
Satu minggu telah berlalu sejak Flower mengatakan rasa kecemasannya pada Malik. Dan semenjak hari itu pula sikap Flower semakin berubah manja pada Malik bahkan kini suka menangis jika berjauhan dari Malik. Entah apa yang Flower rasakan saat ini. Yang jelas ia sangat tidak ingin berjauhan dari suaminya itu dan selalu ingin dekat dengannya. Dan tentu saja perubahan sikapnya itu selalu Flower atas namakan dengan kemauan anak mereka.
Malik pun tak mempermasalahkan sikap Flower itu karena menurutnya itu adalah hal yang wajar dialami ibu hamil pada umumnya. Terlebih Malik sudah melihat perubahan sikap Yura pada Rey saat mengandung si kembar dulu.
Dan seperti hari yang sudah berlalu, hari ini Flower kembali bersikap manja bahkan merengek layaknya anak kecil saat Malik hendak pergi bekerja.
"Flower, sebenarnya kau ini ingin apa? Ayo katakan aku sudah tidak punya waktu lama." Ucap Malik merasa frustrasi dengan sikap istrinya itu.
"Tadi malam aku kembali bermimpi kau bermesaraan dengan sekretaris baru itu." Ucap Flower memasang wajah masamnya.
"Astaga..." Malik hanya bisa menghela nafas. "Flower, itu hanya mimpi bukanlah sebuah kenyataan." Ucap Malik karena sudah hampir tiga hari ini Flower memimpikan hal yang sama.
__ADS_1
Flower masih memasang wajah masam seolah mimpinya itu benar-benar nyata. Tak hanya wajahnya saja yang masam kini kedua bola matanya turut berkaca-kaca karena Malik seperti tak memperdulikan mimpi buruknya.
"Baiklah, baiklah, sekarang ayo katakan kau ingin apa?" Tanya Malik pasrah. Pasti ada satu hal penting yang diinginkan istrinya itu saat ini.
"Aku ingin ikut denganmu." Jawab Flower cepat.
"Apa?" Malik terbelalak. Yang benar saja istrinya itu ingin ikut dengannya bekerja.
"Tapi aku akan pergi bekerja bukan pergi bermain, Flow." Malik merendahkan suaranya berharap Flower mengerti. Lagi pula yang benar saja ia akan membawa Flower ke perusahaan Bagaskara.
"Kau bisa meminta izin pada Kak Rey. Apa kau tidak ingat saat Yura hamil dulu dia sering datang ke perusahaan karena merindukan Kak Rey." Ucap Flower.
__ADS_1
Malik terdiam beberapa saat. Menolak permintaan istrinya rasanya tidak mungkin karena ujungnya Flower pasti menangis. Dan mengiyakannya apakah mungkin? Karen tidak punya pilihan lain Malik pun memilih menelefon Rey lebih dulu dan meminta izin membawa Flower ke perusahaan.
Untung saja Rey yang sedang berada di perjalanan mengangkat panggilan telefon darinya dan langsung mengiyakan permintaan Malik. Tentu saja persetujuan dari Rey membuat Flower tersenyum penuh kemenangan karena ia bisa ikut bersama suaminya itu dan melaksanakan misinya di perusahaan Bagaskara nanti.
"Kalau begitu aku siap-siap dulu. Aku janji tidak akan lama." Ucap Flower lalu melangkah ke arah kamar mereka sambil memegang pinggangnya.
Malik menggelengkan kepalanya seraya tersenyum tipis. Padahal ia belum mengatakan apa-apa tapi Flower sudah mengambil keputusan sesukanya. Malik pun tak mempermasalahkannya asal Flower dan bayi mereka bahagia.
Sambil menunggu Flower bersiap Malik memilih menghampiri Suroh yang sedang berada di depan rumah untuk membereskan piring bekas mereka karena Flower tidak sempat mengerjakannya. Tak lupa Malik juga meminta Suroh untuk tidak membuatkan makan siang untuk mereka karena hari ini mereka tidak makan siang di rumah.
***
__ADS_1
Sambil menunggu Flow dan Malik update kembali, silahkan mampir ke karya baru SHy judulnya Istri Figuran ya🤗