
"Sayang, ini bi Tina, dia pembantu kita." Rayyan memperkenalkan wanita paruh baya yang sudah di rekrutnya sebagai pembantu.
"Selamat siang nyonya," wanita itu tersenyum ramah.
"Siang bi, semoga bibi betah ya berkerja di sini." balas Reska ramah.
"Sayang, bi Tina tidak bisa berkerja full time dia hanya berkerja dari pagi sampai sore saja, tidak apa apa kan?" sambung Rayyan.
"Oya, enggak apa-apa kok."
Keesokan harinya bi Tina mulai berkerja di rumah Reska dan melakukan perkerjaannya dengan baik.
"Di minum sayang," Reska meletakkan secangkir cofe di meja ruang keluarga.
"Makasih ya," ucap Rayyan yang tetep sibuk menatap layar laptopnya.
Reska duduk di samping Rayyan tapi Rayyan seolah tak melihatnya dia tetap saja sibuk dengan apa yang di kerjaannya.
"Sibuk banget ya?" sindir pelan Reska.
Rayyan menoleh dan menghentikan perkerjaannya."Maaf ya," ucapnya lembut.
Reska tersenyum tapi dia melihat wajah Rayyan yang terlihat sangat risau malam itu." Ada masalah?" tanyanya menyelidik.
Rayyan menghela nafas."Sedikit,"
"Masalah apa?"
"Ada sedikit masalah pada perusahaan, papa bilang cukup serius, bagaimana ya, aku merasa belum terlalu mengerti tentang perusahaan dan tidak bisa banyak membantu papa," jelas Rayyan.
"Kenapa kamu jadi tidak percaya diri seperti ini?"
"Iya, aku sedang tidak merasa percaya diri."
Reska tersenyum dan mengenggam tangan suaminya itu." Aku yakin kamu cerdas, kamu pasti bisa melakukan yang terbaik." ujarnya memberi semangat.
"Terima kasih ya, mungkin untuk saat ini aku akan lebih fokus berkerja aku akan sedikit sibuk, kamu bisa mengerti kan?" tanyanya seraya menatap tajam mata Reska.
"Iya, aku mengerti." Reska tersenyum simpul.
Hari hari berikutnya Rayyan terlihat sangat sibuk dia kerap pulang telat dan selalu menyelesaikan perkerjaan kantornya kembali di rumah saat sudah pulang. Reska pun merasa sedikit sedih karena merasa Rayyan terlalu sibuk dan tidak terlalu memperhatikannya tapi dia berusaha untuk mengerti. Sore itu Reska merasa sangat lemas dan hanya bisa berbaring di tempat tidur.
"Kayaknya pengen yang segar segar nih.. kayanya aku mau semangka," gumamya seraya mengelus lembut perutnya.
Reska meraih handphonenya dan mencoba menghubungi Rayyan sore itu.
"Halo sayang, kenapa?"
"Sayang kamu sebentar lagi pulang kan? aku mau semangka.. beliin ya," pintanya manja.
"Aku pulang telat aku masih ada urusan, kamu suruh saja bi Tina," tolak Rayyan.
"Ini sudah sore, bi Tina mau pulang aku enggak enak kalau harus menyuruhnya." keluh Reska.
"Ya sudah tunggu aku pulang,"
__ADS_1
"Terlalu lama, bisa tidak pulang dulu sebentar aku mau banget buah itu sekarang,"
"Reska, aku bilang aku tidak bisa pulang sekarang, kamu tidak mengerti?" Rayyan sedikit menekan suaranya.
"Oh yasudah." Reska menutup teleponnya, entah kenapa dirinya kembali merasa sedih. Reska merasa Rayyan terlalu mementingkan perkerjaannya dari pada dirinya yang sedang mengidam saat ini.
"Kenapa Rayyan jadi seperti itu," gumamya seraya menghapus air matanya yang sedikit terjatuh.
Tak lama handphonenya berdering tertera nama papa di handphonenya dan Reska bergegas mengangkatnya.
"Halo sayang, kamu lagi apa?" terdengar suara Kemal di balik telepon.
"Lagi tiduran aja pah,"
"Oh, Rayyan sudah pulang?"
"Belum, katanya masih banyak perkerjaan," lirih Reska.
"Pah, Reska boleh minta tolong enggak?" ucapnya kemudian.
"Minta tolong apa?"
"Reska mau semangka, papa bisa membelikanya?"
Kemal terdiam dan mencoba mengerti kalau putri kesayangannya saat ini sedang mengidam.
