
Malam itu Sabrina masih terus termenung di ranjangnya.
"Sayang, masih cemberut aja." ucap Nanda yang menghampiri Sabrina di ranjang.
Sabrina tersenyum "Enggak kok kak." menyandarkan kepalanya di bahu sang suami dan Nanda mengelus lembut rambutnya.
"Kak," panggil Sabrina.
"Iya, sayang." Sahut Nanda sambil terus membelai lembut kepala sang istri.
"Aku boleh minta sesuatu enggak?"
"Apa pun permintaan mu, aku akan berusaha mengabulkannya." jawabnya penuh percaya diri.
"Besok kan hari libur, aku merasa rumah ini sepi banget, boleh enggak kalau aku ajak Rayyan menginap semalam di sini?" ucapnya sambil menoleh ke arah Nanda.
Nanda tersentak dan menatap Sabrina "Hah? mau Rayyan menginap di sini?" tanyanya tidak percaya.
Sabrina mengangguk" Iya, aku selalu gemas sama Rayyan, bisa enggak ajak Rayyan menginap ke sini?" tanya Sabrina dengan tatapan penuh harap.
Nanda menggaruk kepalanya yang tidak gatal " Gimana ya?" ucapnya binggung yang takut Rayyan membuat kerusuhan di rumahnya.
"Enggak bisa ya? padahal mungkin Rayyan bisa membuat suasana hati ku lebih baik kak." Sabrina memasang wajah memelas yang membuat Nanda tak tega melihatnya.
"Yaudah nanti aku coba bilang Rai sama Dira dulu ya." jawab Nanda yang akhirnya mengiyakan permintaan sang istri.
Sabrina tersenyum dan memeluk Nanda" Makasih ya." ucapnya senang.
***
Kesekokan harinya pagi itu Nanda bergegas ke rumah orang tua Dira karena mereka masih tinggal di sana untuk meminta ijin mengajak Rayyan menginap di rumahnya. Tak lama Nanda sampai di rumah Dira, Nanda mengucap salam dan mengetuk pintu rumah Rai berulang kali. Sampai tak lama Rai membuka pintu.
"Loe? tumben loe ke sini?" tanyanya heran saat melihat Nanda di balik pintu.
"Ada yang mau gue omongin," Nanda bergegas masuk ke dalam rumah sebelum Rai mempersilahkannya masuk dan duduk di sofa.
"Bentar deh gue buatin minum." Rai bergegas menuju dapur dan membuatkan minum untuk Nanda.
Tak lama dia kembali dan menaruh minuman itu di meja, lalu duduk di samping Nanda.
"Mau ngomong apa?" tanya Rai dengan wajah serius.
"Rayyan mana?" Nanda memutar pandangannya tampak rumah yang sepi dan tak ada Rayyan.
"Oh, lagi di halaman belakang sama Dira sama oma nya juga." jawab Rai santai.
"Gue mau ajak Rayyan menginap semalam di rumah gue, Sabrina yang minta. boleh enggak?" Nanda mengutarakan maksudnya.
Rai terkekeh geli mendengar ucapan Nanda " Anak gue emang paling hoki ya, sama kaya gue, ganteng sih kaya gue." Rai tertawa dengan ucapan sombongnya.
"Sabrina enggak bisa hamil." lirih Nanda
__ADS_1
Sontak saja tawa Rai lenyap dan memandang sahabatnya itu dengan lebih serius " Serius loe?" tanyanya tidak percaya.
Nanda mengangguk "Iya, kemarin gue dokter, katanya rahim Sabrina bermasalah." jelas Nanda.
Rai terdiam dan merasa iba yang langsung membayangkan bagaimana jika dirinya yang berada di posisi Nanda sekarang.
"Terus, apa enggak bisa di usahakan lagi?" tanya Rai lebih serius.
"Kata dokter sih bisa, cuma perlu pemeriksaan medis lagi, baru Nanti di berikan metode pengobatannya." jelas Nanda lirih.
Rai tersenyum " Gue yakin, enggak ada yang enggak mungkin selama kita berusaha," Rai memberi semangat seraya menepuk punggung Nanda.
Nanda tersenyum simpul "Jadi gimana? gue boleh enggak ajak Rayyan menginap? kayaknya cuma Rayyan yang bisa buat Sabrina ceria lagi sekarang."
"Gue sih boleh aja, bentar ya gue bilang Dira dulu." Rai bergegas menuju ke halaman belakang dan memamanggil Dira bicara di ruang keluarga.
Rai menceritakan tentang Nanda dan Dira sangat merasa sedih mendengarnya. Dira pun langsung mengijinkan Rayyan untuk menginap di rumah Nanda. Lalu bergegas menyiapkan seluruh perlengkapan Rayyan, memasukkannya ke dalam tas. Mereka pun menghampiri Nanda yang masih menunggu di ruang tamu.
"Nan, nih bawa anak gue." ucap Rai yang mengagetkan Nanda yang sedang melamun.
Nanda menoleh dan melihat Rayyan yang sedang di gendong Rai "Kamu menginap di rumah om ya?" tanya Nanda yang menghampiri Rayyan dan di respon anggukan dari balita ceria itu.
Rai memberikan Rayyan pada Nanda" Jangan nakal ya sayang." pesan Dira yang sebenarnya khawatir jika Rayyan berulah di rumah Nanda.
Dira mencium Rayyan, dan memberikan tas yang berisi perlengkapan Rayyan pada Nanda. Dia pun pamit dan bergegas meninggalkan rumah Dira bersama Rayyan.
"Assalamualaikum." ucap Nanda baru memasuki rumah.
