak ngerepotin kok bu, bentar ya saya ambil motor saya dulu.” aku segera berlari secepat kilat menunju parkiran .“Silakan naik bu.” ucapku saat sudah kembali menghampirinya.
__ADS_1
Bu Embun terdiam.
“Arjuna, apa enggak ada motor lain?” tanyanya memandangi motor ninja hatori ku.
“Ada bu.”
“Oya, sudah pakai motor yang lain saja.” balasnya semangat.
“Tapi motor Ridwan bu.” ucapku polos.
Bu Embun menghela nafas kecewa.“Memangnya pakai motor ini kenapa bu?”
“Motornya besar, ibu enggak biasa naiknya, takut jatuh.” jawabnya sedikit malu. Polos sekali jawabanya membuatku gemas ingin menciumnya. Astagfirulloh!!
“Enggak akn jatuh bu, pegangan yang kencang saja ke saya.” sambil menyelam minum air, baatinku.
Bu Embun sesaat terlihat bingung, namun wajahnya semakin terlihat pucat.“Yasudah.” ucapnya kemudian, menaiki motorku.
“Pegangan bu.” ucapku . Bu Embun pun melingkarkan tanganya di pingangku. Membuat bulu kuduk ku merinding bukan karena takut tapi karena tersengat sentuhanya.
“Sudah.”
...“Kita berangkat ya bu.” balasku yang langsung melajukan kuda besiku menuju rumah bu Embun. Ini pasti hari keberuntunganku. batinku senang....
.......
Jadi gimana ? kalian pilih novel baru atau Rai dan kawan kawan? judul yang tepat untuk novel baru apa ya kira kira 🤔😁 tulis komentar kalian ya ✍️ jangan lupa follow IG aku @sheuchull untuk tau seputaran info novel aku yang lainnya..♥️♥️♥️
__ADS_1