One Night Love Tragedy

One Night Love Tragedy
Dia pasti senang


__ADS_3

"Ada apa?" Tanya Malik.


"Emh, itu." Flower merasa bingung harus mengatakan apa.


"Itu apa?" Tanya Malik dengan kening mengkerut.


"Emh..." Flower menggaruk-garukkan kepalanya merasa bingung harus bertanya seperti apa.


Malik pun menatap Flower intens seolah menunggu jawaban dari Flower.


"Agh, tidak jadi. Ayo kita pergi saja." Flower memilih tak melanjutkan pertanyaannya karena ia merasa malu untuk mempertanyakannya.


Melihat istrinya yang tidak berniat melanjutkan pertanyaannya kembali membuat Malik menghela nafas dan melanjutkan langkahnya.


Bagaimana bisa bekas itu hilang di leher Malik? Tanya Flower dalam hati. Tak berselang lama setelah memperhatikan leher Malik, Flower pun menghela nafas karena kini ia tahu penyebab mahakaryanya bisa hilang di leher Malik.

__ADS_1


Apa Malik sudah menutupinya sejak ia berangkat bekerja? Kalau begitu apa sekretaris dedemit itu tidak melihat mahakaryaku. Agh, sungguh tidak asik. Gerutu Flower dalam hati. Moodnya yang sudah buruk bertambah buruk karena memikirkan usahanya tadi pagi sia-sia karena Malik telah menutupi bekasnya hingga tidak dapat terlihat oleh orang lain.


*


Perusahaan Arnold


Arini yang mendapatkan perintah dari Flower untuk menyampaikan pada Mom Rania jika ia sudah pergi meninggalkan perusahaan tentu saja langsung menyampaikan pesan itu saat sudah berada di ruangan William.


"Apa? Putri saya pergi begitu saja tanpa berpamitan pada saya lebih dulu?" Mom Rania dibuat terkejut mendengarnya.


"Kenapa kau membiarkan Flower pergi begitu saja? Kenapa tidak memberitahu saya lebih awal? Dan kenapa dia bisa pergi? Apa ada yang mengganggunya atau membuatnya tidak nyaman saat berada di lobby tadi?" Mom Rania mencecar Arini dengan banyak pertanyaan.


Arini terpaksa menggelengkan kepalanya karena ia sudah berjanji pada Flower untuk tidak menceritakan apa yang terjadi pada Mom Rania. "Nona Flower hanya ingin pergi ke tempat suaminya bekerja saja, Nyonya." Jawab Arini sedikit terbata.


"Flower... kenapa kau pergi. Mom kan sudah memintamu untuk menunggu sebentar." Ucap Mom Rania.

__ADS_1


"Maafkan saya Nyonya karena tidak bisa menahan Nona Flower untuk pergi." Sesal Arini.


"Tak masalah. Itu juga karena saya terlalu lama membuatnya menunggu." Jawab Mom Rania. Mom Rania pun mengalihkan pandangan pada Dad William yang hanya diam saja.


"Aku ingin pergi menyusul Flower ke perusahaan Bagaskara. Apa kau mau ikut?" Tanya Mom Rania.


Tanpa diduga Dad William menganggukkan kepalanya menyetujui ajakan Mom Rania. Melihat itu tentu saja membuat Mom Rania merasa senang. Ia yakin jika Flower pasti senang jika dihampiri Daddynya saat ini. Dan selain itu, Mon Rania juga tahu Dad William tidak menaruh rasa cemas dengan kepergian putrinya karena ia sudah meminta beberapa pengawalnya untuk tetap mengawasi Flower dari jauh.


Setelah berpamitan pada Arini untuk pergi ke perusahaab Bagaskara, Mom Rania pun langsung mengajak Dad William untuk pergi dan tak lupa membawa kembali rantang yang baru beberapa saat yang lalu ia letakkan di atas meja sofa. Ya, Mom Rania berniat untuk mengajak Dad William makan di perusahaan milik Gerry saja.


Beberapa saat berlalu, kini Mom Rania dan Dad William sudah masuk ke dalam perusahaan Bagaskara. Tentu saja melihat kedatangan sepasang suami istri itu membuat para karyawan yang sedang berlalu lalang memberikan sapaan pada mereka.


"Tunggu sebentar." Dad William menghentikan langkah Mom Rania setelah membaca pesan dari orang suruhannya yang memberitahu jika Malik dan Flower saat ini tidak berada di perusahaan melainkan tengah berada di resto yang dekat dengan perusahaan Bagaskara.


***

__ADS_1


Sambil menunggu Flow dan Malik update kembali, silahkan mampir ke karya baru SHy judulnya Istri Figuran ya🤗


__ADS_2