One Night Love Tragedy

One Night Love Tragedy
Berdebar-debar


__ADS_3

Deg


Deg


Deg


Jantung Flower terus berdebar-debar saat ia sudah berbaring di atas ranjang sambil membelakangi tubuh Malik. Pelukan Malik yang terasa hangat beberapa saat yang lalu benar-benar sulit ia lupakan dan tak pernah ia duga.


"Apa kau belum juga tidur?" Suara lembut Malik membuat jantung Flower semakin berdebar-debar. Flower mencoba mengabaikan pertanyaan Malik dengan berpura-pura tidur dengan memejamkan kedua kelopak matanya.


Tak mendapatkan sahutan dari istrinya membuat Malik menebak jika istrinya itu sudah terlelap dan Malik tak berniat untuk bertanya lagi.


Jangan mendekat... jangan mendekat. Ucap Flower dalam hati saat merasa ranjang bergerak tanda Malik semakin menggeserkan tubuhnya mendekat padanya.


Dan entah bagaimana kini kondisi jantung Flower saat ia merasakan tangan Malik mengusap lembut perutnya sambil berbisik di belakang tubuhnya.


"Jangan merepotkan Mommymu jika Daddy tidak ada." Ucap Malik lembut.

__ADS_1


Deg


Deg


Flower tak kuasa menahan degub jantungnya saat ini. Ia hanya bisa berharap dan berdoa agar kondisi jantungnya baik-baik saja dan Malik tidak mendengar bunyi detak jantungnya itu.


Setelah merasa cukup mengusap perut Flower yang sudah menjadi kebiasaannya satu bulan belakangan ini, Malik pun menjauhkan tubuhnya dari Flower dan mencoba memejamkan kedua kelopak matanya karena ia harus tidur lebih cepat untuk menyambut keberangkatannya ke desa A besok pagi.


*


Keesokan harinya, Malik terlihat sudah rapi dengan setelan kemeja dan celana kain yang melekat sempurna di tubuh tegapnya. Flower yang melihat suaminya akan pergi tanpa membawa dirinya nampak memendam rasa kesal sekaligus awas jika nanti apa yang dipikirkannya benar-benar terjadi pada Malik selama berada di desa A.


Malik mengangguk saja dan mempersilahkan istri dan mertuanya masuk lebih dulu ke dalam mobil. Ya, sesuai permintaan Flower tadi malam, pagi ini Flower akan pergi mengantarkan Malik menuju perusahaan Bagaskara yang menjadi tempat pertemuan Liza dan Malik sebelum mereka berangkat ke desa A bersama.


Mom Rania yang sejak tadi memperhatikan interaksi anak dan menantunya itu hanya diam sambil menahan senyum karena ia merasa Flower tengah menahan rasa cemburu di dalam hatinya saat ini.


Mobil milik Malik pun mulai melaju meninggalkan perkarangan rumah mereka menuju perusahaan Bagaskara. Selama berada di dalam perjalanan Flower lebih banyak diam karena membayangkan apa yang akan dilakukan suaminya dan Liza saat berada di desa A nanti.

__ADS_1


Tanpa terasa empat puluh menit telah berlalu dan kini mobil milik Malik sudah terparkir di depan perusahaan Bagaskara.


"Kau akan pergi menggunakan mobil Kak Rey?" Tanya Flower saat melihat Liza sudah berdiri di samping mobil milik Rey.


Malik menganggukkan kepalanya sambil membuka sabuk pengamannya. Flower pun turut melakukan hal yang sama lalu keluar dari dalam mobil diikuti Mom Rania setelahnya.


"Tuan Malik, Nona Flower." Liza tersenyum ramah saat Malik dan Flower datang menghampirinya.


Namun bukannya menjawab sapaan Liza, Flower justru menatap Liza dengan datar dan dingin.


"Apa semuanya sudah siap?" Tanya Malik pada Liza.


"Sudah, Tuan. Kita tinggal berangkat saja." Jawab Liza ramah.


Flower memandang tak suka interaksi suaminya dan Liza saat ini.


"Flower, percayalah jika Malik tidak akan berbuat macam-macam seperti apa yang kau pikirkan saat ini." Ucap Mom Rania sedikit berbisik pada Flower.

__ADS_1


***


__ADS_2