"Ya sudah papa belikan sekarang tunggu papa," ucap Kemal yang langsung menutup teleponnya.
"Papa lebih mengerti aku dari pada Rayyan," gumam lirih Reska.
"Sayang, ini papa belikan semangkanya bentar ya papa potong dulu," ucap Kemal yang langsung ke dapur.
"Makasih ya pah," Reska tersenyum sumringah.
Tak lama Kemal datang dengan semangka yang di bawanya." Di makan sayang," sambil memberikan piring yang berisi semangka.
Reska terdiam sejenak.
"Pah, Reska mau yang enggak ada bijinya," tolaknya.
"Yasudah tinggal di singkirkan saja bijinya," sang ayah memberikan solusi.
"Beda pah, baby Reska maunya enggak gitu," mengusap pelan perutnya.
Kemal menghela nafas." Yasudah, tunggu papa belikan lagi," ucap Kemal pasrah.
"Makasih pah," Reska kembali tersenyum sumringah.
Kemal pun kembali bergegas mencari semangka yang di inginkan Reska. Tak lama kemal kembali ke rumah putrinya.
"Di makan sayang," kembali memberikan piring yang berisi semangka pada Reska.
Reska pun dengan semangat mencicipi semangka tersebut.
"Pah, sepertinya Reska mau di buat jus, kayaknya segar deh," pintanya kembali.
__ADS_1
"jus? memangnya enak?"
"Enak mungkin tinggal di bleder di kasih gula atau susu,"
"Sudahlah, tidak enak jus semangka seperti itu."
"Tapi baby Reska maunya gitu," kembali mengelus pelan perutnya.
"Astaga.. bayi si belatung nangka ini banyak maunya." gerutu Kemal dalam hati.
"Ya sudah, tunggu papa buakan," Kemal bergegas membuatkan jus semangka untuk putri kesayangan itu.
"Di minum sayang," kembali memberikan segelas jus yang sudah di buatnya.
Reska pun segera meminumnya.
"Segarnya..makasih pah," ucap Reska dengan senyum cerianya.
Kemal tersenyum melihat sang putri yang tak lagi murung." Rayyan lama sekali pulangnya?" ucapnya seraya melirik arloji di tangannya.
Reska terdiam. "Rayyan selalu sibuk, mungkin Rayyan enggak perduli lagi sama Reska," keluhnya dengan wajah yang kembali murung.
"Sudahlah jangan berfikir macam macam, Rayyan memang sedang banyak perkerjaan." balas Kemal seraya mengusap pelan rambut sang putri.
Tak lama Kemal pun pulang meninggalkan rumah Reska. Hari berikutnya Reska yang sedang menonton televisi merasakan perutnya terasa lapar.
"Aduh lapar, sepertinya tempura enak deh," membayangkan makanan jepang yang tiba-tiba di inginkannya.
Reska pun meraih handphonenya dan segera menghubungi Rayyan.
"Halo sayang, kenapa?"
"Sayang kamu sebentar lagi pulang kan? aku mau tempura ya, di dekat kantor kamu ada restoran Jepang kan?" pintanya antusias.
"Tempura?"
"Iya aku mau itu,"
"Ya sudah aku pesanin aja ya biar kurir yang antar ke rumah, aku masih ada sedikit kerjaan."
"Aku enggak mau kurir yang antar, aku mau suami aku yang belikan!".
"Ya sudah, ya sudah aku selesaikan perkerjaan aku dulu."
Reska dengan cepat menutup teleponnya.
"Perkerjaan, perkerjaan dan perkerjaan, kenapa sih selalu lebih penting perkerjaan dari pada aku!!" gerutu Reska dengan air mata yang tiba-tiba membasahi pipinya.
Malam itu Reska pun menunggu Rayyan pulang sampai dia tertidur. Lalu handphonenya berbunyi Reska segera mengangkatnya.
"Sayang, aku sudah mau pulang tapi restoran Jepangnya sudah tutup, kamu mau di belikan yang lain?" ucap Rayyan di balik telepon.
"Tidak, aku tidak ingin yang lain." lirih Reska yang langsung menutup teleponnya.
"Jelas restorannya sudah tutup ini sudah hampir larut, Rayyan benar benar tidak perduli sama aku lagi sekarang." gumamya dengan isak tangis malam itu.
__ADS_1
Jangan lupa votenya ya guys, biar aku semangat terus up nya.. ❤️❤️❤️❤️