"Walaikumsalam." sahut Sabrina yang melihat Nanda menggendong Rayyan.
Sabrina pun bergegas mengajak Rayyan ke ruang keluarga dan mengajaknya bermain. Nanda tersenyum melihat Sabrina yang tampak ceria menggoda Rayyan.
"Kak, aku cuci piring sama beres beres dapur sebentar ya?" ucap Sabrina pada Nanda yang sedang fokus menonton televisi di ruang keluarga.
"Oh yaudah, Rayyan biar aku yang temanin." Nanda melirik Rayyan yang tampak asik dengan mainan yang di berikan Sabrina.
Sabrina bergegas ke dapur, dan Nanda kembali fokus menonton televisi. Sampai Nanda merasa tak mendengar celoteh Rayyan lagi di dekatnya.
"Sepi banget? jangan jangan hilang lagi tuh anak?" gumam Nanda yang langsung menoleg ke tempat Rayyan duduk.
Dan benar saja Rayyan sudah tidak ada di tempatnya hanya menyisakan mainannya yang berantakan. Nanda bangkit dari sofa dan bergegas mencari Rayyan ke seluruh ruangan. Sampai dia menemukan Rayyan di halaman belakang.
"Ya gusti!!" Nanda seperti merasa serangan jantung mendadak saat melihat Rayyan yang tampak sedang duduk di kolam ikan yang berada di halaman belakangnya.
"Rayyan, kenapa duduk di sana." seru Nanda yang melihat Rayyan dengan semangat mengobok obok kolam tersebut yang membuat ikan ikan di dalamnya seperti tersapu tsunami.
Nanda bergegas mengangkat Rayyan dari kolam ikan tapi Rayyan langsung menangis.
"Rayyan sayang kok nangis?" ucap Sabrina panik yang langsung menghampiri mereka.
"Sayang, Rayyan main di kolam ikan." ucap Nanda gemas.
__ADS_1
"Yaudah, enggak apa-apa kak, nanti langsung aku mandiin jadi enggak kotor." sahut Sabrina yang langsung menaruh Rayyan kembali di kolam ikan, tampak Rayyan yang kembali tertawa ceria.
"Tapi sayang... "
"Udah kak jangan buat Rayyan nangis, aku enggak tega lihatnya." Sabrina langsung memotong ucapan Nanda yang membuat Nanda hanya terdiam dan memandangi ikan ikannya yang cukup mahal tengah terombang ambing dengan sapuan tangan mungil Rayyan.
Setelah cukup lama bermain Sabrina mengangkat Rayyan dari kolam ikan dan segera memandikannya. Sedangkan Nanda terbebelalak kage melihat beberapa ikannya tampak mengambang tanpa nyawa.
"Ya Allah, si manis, si jelita, si manja, si semok.. semuanya mati." ucap Nanda seraya mengambil ikan itu satu persatu dan menguburkan nya.
Selesai mengubur Nanda kembali ke ruang keluarga dan kembali terlihat Sabrina yang masih bermain dengan Rayyan. Nanda hanya membisu merebahkan tubuhnya di sofa merasakan kepalanya yang terasa nyut nyutan memikirkan ke empat ikannya yang harganya cukup mahal kini sudah terkubur di tanah.
"Cemberut aja kak? masih mikirin ikan?" tanya Sabrina yang seolah tau fikiran Nanda.
"Iya sayang."
"Nanti kan bisa beli lagi, aku hari ini senang banget ada Rayyan." Sabrina tersenyum ceria yang membuat Nanda tak tega jika harus menceritakan kegalauan nya.
***
Keesokan harinya sebelum berangkat ke kantor Nanda ke rumah Dira untuk kembali mengantar Rayyan pulang. Nanda mengucap Salam dan mengetuk pintu, Sampai tak lama Rai membukakan pintu.
"Anak papa sudah pulang?" ucap Rai yang langsung menggendong dan mencium Rayyan.
"Dia bersikap manis kan?" tanya Rai pada Nanda yang terlihat murung.
"Manis apaan, ikan gue di kolam pada mati." gerutu Nanda.
"Kok bisa?" tanya Rai heran.
"Bisa lah ikan gue di dudukin sama di obok obok gimana enggak mati, cewek semua lagi yang mati, kasian pada jomblo sisanya." keluh Nanda.
Rai tertawa geli "Dari mana loe tau tuh ikan cewek semua?"
"Tau lag, gue yang punya, sini gantiin 4 ikan totalnya 5 juta." Nanda menedengkan tangannya.
"Ikan apa tuh 5 juta?" Rai terbelalak kaget tidak percaya.
"Ikan mahal lah, sini gantiin gue mau beli lagi." pinta Nanda kembali.
"Sekarang tanggal berapa emang?" tanya Rai dengan wajah serius.
"Ngapain loe nanyain tanggal? tanggal 12, kenapa emang?" tanya Nanda heran.
"Tanggal tua, gue enggak pegang uang."
"Rada rada loe ya, loe kan yang punya perusahaan masa nunggu tanggal gajian juga." ucap gemas Nanda.
"Loe jangan gitu, di atas langit masih ada langit, di atas gue masih ada bokap gue, gue juga di gaji sama dia." Rai mencari alasan.
"Udalah ngomong sama loe lama lama bikin gue khilaf." sahut Nanda yang langsung keluar rumah Rai.
__ADS_1
Rai hanya tertawa melihat Nanda yang berjalan sambil mengoceh dengan wajah kesal.
Aduh.. pegel juga jari, panjang nih ngetiknya.. bantu vote yak biar pegel aku hilang.. 😅😅❤️❤️❤️❤️❤️❤️