
Flower pun melangkah mendekati Malik tanpa menjawab pertanyaan Malik. "Sudah. Apa kau masih lama?" Tanyanya sambil menatap tajam wanita yang kini berdiri di depan Malik.
"Sebentar lagi." Jawab Malik lalu mengalihkan pandangan pada Liza. "Sekarang kau boleh keluar. Pastikan jika berkas-berkas ini lengkap dan tidak ada yang tertinggal." Titah Malik.
"Baik, Tuan." Jawab Liza patuh sambil tersenyum manis pada Malik.
Flower yang melihat senyuman Liza untuk Malik pun dibuat kesal sampai tak sadar mengepalkan sebelah tangannya.
"Nona Flower, saya pamit keluar dulu." Ucap Liza sambil tersenyum kaku pada Flower.
"Ya, keluarlah. Aku merasa pengap saat ini." Jawab Flower yang membuat Liza bingung mendengarnya.
"Pengap? Maksud anda, Nona?" Tanya Liza.
"Tidak ada. Sekarang keluarlah." Flower melambaikan tangan di udara tanda mengusir Liza.
Liza pun akhirnya keluar dari dalam ruangan kerja Malik dengan menahan rasa kesal dan tak percaya. Kesal karena perlakuan Flower padanya dan tak percaya jika apa yang Flower katakan tadi benar adanya jika Malik sudah menikah dengan Flower bahkan kini Flower tengah mengandung anak dari Malik.
__ADS_1
"Jika Tuan Malik dan Nona Flower sudah menikah lalu kenapa Tuan Malik tidak mengubah identitas dirinya?" Ucap Liza bertanya-tanya.
Sementara di dalam ruangan kerja Malik, Flower terlihat menatap tajam pada Malik yang tengah berdiri menatapnya.
"Ada apa?" Tanya Malik datar.
"Tidak ada." Jawab Flower sedikit ketus lalu menjatuhkan bokongnya di atas sofa.
Malik pun turut melakukan hal yang sama lalu merapikan berkas yang sedikit berserakan di atas meja.
Kening Malik mengkerut mendengarnya. "Maksudmu?" Tanya Malik.
"Ck." Flower berdecak merasa kesal pada suaminya yang seperti orang tidak peka. "Tidak ada. Sekarang cepatlah selesaikan pekerjaanmu karena aku ingin pulang." Ucap Flower.
"Tunggulah sebentar." Jawab Malik.
Flower mengadahkan tangannya pada Malik. "Berikan aku uang. Aku bisa pulang sendiri tanpa diantarkan olehmu." Ucap Flower.
__ADS_1
Malik menatap datar istrinya itu. "Aku akan mengantarkanmu pulang." Ucapnya tegas tanpa bantahan.
"Jika kau ingin mengantarkanku pulang maka antarkan aku sekarang juga. Apa kau tahu jika anakmu ini sudah tidak ingin berada di sini. Sekarang perutku terasa mual dan ingin muntah. Bukan hanya itu saja, aku juga ingin menidurkan tubuhku yang sudah lelah ini." Ucap Flower panjang lebar dengan cepat.
Malik menghela nafas mendengar perkataan istrinya. "Baiklah. Ayo pulang." Jawab Malik tak ingin membuat mood istrinya yang sedang hamil itu semakin memburuk karena dirinya tak menuruti keinginannya.
Flower pun segera bangkit dari duduknya. "Ayo." Jawabnya kemudian.
Malik mengangguk lalu bangkit dari duduknya. Ia pun melangkah ke arah meja kerjanya untuk mengambil kunci mobilnya di sana. Setelahnya Malik dan Flower pun keluar dari dalam ruangan kerja Malik.
"Apa?" Begitulah kira-kira arti tatapan Flower pada Liza saat mereka beradu tatap saat Flower sudah keluar dari dalam ruangan kerja Malik.
Flower pun mengalihkan pandangannya dari Liza lalu mengikuti Malik dari belakang.
Saat berada di dalam lift yang akan membawa mereka ke lobby perusahaan, Flower kembali mengadahkan tangan pada Malik. "Malik, berikan aku uang. Tadi saat makan siang di kantin aku berhutang pada Andini untuk membayarkan makan siangku." Pinta Flower pada Malik tanpa rasa malu.
***
__ADS_1