
"Membuat keributan?" Tanya Flower lalu mengalihkan pandangannya ke arah lain. "Tidak penting sekali." Lanjutnya kemudian.
"Kau pasti ingin membuat keributan di sini denganku bukan?" Ulangnya lagi memanbah kata untuk tuduhannya.
Flower hanya diam merasa malas menanggapi wanita di depannya saat ini.
Melihat Flower yang acuh saja dengan tuduhannya membuat wanita itu menggeram. Ia menatap ke sekitarnya dan untung saja suasana di loby saat itu sedang sepi.
"Ayo jawab, untuk apa kau datang ke sini?" Tanyanya sedikit menekan.
"Apa pun urusanku datang ke sini itu bukanlah urusanmu!" Jawab Flower.
"Oh aku tahu, kau pasti datang ke sini untuk menemui selingkuhanmu bukan?" Tanya wanita itu dengan sinis.
"Selingkuhan?" Flower pun bangkit dari duduknya merasa geram dengan tuduhan wanita di depannya saat ini. "Jaga ucapanmu!" Tekannya sambil menunjuk wajah wanita itu.
__ADS_1
Wanita itu tersenyum miring. "Kenapa kau marah? Ternyata apa yang aku katakan itu benar hingga kau marah seperti ini." Sindirnya.
Flower semakin dibuat geram. Hormon kehamilannya saat ini yang sedang tidak stabil benar-benar membuatnya mudah naik darah apa lagi saat mendengar tuduhan tak berdasar dari wanita di depannya saat ini.
"Dasar wanita tidak tahu malu. Setelah kau berhasil merebut kekasihku dengan menjual tubuhmu kini kau mencoba merebut kekasih orang lain dengan datang ke perusahaan ini." Ucapnya sinis.
Plak
Sebuah tamparan cukup keras mendarat di pipi Emila. "Jaga perkataanmu atau kau akan tahu akibatnya!" Ucap Flower dengan tatapan yang sudah berubah tajam. Sungguh saat ini ia tidak bisa mengontrol emosinya karena dituduh yang bukan-bukan oleh wanita yang tak lain adalah mantan kekasih suaminya. Siapa lagi jika bukan Emila.
"Ada apa ini, Emila?" Tanya wanita itu pada Emila. Wanita itu pun menatap pada Flower. Ia sepertinya sama seperti Emila tidak mengetahui siapa wanita di depan mereka saat ini.
"Kau ingat dengan pembicaraan kita tempo hari tentang wanita yang sudah merebut kekasihku bukan?" Tanya Emila pada wanita itu.
Wanita itu menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
__ADS_1
"Nah, inilah wanita yang telah merebut kekasihku itu. Lihatlah perutnya saat ini. Perutnya membuncit saat ini karena dia telah berhasil menjual tubuhnya dengan kekasihku hingga kekasihku terpaksa harus menikahinya." Ucap Emila berapi-api.
"Kau..." Flower semakin menggeram. Ia hendak melayangkan kembali tangannya di pipi Emila namun niat itu ia urungkan karena tidak ingin emosinya semakin meluap.
"Kenapa? Apa yang aku katakan itu benar bukan?" Emila terlalu puas menghakimi Flower hingga tidak sadar dengan keberadaan mereka saat ini.
Flower mencoba mengatur nafasnya yang naik turun. "Ya, jika aku sudah menjual tubuhku pada Malik hingga aku hamil saat ini kau mau apa? Ku merasa iri karena akhirnya aku bisa mendapatkan Malik walau dengan cara licik. Sedangkan kau tidak berhasil mendapatkanya. Agh, menyedihkan sekali." Flower memilih mengikuti permainan Emila. Tidak perduli jika ia merendahkan dirinya sendiri saat ini.
"Dasar mura-han!" Emila menggeram.
Suara keributan mereka pun terdengar oleh seseorang yang baru saja masuk ke perusahaan dan orang itu segera menghampiri mereka.
"Ada apa ini?" Tanya seorang wanita yang sangat Flower ketahui siapakah dirinya. "Nona—" ucapan wanita itu terhenti saat Flower memberikan isyarat dengan lirikan matanya agar tak melanjutkan perkataannya.
***
__ADS_1
Sambil menunggu Flow dan Malik update kembali, silahkan mampir ke karya baru SHy judulnya Istri Figuran ya🤗